MASINTON BOGEM STAF : Masinton Vs Dita: Soal Mabuk Hingga Pemegang Setir, Mana yang Benar?
Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDIP Masinton Pasaribu di Gedung Parlemen beberapa waktu lalu. (JIBI/Solopos/Antara/Puspa Perwitasari)

Masinton bogem stafnya, Dita Aditia Ismawati, masih diwarnai dua keterangan yang berbeda.

Solopos.com, JAKARTA -- Laporan Dita Aditia Ismawati soal dugaan pemukulan oleh Masinton Pasaribu ke LBH Apik Jakarta menunjukkan perbedaan dibandingkan pengakuan kubu Masinton. Dita mengaku dipukul Masinton dan naik mobil yang dikemudikan sendiri oleh politikus PDIP itu. Sedangkan kubu Masinton menyebut memar di mata Dita akibat tak sengaja terkena tangan staf lainnya, Leo.

Direktur LBH Apik, Ratna Batara Munti, dalam wawancara yang tayangkan live oleh TV One dari kantor LBH itu, Senin (1/2/2016) siang, menyebut Masinton lah yang memegang setir mobil. Dita juga mengaku tidak hanya mengalami pemukulan. Sepanjang dia bekerja sebagai asisten Masinton, dia mengalami tekanan psikis, bahkan terkait hal-hal yang di luar hubungan pekerjaan sebagai asisten atau staf.

"Misalnya dia ditanya posisi di mana? Sama siapa? Kenapa belum pulang? Itu tidak pantas ditanyakan apa lagi di luar jam kerja," sambung Ratna.

Menurut Ratna, Dita memiliki teman yang aktif Partai Nasdem sehingga sering berkomunikasi dengan temannya itu. Saat sedang hangout dengan teman-temannya, Dita pun dicurigai dan dipantau. Bahkan, dia dijemput paksa seperti kejadian yang berujung pemukulan.

"Pada kejadian 21 [Januari 2016], dia tidak menginginkan untuk dijemput, dia tidak tahu disuruh pulang. Tiba-tiba, dia dibawa pulang dan tidak diturunkan di rumahnya, dia minta diturunkan di apartemen," sambungnya.

Menurut Ratna, saat itu mobil dikemudikan oleh Masinton sendiri. "Akhirnya dia sepanjang perjalanan hanya berdua, disopiri Masinton, korbannya sebelah kiri, dia terus diteror kata-kata 'anjing, ngapain kamu di situ'. Dia lelah dalam kondisi itu dia merasa tidak layak [diperlakunan seperti itu]."

Namun, tuduhan pemukulan tersebut dibantah staf ahli Masinton di DPR Abraham Leo Tanditasik. Leo menuturkan pada 21 Januari, dirinya satu mobil dengan Masinton menuju perjalanan pulang ke rumah jabatan anggota DPR di Kalibata. Sekitar pukul 23.00 WIB, Dita yang terdaftar sebagai asisten pribadi Masinton meneleponnya untuk meminta dijemput ke Camden Bar di Jl. Cikini II Menteng.

"Penjelasan Dita ke saya via telepon, minta dijemput karena kondisinya mabuk berat," kata Leo dalam keterangan tertulis, Minggu (31/1/2016).

Menurut dia, lantaran sudah malam Masinton pun mengantarkan ke Jl. Cikini II. Saat tiba di depan Camden Bar Cikini, sopir Masinton bernama Husni menjemput Dita ke dalam bar. Kemudian Dita menuju mobil Masinton Pasaribu dalam keadaan sempoyongan dan langsung duduk di depan di samping kiri sopir. Baca juga: Diteriaki “Anjing” Oleh Masinton, Ini Beda Keterangan Versi Dita.

"Dita minta bantu ke sopir agar mobilnya diambilkan di lokasi parkiran kantor DPP Partai Nasdem di Menteng," katanya. Leo mengatakan setelah itu dirinya membawa mobil Masinton mengarah ke kantor DPP Partai Nasdem. Sementara itu, Dita duduk di depan, sedangkan Husni dan Masinton duduk di belakang.

"Setelah ke luar dari parkiran kantor Nasdem, mobil berjalan beriringan. Mobil Dita yang dikemudikan Husni berjalan di belakang mengikuti mobil Pak Masinton," katanya. Baca juga: Pantau Kasus Masinton, MKD Tunggu Laporan Dita.

Leo mengungkapkan sepanjang perjalanan menuju Cawang, Dita yang tengah mabuk kerap berteriak histeris, tiba-tiba tertawa sambil membesarkan volume tape mobile. "Di saat mobil yang saya kemudikan melintasi Jl. Otista, sambil berteriak histeris, Dita bergerak tiba-tiba menarik setir mobil yang saya kemudikan," katanya.

"Mobil oleng ke kiri jalan dengan sigap dan refleks saya mengerem mendadak sambil menepis tangan Dita yang dalam posisi menarik setir. Tepisan tangan kiri saya mengenai tangan dan wajah Dita. Dita teriak histeris, Pak Masinton berupaya menenangkannya," ujarnya.

"Saya dan Pak Masinton membesuk Dita yang dirawat selama dua hari dan dua malam. Berhubung kondisi memar di sekitar mata sudah membaik atas saran dokter Dita diperbolehkan pulang," katanya.

Menurut dia selama masa pemulihan Dita disarankan beristirahat dan tak diperkenankan masuk kerja. "Kronologis peristiwa pemukulan terhadap Dita ini saya sampaikan sebenar-benarnya dan sesuai fakta," katanya.

Sabtu (30/1/2016), Dita melaporkan politikus PDIP itu Bareskrim. Dalam laporan polisi bernomor LP/106/1/2016 itu, Masinton dilaporkan perkara dugaan penganiyaan sebagaimana dimaksud pasal 351 KUHP. Hari ini, Dita juga melaporkan kasus itu ke LBH Apik Jakarta.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom