Masih Berani Sombong di Hadapan Allah, Buat Apa?
Ilustrasi orang sombong (Medium)

Solopos.com, SOLO – Sombong adalah salah satu sifat manusia yang amat dibenci Allah. Meski demikian, kesombongan seringkali muncul tanpa disadari. Padahal, orang yang mengakui keagungan Allah sebenarnya tidak mungkin berani sombong.

Dalam Islam, mengagungkan Allah dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya mengucap kata takbir. Takbir berasal dari kata kabbara, yukabbiru, takbiran, dalam bahasa Arab yang berarti mengagungkan. Jadi, kalimat takbir, Allahuakbar, diartikan mengagungkan Allah atau me-Maha-Agungkan Allah.

Peenerjemahan tersebut tidak bermasalah. Namun, akan menjadi masalah jika seseorang menyimpulkan Allah menjadi Maha Agung karena Dia mengagungkan diri-Nya.

Padahal kenyataannya, jika misalnya tidak ada seorang pun yang bertakbir dan mengaungkan-Nya, Allah tetap Maha Agung,” terang Rais Syuriyah Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Karanganyar, KH. Ahmad Hudaya, kepada Solopos.com, Kamis (9/5/2019).

Tetapi, jika seluruh manusia bertakbir mengagungkan Allah, itu pun tidak akan menambah atau mengubah sifat-Nya yang Maha Agung. Selain itu, apalagi makna takbir yang harus dipahami seorang manusia?

Dosen ilmu tasawuf dan hadis di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta itu menjelaskan, takbir bermakna saat seseorang mengakui ke-Maha Agung-an Allah. Pengakuan itu tentu tidak sekadar melalui ucapan kata takbir.

“Takbir hanya akan muncul jila ada pelibatan pikiran dan hati. Takbir hanya lisan secara lahiriah tentu baik. Bagaimana tidak baik, itu kan kalimat agama. Namun, tidak akan bermakna bagi si pengucap jika hanya di lisan atau sekadar lip service,” sambung KH. Ahmad Hudaya.

Jika takbir muncul dan menggema dalam pikiran dan hati, maka akan menjadi energi yang mengubah kinerja seseorang dalam kehidupan. Sebab, saat menyadari ada di hadapan Allah yang Maha Agung, maka dia akan merasa kecil, kerdil, dan lemah.

Orang yang menghayati makna takbir seperti itu tidak mungkin menyombongkan diri atau kementhus. Dia tentu akan menghiasi dirinya dengan sifat rendah hati atau tawadhu. Ya Allah, ampuni kami,” pungkas KH. Ahmad Hudaya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom