Spanduk provokatif yang terpasang di Desa Rembun, Kecamatan Nogosari, Boyolali. Spanduk tersebut muncul di masa tenang pilkades, Kamis (27/6/2019)

Solopos.com, BOYOLALI—Masa tenang pemilihan kepala desa (pilkades) dimulai Kamis (27/6/2019) hingga Jumat (28/6/2019).

Meski sudah memasuki masa larangan kampanye, sejumlah spanduk dan poster bergambar calon kades masih banyak ditemui di ruang-ruang publik.

Bahkan di salah satu desa di Nogosari bermunculan spanduk dengan nada-nada provokatif. Sejumlah kalangan menyayangkan perilaku calon kades yang tidak tertib menaati jadwal yang telah ditetapkan.

Spanduk provokatif itu muncul di Desa Rembun, Nogosari. Sejumlah spanduk yang dipasang oleh salah satu pendukung calon kades itu di antaranya berbunyi, ‘Ora ana keluwihan kejobo pinter gawe hoax lan ngudani duit nalika ndue pamrih’ (tidak ada kelebihan kecuali pintar menyebar hoaks dan memberi uang ketika memiliki keinginan) dan ‘Langkah serta kreasi kami tetap selalu mengawal yang terbaik, bukan mencetak pecundang’.

Untuk diketahui, masa kampanye calon kades hanya berlangsung selama dua hari yakni Selasa-Rabu (25-26/6/2019). Dalam masa kampanye, tiap-tiap cakades boleh memasang poster, melakukan orasi, dan memaparkan visi-misi untuk menarik simpatisan.

Jadwal kampanye antarcalon kades pun bisa disepakati bersama panitia desa untuk menjaga kondusivitas dan mencegah konflik sosial antarwarga.

Peraturan ini telah disosialisasikan Pemkab kepada calon kades, pemerintah desa, serta jajaran forum komunikasi pimpinan kecamatan (Forkopimcam).

Namun kenyataannya, pelanggaran terhadap aturan masa kampanye terjadi di sejumlah desa. Sebelumnya, meski masa kampanye belum dimulai, beberapa poster bergambar cakades sudah tampak di jalan-jalan utama berbagai wilayah, di antaranya Kecamatan Ngemplak, Kecamatan Simo, Kecamatan Juwangi, dan Kecamatan Nogosari.

Kondisi serupa juga terlihat pasca berakhirnya masa kampanye pada Kamis (27/6/2019). Spanduk-spanduk yang mestinya dicopot, selama masa tenang kemarin justru bertambah banyak.

Misalnya di wilayah Desa Sindon, Ngemplak, spanduk tiga orang calon kades berjajar di jalan utama desa. Mereka adalah Supardi, Habib Al Masykuri, dan Musa.

Hal serupa juga terjadi di Desa Pojok, Nogosari, yang masih ditemukan empat foto calon kades yang berjajar di beberapa tempat. Mereka adalah Jumangin, Sumardi, Kaeko Doso Sapto, dan Fitriyanto. Selain Pojok, foto calon kades di wilayah Nogosari juga ditemukan di Desa Rembun, dan Keyongan.

Di Kecamatan Simo, tepatnya di Desa Sumber, poster bergambar calon kades Sadjidan bahkan ditemukan di dekat balai desa setempat.

Panitia Pilkades Bolo, Wonosegoro, mencopoti sejumlah spanduk milik tiga orang calon kades, yakni Mulyono, Haryanto, dan Muhsinin.

Poster

Salah satu anggota panitia pilkades Bolo, Sunarso, mengatakan sebelumnya panitia pilkades telah memberi imbauan kepada calon kades beserta pendukungnya.

“Namun tidak ada yang tertib, dan pada akhirnya kami copoti sendiri,” ungkap Sunarso. Padahal, seusai masa kampanye calon kades wajib merapikan kembali atribut yang telah dipakainya baik itu poster, spanduk, maupun kertas.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Purwanto mengatakan aturan dalam pilkades hanya memperbolehkan calon kades memasang atribut kampanye dalam dua hari.

“Ya pas kampanye itu, kalau mendahului atau belum dicopot setelah masa kampanye selesai itu namanya melanggar tata tertib,” ungkap Purwanto. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten