Buruh tani memanen padi di sawah Kamoyo di Dukuh Kepoh, Desa Bowan, Kecamatan Delanggu, Klaten, Minggu (26/5/2019). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Para petani di Desa Bowan, Kecamatan Delanggu, Klaten, dibuat jengkel dengan maraknya aksi pencurian padi di sawah mereka belakangan ini. Pencuri mengambil padi di sawah dan hanya menyisakan jerami.

Salah satu petani yang menjadi korban pencurian padi itu adalah Kamoyo, 62. Pria yang tinggal di Dukuh Kernen, Desa Bowan, Kecamatan Delanggu, Klaten, itu tak habis pikir dengan perilaku pencuri yang membabat sebagian padi hasil tanamnya.

Rasa jengkelnya kian menjadi ketika ia mengingat pencuri yang meninggalkan sisa hasil panen padi yang dicuri berupa jerami di tepi tanaman. “Yang membuat saya jengkel itu jeraminya diletakkan di tepi tanaman. Padi yang masih melekat pada jerami tidak diambil. Yang diambil itu padi yang kualitasnya bagus, sudah rontok,” kata Kamoyo saat ditemui Solopos.com di pematang sawah garapannya, Minggu (26/5/2019).

Meski jengkel, petani berkacamata itu mengumpulkan jerami yang ditinggalkan pencuri. Setelah semua terkumpul, ia membakar jerami-jerami tersebut dengan harapan bisa membuatnya lega.

“Selama saya menjadi petani baru kali ini ada kejadian seperti ini,” kata pria yang sudah 20-an tahun menjadi petani itu.

Kamoyo merupakan satu di antara tiga petani Desa Bowan yang menjadi korban pencurian padi. Modus pencuri yakni memanen padi di sawah. Diduga pelaku memanen padi lantas dirontokkan di lokasi yang sama.

Proses perontokan padi diperkirakan dilakukan dengan cara diinjak-injak. Padi yang rontok dipilih dan dimasukkan pencuri ke wadah. Sementara jerami dari tanaman padi yang dipotong ditinggalkan di tepi sawah.

Para pencuri pergi dengan membawa gabah yang sudah bersih. Tak ada yang mengetahui siapa sosok pelaku. Aksi itu dilakukan pencuri saat malam atau saat mayoritas petani serta warga tak beraktivitas di sawah dan kondisi hari gelap sehingga mereka leluasa melancarkan aksi.

Aksi pencurian padi di Bowan terjadi selama sepekan lalu. Kamoyo menjadi korban ketiga. Korban pertama pencuri itu adalah Suman. Sebagian tanaman padi milik Suman dibabat pencuri pada Senin (20/5/2019) malam.

Selang semalam, petani bernama Harjuki menjadi korban selanjutnya. Sebagian tanaman padi di sawahnya juga dicuri. Pada Rabu (22/5/2019) malam, giliran Kamoyo menjadi korban. Di sawah yang digarap Kamoyo, pencuri tak hanya datang semalam.

Pencuri kembali ke sawah yang digarap Kamoyo pada Kamis (23/5/2019) malam. Lokasi sawah yang disambangi pencuri berada di belakang SDN 1 Bowan yang berbatasan dengan tepi jalan raya Klaten-Solo.

Kali pertama Kamoyo mengetahui padi yang ia tanam menjadi sasaran pencuri ketika ia dilapori petani lainnya bernama Sri yang menggarap lahan di samping lahan garapannya. Pagi-pagi Sri mendatangi rumah Kamoyo menyampaikan kabar buruk.

“Yo..Yo.. parimu diiriti wong [padimua dipanen orang lain],” kata Kamoyo menirukan pesan Sri.

Kamoyo lantas mengecek sawahnya dan mendapati sebagian padi yang ia tanam sudah terpotong dengan jerami bertebaran di tepi sawah. Pada hari berikutnya, ia mendapati padi di sisi lain sawah garapannya terpotong.

Padi yang dicuri tak terlampau banyak. Jika ditotal padi yang dicuri diperkirakan hanya 30 kg. Sementara hasil panen dari 1 patok (1.800 meter persegi) sawah bisa mencapai 7 kuintal.

Kamoyo sudah mengikhlaskan padi yang ditanam dan dirawatnya sebagian hilang dicuri. Meski tak banyak dan sudah ikhlas, Kamoyo bisa terus merugi dan tak bisa menikmati hasil panen dari dua patok sawah yang ia garap jika aksi pencurian tersebut dibiarkan.

Apalagi, ia juga butuh dana untuk menghadapi Lebaran. Alhasil, Kamoyo memilih menyegerakan panen pada Minggu (26/5/2019). “Semestinya Rabu [29/5/2019] baru panen,” tutur dia.

Petani lainnya yang menjadi korban pencurian, Harjuki, 66, mengatakan tak banyak padi yang dicuri. Ia menilai pencuri tak profesional meski memiliki pengalaman memotong tanaman padi.

Harjuki merugi sekitar 30 kg padi yang ia tanam. “Kalau profesional pastinya diambil banyak. Mungkin hanya untuk memenuhi kebutuhan saja,” kata Harjuki saat ditemui di rumahnya di Dukuh Kepoh.

Harjuki menuturkan aksi pencurian tanaman padi tersebut tak dilaporkan ke polisi lantaran tak banyak padi yang dicuri. Namun, beberapa malam terakhir petani di Bowan meningkatkan kewaspadaan dengan rutin melakukan patroli ke sawah mereka untuk memastikan tak menjadi korban pencurian berikutnya. “Hanya menyambangi sawah saja saat malam,” urai dia.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten