Dwi Supriyadi/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (12/8/2019). Esai ini karya Dwi Supriyadi, penulis buku Beragama: Bertapi, Bernamun, Bermaka (2017) dan santri tadarus buku di Bilik Literasi Solo. Alamat e-mail penulis adalah soeprei@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Kita saat ini hidup ketika manusia begitu mengagungkan segala hal yang bersifat sementara, material, dangkal, duniawi, sempit, dan serbacepat. Manusia begitu takjub, kagum, dan mati-matian berlomba mendapatkan kemewahan, kekayaan, jabatan, ketenaran, dan kelezatan.

Orang mulai kehilangan kontrol atas dirinya. Ia dikendalikan oleh sesuatu yang bukan berasal dari dalam dirinya. Ia berani melakukan apa pun asalkan keinginannya tercapai. Emha Ainun Nadjib dalam buku Allah Tidak Cerewet Seperti Kita (2019) memberikan gambaran bahwa manusia saat ini hidup pada gelombang yang paling rendah, yaitu gelombang materialisme (keduniawiaan).

Materialisme adalah keraknya cahaya, yang paling rendah, umurnya paling pendek, yang tidak bisa dibawa ke mana-mana. Dalam kondisi seperti ini kita membutuhkan manusia dengan kualitas Ibrahim AS. Menurut catatan sejarah, Ibrahim hidup kira-kira sekitar abad ke-19 dan ke-18 sebelum Masehi. Ibrahim adalah satu-satunya nabi, selain Muhammad SAW, yang namanya disebut dalam salat. Ibrahim sering disebut dalam Alquran bahkan digunakan judul sebuah surat dalam Alquran. Ibrahim dikenal sebagai orang yang hanif, orang lurus yang cenderung pada jalan yang benar.

Ibrahim tidak mau terseret arus kehidupan di sekitarnya. Ibrahim terus mencari kesejatian, kedalaman, dan keluasan hidup. M. Dawam Raharjo dalam Ensiklopedi Alqur’an (1996) menyebut setidaknya ada tiga hal dalam diri Ibrahim yang membuat dia istimewa. Pertama, Ibrahim memperoleh pengertian tentang hakikat Tuhan melampaui proses perjuangan berpikir sejak muda dengan cara observasi dan penarikan kesimpulan dari pengamatannya tentang gejala alam dan kehidupan yang dia lihat.

Tuhan memperlihatkan kepada Ibrahim ”kerajaan langit dan bumi”, yaitu bekerjanya hukum-hukum alam. Hal inilah yang membuat Ibrahim mampu memberikan argumen-argumen yang kemudian diungkapkan oleh kitab-kitab sesudahnya. Mengapa manusia menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak dapat melihat, dan tidak mampu menolong? Inilah yang jarang dilalui generasi masa kini. Menikmati proses menemukan kebenaran dari hakikat, wujud, maupun asal-usulnya.

Berhala Kontemporer

Pada tahap awal kita perlu mengenali apa saja yang merupakan jenis-jenis berhala kontemporer yang jenisnya sangat banyak. Kita adalah Ibrahim yang terus bertanya-tanya, melakukan pelacakan pribadi. Dua orang jurnalis senior Amerika Serikat, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, mengingatkan kita ihwal kepungan berita yang terus datang dari berbagai arah.

Masalahnya tak semua menyediakan kebenaran. Kita perlu menganalisis isi suatu berita sehingga tidak terjebak oleh pemberitaan yang keliru karena minimnya verifikasi (Blur: Mengetahui Kebenaran di Era Banjir Informasi’: 2012).

Setelah kita yakin barulah kita memutuskan hendak memilih menghancurkan, mengacuhkan, atau malah ikut-ikut menyembah berhala (kontemporer) itu. Kedua, Ibrahim menyebarkan dan memperjuangkan keyakinannya (kebenaran sejati) itu kepada berbagai bangsa dalam wilayah pengembaraan yang sangat luas, dari timur ke utara, barat, selatan, dan di tengah-tengah berbagai penjuru itu.

Jika kita memang yakin dengan kebenaran yang kita temukan, jangan mudah gamang, meski juga jangan tergesa-gesa untuk menyebarkan. Kita harus ekstra hati-hari. Belum tentu apa yang kita yakini sebagai kebenran itu sama dengan kebenaran yang diyakini orang banyak.

Begitu juga kebenaran yang diyakini oleh banyak orang, belum tentu kebenaran yang sejati. Sunan Kalijaga pada abad ke-15 Masehi mengingatkan dalam rapat para wali: Bicara baik, belum tentu benar. Bicara benar, belum tentu baik. Bicara baik dan benar, belum tentu perlu. Berpikirlah sebelum berbicara dan kemudian berbuat. Saprelune, sacukupe, lan sabenere.

Pesan itu disampaikan kembali dalam ketoprak dengan lakon Dakwah Sunan Kalijaga yang digelar di Rumah Budaya Nusantara, Tangerang Selatan, Banten (Republika, 8 Juni 2017). Urusan mengungkapkan kebenaran memang bukan urusan mudah. Ibrahim telah membuktikan.

Menikmati Proses

Kita harus siap ketika orang tidak setuju. Kita harus siap saat orang-orang menolak pendapat kita. Jangan membenci apalagi sampai memutus hubungan. Ibrahim tetap berbaik sangka kepada ayahnya dan umatnya saat kebenaran yang dia yakini dan dia sampaikan ditolak.

Tuhan tidak mengajarkan hanya berhasil. Tuhan mengajarkan menikmati proses: berjalan di jalan yang benar, dengan tujuan yang benar, dan jalan yang benar-benar jalan lurus. Ibaratkan dengan keinginan memiliki anak atau menghasilkan padi. Kita tidak tahu bagaimana wajah atau bentuk anak kita nanti. Kita tidak tahu bagaimana hasil padi yang kita tanam. Kita terus berusaha menjalani dengan penuh keyakinan. Bukan hasil panen yang kita nikmati, tapi prosesnya. Sepanjang kita menikmati proses, kita sudah mendapatkan satu titik kenikmatan.

Ketiga, Ibrahim adalah orang yang teruji dengan berbagai perintah dan larangan dari Allah. K.H. Mustofa Bisri alias Gus Mus dalam puisi berjudul Kurban bersenandung: di sana/ barangkali ibrahim, hajar, dan ismail pun mengawasi lautan kafan kepasrahan berputar-putar mengitari titik bumi/ meluap-luap di pelataran suci/ mencoba menyapu sampai dalam diri/ di sini pun kerelaan ibrahim/ kepatuhan hajar, dan kepasrahan ismail/ menguji kesayangan yang dikurbankan/ relakah sepenuh hati relakah?/ relakan sepenuh hati relakan!

Kita akan sulit menemukan motif pengorbanan yang lebih terang selain dalam kisah Ibrahim. Ia diperintahkan melepaskan apa yang paling dia cintai, anaknya: Ismail. Anak yang ia tunggu hingga usia 80 tahun harus ditinggalkan di gurun pasir yang tidak ada tanaman tumbuh sebatang pun. Istrinya harus pontang-panting mencari air dari Shafa dan Marwa. Setelah sekian tahun ditinggal dan Ismail menjadi remaja, Ibrahim harus menyembelih anaknya itu. Ia harus mengesampikan berbagai omongan orang untuk membatalkan.

Perintah meninggikan Kakbah ia jalani bersama anaknya. Orang-orang pun mulai mengimani kebenaran Ibrahim. Hal inilah yang menjadikan Ibrahim layak sebagai pemimpin umat manusia, bapak monoteisme murni yang menjadi cikal bakal terlahirnya tiga agama besar di dunia: Yahudi, Kristen, dan Islam. Kita meridukan manusia Ibrahim pada masa ini. Manusia yang awalnya terseret masuk gelombang pertama (materialisme) kemudian terus bergerak mencari kebenaran sejati menuju Tuhan Yang Maha Esa.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten