Manusia dan Ternak Berbagi Lewat Secuil Brem Wonogiri

Brem merupakan makanan khas Wonogiri, Jawa Tengah, yang menjadi sarana berbagi antara manusia dengan hewan ternak.

Kamis, 22 September 2022 - 20:16 WIB Editor: Chelin Indra Sushmita | Solopos.com

SOLOPOS.COM - Mulyati, 50, menjemur brem buatannya di halam rumahnya di Tukluk RT 001/RW 002, Desa Bumiharjo, Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri, Jumat (24/6/2016). (Solopos/Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI – Manis, asam, dengan sensasi dingin menjadi ciri khas camilan asal Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, bernama brem. Makanan dari sari pati ketan ini merupakan hasil ciptaan warga Dusun Tenggar, Desa Gebang, Kecamatan Nguntoronadi.

Rasanya sombong sekali jika menyantap makanan tanpa mengetahui asal-usulnya. Konon, makanan ini menjadi sarana berbagi antara manusia dengan hewan ternak seperti sapi dan kambing. Bagaimana kisahnya?

Dilansir dari laman Institut Pertanian Bogor, Kamis (22/9/2022), brem merupakan pangan tradisional masyarakat Wonogiri. Produk ini merupakan bagian penting dari budaya, identitas, dan warisan nenek moyang yang berkontribusi pada sejarah perkembangan Wonogiri. Brem adalah produk makanan hasil fermentasi yang menghasilkan alkohol jenis etanol. Makanan ini diolah dari jus atau sari pati ketan yang telah difermentasikan.

Baca juga : Satria Piningit & Mitos Presiden RI Harus dari Jawa

Setidaknya ada tiga jenis brem di Indonesia, yaitu brem Madiun yang berwarna putih kekuningan, dengan citararasa asam-manis dan berbentuk balok berukuran 0.5 x 5 to 7 cm; brem Wonogiri berwarna putih, rasa manis, sangat mudah larut dan dibuat dalam bentuk balok bundar tipis berdiameter sekitar 5 cm; dan brem Bali merupakan minuman keras terkenal di daerah Bali.

Hasil penelitian mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo berjudul Perkembangan Sentra industri Kecil Brem di Desa Gebang Kecamatan Nguntoronadi tahun 1990-2015 memberikan gambaran tentang proses produksi olahan kuliner khas tersebut. Penelitian itu menjelaskan belum diketahui pasti bagaimana awal mula pembuatan brem di sana. Namun, masyarakat setempat menyebut usaha brem merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang yang dikembangkan sekitar 1950-an.

Proses pembuatan makanan khas Wonogiri ini cukup panjang. Pertama, ketan yang akan dimasak menjadi brem dipilih dengan kualitas yang terbaik. Ketan kemudian direndam sekitar 30 menit agar lebih mengembang. Ketan kemudian dikukus sampai setengah matang, kemudian dicuci bersih. Selanjutnya ketan dikukus kembali sampai matang dan didinginkan. Lalu ketan ditaburi ragi berupa kapang Amylomyces rouxii dan kamir Endomycopsis burtonii menghidrolisis untuk mengubahnya menjadi maltosa dan glukosa.

Warga Dusun Tenggar Lor, Desa Gebang, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri, Wiyati, sedang melihat brem yang ia produksi di rumahnya, Senin (19/9/2022). (Solopos.com/Luthfi Shobri M.)

Proses fermentasi yang dilakukan selama lima hingga enam hari itu berguna memecah kandungan gula di dalam ketan menjadi etanol dan asam organik. Setelah tape ketan matang kemudian diperas untuk diambil sarinya dan kemudian dimasak kembali sampai mengental. Adonan itu kemudian dicetak dengan cetakan khusus berbentuk bulat pipih, selanjutnya dikeringkan di bawah sinar matahari sebelum dikemas.

Berbagi dengan Ternak

Proses pembuatan brem Wonogiri belum selesai sampai pada tahap pengemasan. Ampas brem tersebut masih bisa diolah kembali menjadi bahan yang dikonsumsi hewan ternak, seperti sapi, kambing, hingga ayam. Selain menjadi sentra industri brem, Dusun Tenggar juga menjadi tempat penggemukan sapi.

Sapi merupakan hewan ternak yang banyak dipelihara masyarakat dengan cara sederhana. Dalam beternak sapi, masalah pakan sering menjadi kendala bagi para peternak. Padahal, kesesuaian dan ketercukupan pakan menjadi penentu kesehatan hewan ternak. Jika sapi hanya diberikan pakan berupa dedaunan atau rerumputan, maka kebutuhan nutrisinya kurang terpenuhi. Sapi membutuhkan pakan tambahan berupa konsentrat yang harganya cukup mahal di pasaran. Guna mengatasi tingginya harga pakan konsentrat, maka diperlukan bahan pakan alternatif  penyusun konsentrat yang harganya lebih murah.

Baca juga : Isu Pertalite Lebih Cepat Menguap, Antara Sugesti atau Fakta

Dalam hal itu, ampas brem Wonogiri hadir sebagai solusi. Dikutip dari laman pakanternakinstan.com, kandungan bahan pakan ternak saat ini menjadi peranan terpenting dalam bidang peternakan besar maupun kecil. Pakan ternak harus mengandung banyak zat gizi dan nutrisi, agar perkembangan hewan ternak dapat berkembang biak dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian, ampas brem dapat dijadikan campuran pakan ternak karena kandungan nutrisi di dalamnya. Ampas brem dengan kandungan berat kering (BK) 81,634%, memiliki protein kasar (PK)3,130%, lemak kasar (LK) 2,120%, serat kasar (SK) 2,111%, dan total digestible nutrient 55,826.

Gusti Putu Agus, dkk., dalam artikel berjudul Pengaruh Konsentrasi Substrat Tepung Limbah Brem dan Lama Fermentasi terhadap produksi Kalsium Sitrat dengan Menggunakan Aspergillus niger ATTC 16404 menjelaskan, ampas brem sejatinya merupakan limbah yang masih bisa diolah. Dari komposisinya, beras ketan yang menjadi brem hanya sekitar 75%, sedangkan 25% sisanya menjadi limbah. Limbah ini bisa dimanfaatkan sebagai sumber pakan alternatif ternak ruminansia alias hewan pemamah biak seperti sapi, domba atau kambing.

Polisi di Wonogiri mengecek kondisi sapi di kandang ternak milik warga, Senin (30/5/2022). (Istimewa/Polres Wonogiri)

Pada umumnya konsentrat terbuat dari bekatul, dedak, ampas singkong, ampas tahu, bungkil kelapa, tepung ikan, dan polard. Bahan yang paling sering digunakan untuk membuat konsentrat adalah limbah pertanian karena harganya jau mudah diperoleh dan berkualitas baik  lebih ekonomis. Berdasarkan hasil penelitian, dengan pemberian pakan berupa hijauan, konsentrat jadi, dan ditambah dengan ampas brem akan mendapat pertambahan bobot badan rata-rata 0,8 kg/hari.

Pada sapi peranakan ongole dan jantan sapi perah juga diperoleh rata-rata pertambahan bobot badan masing-masing adalah 0,52 kg/hari dan 0,4 kg/hari dengan hanya memberikan hijauan saja tanpa ada penambahan konsentrat. Apabila pakan yang diberikan hanya hijauan saja maka pertambahan bobot badan yang dicapai tidak akan setinggi pertambahan bobot badan yang mendapat pakan berupa hijauan dan konsentrat.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif
HEADLINE soloraya Siap-Siap! Tarif Air Bersih di Kota Solo Naik Mulai Januari 2023 9 menit yang lalu

HEADLINE soloraya Bangga, Pasar Bahulak Sragen Masuk Nominasi Inovasi Nasional 2022 12 menit yang lalu

HEADLINE soloraya Ramaikan..! Woro, Nella & Paramitha Meriahkan Launching YSNW di Baki Sukoharjo 27 menit yang lalu

HEADLINE soloraya Poerwosariweg Kini Jl. Slamet Riyadi Belah Wilayah Mangkunegaran dan Kasunanan 31 menit yang lalu

HEADLINE soloraya Perlu Ditambah, Pusat Layanan Disabilitas di Karanganyar Masih Terbatas 34 menit yang lalu

HEADLINE soloraya Perhutani & Forkom PKSDM Tanam 1.600 Bibit Pohon di Bukit Mongkrang Tawangmangu 45 menit yang lalu

HEADLINE soloraya Bayi 8 Bulan di Sragen Hanyut di Sungai Belakang Rumah, Ayah Korban Teriak 47 menit yang lalu

HEADLINE soloraya Jembatan Mojo Kembali Dibuka, Warga Merasa Lega karena Bosan dengan Kemacetan 1 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Sempat Deadlock, Bupati Sragen Usulkan UMK 2023 Naik Segini 1 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Menilik Beda Strategi Petahana dan Penantang di Pilkades Keloran Wonogiri 1 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Sudah Makan Korban, Ini 2 Modus Penipuan yang Wajib Diwaspadai Warga Sragen 1 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Terkait Rencana Penggunaan Jembatan Jurug A, DPUPR Solo: Itu Kewenangan PUPR! 1 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Rumah Digeledah Densus 88, Putri Terduga Teroris asal Sukoharjo Terus Menangis 1 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Hendak ke Toko Emas, Lansia di Klaten Meninggal Dunia setelah Jatuh dari Sepeda 1 jam yang lalu

HEADLINE soloraya Ini Resep Praktis Es Kopyor yang Jadi Suguhan di Pernikahan Kaesang-Erina 2 jam yang lalu