Mantul, Lapangan Gabugan Sragen Kini Dilapisi Pasir Putih Pantai Selatan
Penampakan Lapangan Desa Gabugan yang berlapis pasir dari Pantai Laut Selatan dan berumput kualitas super, Selasa (2/6/2020). (Solopos/Moh Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN – Lapangan Gabugan di Desa Gabugan, Kecamatan Tanon, Sragen, menjadi satu-satunya yang dibangun dengan kualitas terbaik. Lapangan ini dibangun untuk mendukung kegiatan olahraga khususnya sepak bola.

Pemerintah Desa (Pemdes) Gabugan, Kecamatan Tanon, Sragen, terus memoles lapangan desa setempat menggunakan dana desa (DD). Setelah dibangun jogging track dengan anggaran senilai sekitar Rp600 juta pada 2017 dan 2018, pada tahun ini rumput lapangan diganti dengan kualitas super.

Dana senilai Rp150 juta dianggarkan pada tahun untuk mengeruk lapangan hingga kedalaman sekitar 40 cm. Permukaan lapangan yang awalnya berupa tanah cadas dibuang dan diganti pasir putih yang didatangkan dari Pantai Selatan Jawa di wilayah DIY.

Jokowi Minta Indonesia Bikin Vaksin Corona Sendiri, Target Produksi Akhir Tahun

Pasir Pantai Selatan

Drainase di Lapangan Gabugan Sragen juga telah diperbaiki, sehingga tidak akan becek saat hujan turun.

“Pasir pantai itu punya karakter mudah menyerap air. Drainase lapangan sudah kami perbaiki. Ada enam titik pembuangan air. Bagian tengah lapangan juga dibuat dengan model geger sapi atau lebih tinggi daripada bagian pinggir. Selisih ketinggiannya hanya beberapa cm sehingga tidak akan kelihatan. Kami sudah pantau situasinya saat hujan. Meski curah hujan tinggi, lapangan sudah tidak becek seperti dulu,” terang Kepala Desa (Kades) Gabugan, Loso Sunarto, kepada Solopos.com, Kamis (4/6/2020).

Rumput Kualitas Super

Lapangan Gabugan Sragen juga sudah ditanami rumput grinting yang terkenal berkualitas super. Jenis rumput dengan nama latin Cynodon Dactylon ini memiliki kemampuan bertahan hidup di lahan tandus pada musim kemarau sekalipun. Jenis rumput ini banyak dipakai di stadion terkemuka di Tanah Air.

“Rumput itu ditanam sejak pertengahan Januari, sekarang usianya sudah lima bulan. Pertumbuhannya belum sempurna karena masih ada sedikit bagian yang belum tertutup rumput. Kadang kami juga menemukan rumput teki yang tumbuh, tapi langsung kami cabut. Setiap pekan sekali, rumput itu kami pangkas dengan alat potong dorong yang biasa dipakai untuk memotong rumput lapangan di stadion,” jelas Loso.

Satpam Cantik di Sragen Hilang, Diduga Hanyut di Sungai Bengawan Solo

Loso yang pernah melatih PSISra Sragen Junior di ajang Piala Soeratin 2018 lalu itu sengaja melibatkan teknisi pembangunan lapangan yang masih keponakannya sendiri. Kebetulan, keponakannya itu memiliki pengalaman terlibat dalam pembangunan sejumlah stadion. Seperti Stadion Tuah Pahoe Palangkaraya dan Stadion Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Pembibitan Pesepak Bola Sragen

Loso sengaja membangun Lapangan Gabugan Sragen dengan kualitas baik demi mendukung pembibitan pemain sepak bola di usia dini. Kapten Persela Lamongan, Eky Taufik, yang bermain di Liga 1 merupakan jebolan SSB binaan dari Loso Sunarto.

Warga Desa Ketro, Kecamatan Tanon, Sragen itu sudah memperkuat Laskar Joko Tingkir, Julukan Persela, di Tim U-19 tepatnya pada 2011 silam.

“Kami ingin memfasilitasi anak-anak bermain sepak bola di lapangan yang baik. Kami berharap ada banyak pemain muda dari Sragen yang bermain di tim Liga 1 seperti Eky. Nantinya, lapangan hanya untuk bermain sepak bola. Tidak boleh lagi ada pasar malam di sana,” terang Loso.

Pemilik Toko Bangunan di Karanganom Klaten Positif Covid-19

Meski demikian, Loso tidak berani menyebut Lapangan Gabugan merupakan lapangan desa dengan kualitas nomor satu di Sragen. Namun, dia menyebut kualitas Lapangan Gabugan jauh lebih baik dari lapangan Stadion Taruna Sragen.

“Lapangan Stadion Taruna itu berlapis ladu yang diambil dari sungai. Kalau sepekan terpapar panas tanpa hujan, tanahnya langsung keras dan berdebu,” terang Loso.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho