Mantap, Petani Pengkok Sragen Bersiap Go Organik
Suasana pelatihan pembuatan pupuk cair organik di Desa Pengkok, Kedawung, Sragen, Kamis (18/2/2021). (Istimewa/Sugimin)

Solopos.com, SRAGEN —  Masih tingginya tingkat ketergantungan petani terhadap penggunaan pupuk kimia menghadirkan persoalan tersendiri, salah satunya bagi petani di Desa Pengkok, Kedawung, Sragen.

Saat para petani, termasuk di Pengkok, butuh pupuk, mereka kesulitan untuk mendapatkannya akibat kebijakan pembatasan kuota pupuk bersubsidi dari pemerintah.

Berangkat dari persoalan itu, Pemerintah Desa (Pemdes) Pengkok, Kecamatan Kedawung, Sragen, mengajak para petani beralih menggunakan pupuk organik untuk tanaman mereka.

Baca juga: Seleksi CPNS dan PPPK Solo Dibuka Maret-April, Diusulkan 1.190 Orang

Sebagai tahap awal, Pemdes Pengkok menggelar sarasehan sekaligus pelatihan pembuatan pupuk cair organik yang diikuti kalangan kelompok tani setempat. Kegiatan itu diselenggarakan di rumah Kepala Desa Pengkok, Sugimin, pada Kamis (18/2/2020) lalu.

Hadir sebagai pembicara, Ir. Surono Danu, pakar pertanian dari Mari Sejahtera Petani (MSP) dari Lampung. Kedatangan Surono Danu yang separuh hidupnya digunakan untuk meneliti dan menemukan bibit padi unggul itu tidak disia-siakan oleh kalangan petani di desa setempat.

Diskusi dengan pakar pertanian penemu bibit padi unggul sertani itu pun berjalan menarik. Para peserta sarasehan antusias berdiskusi dengan sosok Surono Danu.

Baca juga: Manchester City Cetak Kemenangan ke-18 Seusai Tundukkan Arsenal

“Tanah di Pulau Jawa menunjukkan kualitas baik. Namun, dalam puluhan tahun terakhir, kondisinya semakin buruk karena penggunaan pestisida berlebihan,” papar Surono Danu pada kesempatan itu sebagaimana disampaikan Kepala Desa Pengkok, Sugimin, kepada Solopos.com, Minggu (21/2/2021).

Sosialisasi dan Edukasi

Sugimin mengakui para petani di Desa Pengkok belum siap untuk menerapkan sistem pertanian organik. Oleh sebab itu, diperlukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait pertanian organik.

Salah satu caranya ialah dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia dan menambah penggunaan pupuk organik secara berkala.

Baca juga: Untuk Sekolah dan Perguruan Tinggi, Perwakilan BI Solo Bantu Pendidikan

Di pengujung kegiatan digelar pelatihan pembuatan pupuk cair organik. Beberapa bahan yang dipakai untuk membuat pupuk cair organik ini adalah leri atau air bekas cucian beras, air kelapa, kotoran kambing, buah mengkudu, kulit nanas, katul, isi buah mojo, air dan lain-lain.

“Nantinya, setiap tahun, diharapkan ada penambahan penggunaan pupuk organik dan pengurangan penggunaan pupuk kimia,” papar Sugimin.



Berita Terkini Lainnya








Kolom