Mantap! Panen Ponorogo Diprediksi Surplus 17 Ribu Ton Beras
Petani sedang memanen padi di areal persawahan Ponorogo. (Istimewa/Pemkab Ponorogo)

Solopos.com, PONOROGO — Masa panen raya musim tanam ketiga di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur sedang berlangsung. Diperkirakan hasil panen padi pada akhir 2020 ini bisa memenuhi kebutuhan pangan di Kota Reog. Bahkan, diprediksi hasil panen padi ini akan surplus sekitar 17.000 ton beras.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Ponorogo, Medy Susanto, mengatakan pada Desember ini, sawah di wilayah Ponorogo bagian barat sedang panen. Total luasan areal sawah yang panen sekitar 11.744 hektare.

Medy menyampaikan pada panen musim ini hasilnya per satu hektare sekitar 67,34 kuintal gabah kering giling. Sehingga kalau ditotal dengan luas lahan akan menghasilkan 49,62 ribu ton beras. Sedangkan konsumsi beras masyarakat Ponorogo selama musim ini sekitar 32,46 ribu ton.

10 Warga Kota Madiun Positif Covid-19 dalam Sehari, Kini Total Kasus Capai 244

“Dengan total hasil panen itu, diperkirakan akan terjadi surplus beras sekitar 17,15 ribu ton,” kata Medy yang dikutip dari keterangan resmi Pemkab Ponorogo, Jumat (4/12/2020).

Dia mengklaim untuk kualitas beras yang dihasilkan para petani Ponorogo pada musim tanam ketiga sangat bagus. Menurutnya, hal ini karena menjelang panen tidak terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Selain itu, tidak banyak padi yang rusak maupun diserang hama akibat kelembapan yang terlalu tinggi.

SMK Negeri Jateng Jadi Klaster Covid-19, Pembukaan Sekolah Bisa Jadi Mundur

Untuk harganya, lanjut dia, mencapai Rp4.900 per kilogram untuk gabah kering panen.

“Itu untuk yang panennya menggunakan combine harvester. Kalau yang manual ya sekitar Rp4.700 sampai Rp4.800 per kilogram gabah kering panen,” ujarnya.

Kondisi Psikologis Membaik, Korban Penembakan Solo Mulai Beri Keterangan ke Polisi

Lebih lanjut, dia menuturkan pada tahun 2020 ini baru sekitar 30persen sawah di Ponorogo yang dipanen dengan menggunakan combine harvester. Hal ini karena keterbatasan jumlah unit traktor pemanen ini. Selain itu juga karena kondisi geografis di Kabupaten Ponorogo yang terkadang menyulitkan penggunaan alat pemanen ini.

 

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom