Manisnya Bisnis Kue Keranjang Terhenti Pandemi Covid-19
Pemilik Toko Mini Bakery, Ratna Anggraini, menempelkan stiker merek kue keranjang produknya, Senin (25/1/2021). (Solopos.com-Farida Trisnaningtyas)

Solopos.com, SOLO — Bisnis kue keranjang di Kota Solo, Jawa Tengah menjelang Tahun Baru Imlek seret. Bisnis kue keranjang yang merupakan karya kuliner khas China yang menjadi jajanan khas tahun baru Imlek itu ikut terdampak pandemi Covid-19.

Jika biasanya kue keranjang atau kue bulan ini dipesan sekitar 1-2 bulan sebelum hari H, sekarang ini orderan turun drastis. Bahkan, ada pula pembuat kue keranjang yang memilih absen berproduksi pada tahun ini.

Pemilik Toko Mini Bakery, Ratna Anggraini, mengatakan tahun ini tak seperti sincia atau Tahun Baru Imlek sebelumnya lantaran adanya pandemi Covid-19. Kali ini, ia baru mulai membuat pesanan kue keranjang pada pertengahan Januari 2021 atau setengah bulan menjelang Tahun Baru Imlek.

Baca Juga: Jomblo Mungkin Saja Sesuai Zodiak...

“Biasanya Desember sudah banyak pesanan, sekarang saya baru bikin sejak pertengahan Januari. Iya, sepi ini. Saya tetap bikin karena ada pekerja. Saya ndak mungkin mutus kerja mereka,” ujar dia, saat ditemui wartawan di rumahnya, Senin (25/1/2021).

Ratna menjelaskan pesanan kue keranjang yang masuk kali ini tidak ada separuhnya dengan order Imlek tahun lalu. Menurutnya, kondisi pandemi membuat masyarakat enggan merayakan Imlek secara besar-besaran. Alhasil, ini berdampak pada menurunnya bisnis pernak-pernik maupun hidangan Imlek, seperti kue keranjang.

Generasi ketiga pembuat kue keranjang Mini Bakery asal Sangkrah, Pasar Kliwon, ini mengaku baru membikin kue ini sekitar 1/2 ton sejak Januari lalu. Padahal Imlek tahun lalu, ia bisa banjir pesanan kue keranjang berkali-kali lipat dari sekarang ini.

Baca Juga: Dayana Fiki Naki Sejatinya Jago Tiktok

Pesanan pun banyak datang dari luar Solo seperti Wonogiri dan Klaten. Harga ecer 1 kilogram kue keranjang buatannya sebesar Rp40.000. Isinya 1 kg kue keranjang ada yang 4 buah ada yang 2 buah.

“Saya punya enam karyawan, sejak pandemi tetap bekerja. Makanya, saya ya tetap membuat kue keranjang untuk Imlek ini meski pesanan ya tidak sebanyak dulu,” imbuh dia.

Menurutnya, kue keranjang khas produksinya ini tidak memakai bahan pengawet sehingga jika di luar lemari es hanya tahan beberapa pekan. Maka dari itu, demi menjaga kesegaran kuenya, begitu konsumen pesan baru dibuat.

Baca Juga: Kembangkan Bakat Anak Sesuai Zodiak!

Bahan utamanya berupa ketan dan gula pasir. Pabrik rotinya pun memproduksi kue keranjang dengan masih mempertahankan cara lama demi menjaga keautentikan rasa.

Diawali dengan menggiling ketan, mengaduk adonan, hingga saat kue dipanggang. Sementara itu, produsen kue keranjang Dua Naga Mas, Alista Putri Maidi, memilih tak memproduksi kue keranjang Imlek tahun ini karena Covid-19.

Saat memproduksi kue keranjang tersebut ia membutuhkan banyak tenaga kerja. Setidaknya 20 orang kini ia pekerjaan di tempat usahanya itu.

Baca Juga: Hal-Hal Ini Kata Fengsui Perlancar Rezeki

Menurutnya, ini berisiko tinggi terpapar Covid-19 jika produsen rumahan seperti keluarganya mengumpulkan banyak orang di satu tempat dalam jangka waktu yang lama.

Orang tua Alisa merupakan generasi kelima pembuat kue keranjang merek Dua Naga Mas. Usaha kue keranjang rumahan tersebut beralamat di Kampung Balong Gang VI RT 005 RW 008.

“Biasanya kami bikin sebanyak 4 ton dan mulai dibuat dadakan jelang Imlek. Order banyak dari luar kota. Harganya Rp30.000-an. Sebenarnya banyak pelanggan yang menanyakan kue kami, tapi banyak pertimbangan kami untuk memilih tidak memproduksi dulu. Takutnya kalau ada yang datang kemari dari mana-mana kami enggak tahu juga kondisi mereka kan,” jelas dia.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom