MALAM 1 SURO SOLO : Kisah Mistis Kerbau Bule Kiai Slamet

Solopos.com, SOLO – Kerbau albino atau bule di Keraton Solo yang dikenal bernama Kerbau Kiai Slamet ini selalu jadi perbincangan setiap menjelang malam 1 Sura (penanggalan jawa).

Keturunan kerbau Kiai Slamet yang  lalu sempat mengalami insiden penusukan Rabu (15/10/2014) ini tak bisa dilepaskan dari sejarah pendirian Keraton Solo.

Sejarah Kerbau Kiai Slamet muncul dalam beberapa literatur. Namanya disebut dalam syair Babad Giyanti yang oleh pujangga kuno, Yosodipuro seperti ditebitkan 1937-1939. Babad Sala yang disusun Raden Mas Said juga sempat menceritakan kerbau ini.

Raden Mas Said yang dikenal sebagai Adipati Mangkunegaran atau Mangkunegara I ini menuturkan kerbau albino ini adalah pemberian dari Bupati Ponorogo kepada Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) II pada zaman Keraton Mataram kuno.

Hewan bertanduk dua ini dipakai PB II untuk kirab pusaka bikinan Kiai Slamet. Karenanya kerbau ini sering disebut Kerbau Kiai Slamet. Masyarakat familiar pula dengan sebutan Kebo Kiai Slamet.

Hingga kini, pembukaan tradisi kirab pusaka keraton sangat tergantung pada kerbau Kiai Slamet. Bila sang kerbau ngambek alias tidak mau keluar dari kandangnya, maka acara kirab bisa ditiadakan sampai sang kerbau mau keluar dari kandangnya.

Saat Malam 1 Sura, banyak warga menyikapi kekeramatan itu dengan berjalan mengikuti kirab. Mereka saling berebut menyentuh tubuh kebo bule.

Saking keramatnya, malah ada segelintir orang yang mempercayai kotoran yang keluar dari kerbau Kiai Slamet adalah sebuah keberuntungan. Kotoran atau tletong kerbau bule selalu diperebutkan oleh warga untuk dibawa pulang.

Berbeda lagi dengan cerita yang berkembang di kalangan blogger. Kerbau Kiai Slamet ini mulanya hanya dikenal sebagai kerbau albino biasa. Namun dalam sebuah insiden kebakaran atap kandang kerbau ini tak tersentuh api.

Raja Keraton mulanya tak percaya, lantas membuktikannya dan melihat kandang itu. Raja dibuat kaget setelah melihat hanya kandang kerbau ini saja di tengah abu bangunan lain yang luluh lantak.

Baru saja melihat keajaiban itu, terdengar suara hiruk pikuk dari warga kampung bahwa ada kebakaran kembali. Kobaran apinya sulit dipadamkan.

Atas perintah Raja, Kebo Bule dan Tombak itu agar dibawa ke sana dan mengelilingi tempat yang dilanda kebakaran itu. Aneh bin ajaib, begitu Kerbau dan Tombak mengelilingi rumah yang dilanda api, seketika padam tinggal asap membumbung tinggi.

Sejak saat itulah Kerbau serta Tombak beserta pemiliknya menjadi milik Keraton dan diberi nama Kerbau Kiai Slamet dan Tombak Kiai Slamet.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom