Warga memperebutkan air bekas jamasan pusaka di Kompleks Pura Mangkunegaran, Solo, Sabtu (31/8/2019) malam. (Solopos/M. Ferri Setiawan)

Solopos.com, SOLO -- Peringatan malam 1 Sura Tahun Wawu 1953 di Pura Mangkunegaran, Solo, Sabtu (31/8/2019), diperingati dengan kirab dan jamasan pusaka. Warga memadati kompleks Pura Mangkunegaran untuk menonton kirab maupun mengalap berkah dari air bekas jamasan pusaka.

Dalam hitungan detik, air yang digunakan untuk menjamasi (membersihkan) pusaka di Pura Mangkunegaran habis diserbu oleh warga.

Pantauan Solopos.com, rombongan kirab berangkat sekitar pukul 18.30 WIB dilepas oleh K.G.P.A.A Mangkunagoro IX. Mereka berjalan mengelilingi tembok Pura Mangkunegaran kemudian masuk kembali lewat pintu yang sama.

Setelah semua rombongan kirab keluar dari pintu Pura Mangkunegaran, warga yang sudah menunggu sejak sore hari berebut air yang digunakan untuk menjamas pusaka. Tak hanya dari dalam Kota Solo, banyak warga dari berbagai daerah dan segala usia ikut berebut air yang dipercayai memiliki khasiat tersebut.

Salah satu warga asal Bekonang, Sukoharjo, Trihani, rela berebut air jamasan pusaka Pura Mangkunegaran karena percaya air tersebut bisa mengobati penyakit yang dideritanya. “Saya sudah divonis dokter penyakit komplikasi. Ikut berebut air karena untuk obat penyakit saya. Semoga saja bisa bermanfaat. Saya sudah pasrah semoga kehendak Allah melalui air ini bisa membantu mengobati penyakit saya,” jelasnya kepada Solopos.com setelah berebut air jamasan.

Sementara itu, warga Nusukan, Solo, Sutrini, 47, mengaku setiap tahun selalu ikut berebut air kembang yang digunakan jamasan pusaka. Dia datang bersama dengan anaknya untuk berebut air yang diyakini bisa memberi berkah. Air itu akan digunakan dan dibagikan kepada keluarganya agar bisa mendapatkan berkah.

“Saya bersama anak saya. Pasti datang untuk berebut airnya. Saya cuci muka saya dan anak saya dengan air kemudian dikumpulkan ke dalam plastik kresek ini. Bisa digunakan untuk obat juga katanya air ini,” beber dia.

Warga Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar, Lami, 75, mengatakan meskipun sudah tua dia rela ikut berdesak-desakan berebut air bekas jamasan pusaka. Menurutnya air tersebut memiliki khasiat bisa menyembuhkan penyakit. Air yang sudah dia dapatkan sebanyak satu botol tersebut akan diberikan kepada keluarganya.

“Nanti bisa buat obat. Cuma itu saja. Saya kasih anak saya dan cucu-cucu saya. Biar dapat berkah dan diberikan kesehatan,” papar dia.

Sementara itu, Abdi Dalem Pariwisata Pura Mangkunegaran, Joko Pramudyo, mengatakan ada empat tombak dan satu joli (tandu) yang dikirab dan dijamasi pada malam 1 Sura itu. Terkait air jamasan yang diperebutkan warga, Joko mengatakan hal itu merupakan kepercayaan masyarakat. Dia tidak bisa melarang hal tersebut.

“Itu sebenarnya kepercayaan yang diyakini warga saja. Kami semua tetap sesuai tuntunan melakukan kirab ini. Jadi kalau warga ingin memperebutkan air tersebut ya silakan saja,” terang dia.

Sementara itu, beberapa nama besar seperti mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, dan politikus PDIP Aria Bima tampak hadir mengikuti kirab tersebut. Mereka ikut berjalan mengelilingi kawasan Pura Mangkunegaran bersama peserta kirab lainnya. Mereka kompak menggunakan beskap dan belangkon layaknya peserta lainnya.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten