SOLOPOS.COM - Ilustrasi (JIBI/Dok)

Makanan berbahaya Dinkes langsung berkoordinasi dengan pengelola pasar yang menjadi lokasi ditemukannya makanan dan minuman berformalin

Harianjogja.com, BANTUL—Makanan dan minuman (mamin) mengandung zat pewarna buatan (rodhamin B) ternyata merupakan produksi dari pengusaha mikro di Bantul. Menurut Staf Seksi Regulasi Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, Tri Iswanti, sejauh ini pihaknya baru mensinyalir lokasi produsen nakal itu berada di Kecamatan Pundong dan Pleret.

Promosi Jalur Mudik Pantura Jawa Makin Adem Berkat Trembesi

Sayangnya saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) selama tiga hari di beberapa pasar dan pertokoan, Senin-Rabu (6-8/7), Dinkes belum mendapatkan keterangan dari pedagang terkait lokasi produsen. “Mereka [pedagang] tak merasa perlu mengenal identitas pemasok. Bagi mereka, yang penting suplai barang lancar saja sudah cukup,” ucapnya saat ditemui di kantor Dinkes
Bantul, Jumat (10/7/2015).

Sebagai tindak lanjut, Dinkes langsung berkoordinasi dengan pengelola pasar yang menjadi lokasi ditemukannya makanan dan minuman berformalin. Pengelola pasar diharapkannya bisa turut memotong rantai distribusi makanan berbahaya.

“Kami juga bekerja sama dengan pemerintah kecamatan untuk mencari lokasi produsennya,” ucapnya.

Dari hasil sidak, Dinkes menemukan delapan jenis penganan yang positif mengandung rodhamin B. Makanan itu ditemukan di Pasar Bantengan, Pasar Niten, sekitar Pasar Dangwesih Dlingo, Pasar Imogiri, dan Pasar Bantul.

Diperkirakannya, produsen makanan berbahaya itu tidak hanya tersentral di Pundong dan Pleret saja. Masih banyaknya pasar tradisional di Bantul yang belum didatanginya, memunculkan indikasi persebaran mamin berbahaya itu sebenarnya jauh lebih luas. “Begitu juga dengan produsennya, saya rasa juga tidak hanya yang ada di Pundong dan Pleret saja,” katanya.

Kepala Bidang SDK Dinkes Bantul Bambang Agus Subekti menjelaskan, selain makanan dan minuman yang mengandung rodhamin B, Dinkes juga menemukan banyak sekali makanan dan minuman kedaluwarsa, rusak kemasannya, bahkan berjamur. Banyaknya makanan kedaluwarsa, menurut Bambang Agus, disebabkan kelalaian dan keteledoran pedagang dalam merawat stok dagangan mereka.

Bersama Polres dan Satpol PP Bantul, Dinkes langsung menyita sebagian makanan dan minuman berbahaya yang ditemukan. Dinkes juga menyarankan para pedagang mengembalikan makanan kedaluwarsa kepada produsen. “Kalau yang kami sita jumlahnya sedikit , langsung kami ganti dengan uang,” katanya.

Kepala Kantor Pengelolaan Pasar (Kalopas) Bantul, Slamet Santosa menegaskan akan berkoordinasi dengan setiap lurah pasar terkait pengawasan keluar masuknya barang dagangan. Pengawasan itu bisa dilakukan dengan melakukan seleksi ketat terhadap calon pedagang yang akan masuk ke dalam pasarnya. Selain itu, pengawasan juga bisa dilakukan dengan cara menelisik lebih jauh latar belakang para penyuplai barang dagangan kepada para pedagangnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya