Tutup Iklan
Ilustrasi makam. (Solopos-dok)

Solopos.com, BONE BOLANGO -- Peristiwa pembongkaran dan pemindahan makam di di Desa Toto Selatan, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, menggegerkan publik seluruh Indonesia. Hal ini karena motif peristiwa tersebut yang diduga terkait perbedaan pilihan partai politik di Pemilu 2019.

Isu itu mendorong Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie, turut berziarah di dua makam warga yang dibongkar dan dipindahkan itu, Minggu (13/1/2019). Namun seusai berziarah, Rusli membantah dugaan motif politik di balik pembongkaran makam itu.

Di atas pusara Almarhum Masri Dunggio dan Almarhumah Siti Aisyah A Hamzah itu, Rusli sudah ditunggu oleh Sarco Pomontalo dan keluarga serta masyarakat sekitar.

Gubernur berupaya mengklarifikasi dan mencari tahu duduk perkara pemindahan dua makam milik suami dan cucu Sarco yang sudah beredar luas di berbagai media. Camat, kepala desa, dan Babinkamtibmas Polsek Kabila juga dihadirkan untuk duduk bersama.

"Saya dari Sabtu [12/1/2019] sampai tadi pagi [Minggu] menerima pesan di media sosial, bahkan di televisi. Saya menerima itu, bahkan dari luar Gorontalo, 'Pak Rusli apakah setega itu?' Saya nggak bisa jawab. Makanya hari ini saya datang," ujarnya.

Dia meminta agar permasalahan tersebut tidak lagi dibesar-besarkan. Rusli menyebut hal tersebut tidak ada kaitannya dengan politik, tetapi hanya sebatas konflik keluarga.

Masyarakat juga diminta untuk bijaksna dalam menggunakan media sosial dan menanggapi setiap kabar yang beredar. Rusli mengaku malu dan prihatin atas peristiwa yang menimpa keluarga dan meminta maaf kepada seluruh masyarakat atas peristiwa tersebut.

Dia meluruskan sejumlah pemberitaan yang beredar bahwa makam yang dipindahkan sudah berusia 26 tahun. Padahal faktanya, kata Rusli, belum sampai tiga tahun.

"Kalau dilihat dari cerita ini tadi, tidak ada hubunganya dengan partai. Mau Golkar mau Nasdem itu tidak ada. Mungkin salah paham," tandasnya.

Sengketa lahan pekuburan antarkeluarga sudah dua kali terjadi di Gorontalo. Sebelumnya sekitar dua bulan lalu juga terjadi di Kabupaten Gorontalo Utara. Oleh karena itu, Gubernur berencana mempercepat proses pembebasan lahan untuk dijadikan lahan pekuburan umum bagi warganya.

"Kami sudah menyiapkan lahan pekuburan di Kota Barat, Sipatana, dan di Kecamatan Tapa. Tinggal dipagar dan kita umumkan kepada masyarakat. Kami menyiapkan juga mobil jenazahnya," kata Gubernur.

Beda Pilihan Caleg

:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2702591/original/035233800_1547294155-IMG_20190112_091114.jpg" />Pembongkaran makam di Desa Toto Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. (Liputan6.com/Arfandi Ibrahim)

Diberitakan Liputan6.com, Sabtu (12/1/2019), keluarga Abdul Salam Pomontolo histeris saat satu persatu tulang belulang mulai diangkat dari liang lahat untuk dipindahkan. Dua kuburan itu masing-masing atas nama Masri Dunggio dan Siti Aisyah Hamzah.

Awalnya, pemilik lahan bernama Awano Hasan mengajak keluarga Abdul Salam Pomontolo untuk memilih calon legislatif berdasarkan arahannya. Namun, Abdul Salam beserta keluarganya menolak dengan alasan sudah punya pilihan.

"Awano Hasan yang merupakan pemilik lahan sempat melontarkan kata-kata kepada kami, 'kalau tidak mau ikut pilihannya maka silakan pindahkan kuburan keluarga kalian yang ada ditanah saya'," ungkap Abdul Salam Pomontolo.

Abdul menambahkan pernyataan tersebut sering dilontarkan Awano. Bahkan pernah Awano mencaci keluarganya. Mediasi sempat difasilitasi oleh pemerintah desa setempat namun tidak membuahkan hasil. Pemilik lahan ngotot agar kedua makam dipindahkan.

"Ia [Awano] kemudian memblokade pintu masuk menuju kuburan, jadi dua kuburan ini kami pindahkan," kata Abdul.

Sementara itu Kepala Desa Toto Selatan, Gorontalo, Taufik Baladraf membenarkan ada pemindahan dua kuburan. "Iya benar. Kami sudah berusaha melakukan mediasi dan hasilnya kuburan tersebut tetap dipindahkan," katanya.

Avatar
Editor:
Adib M Asfar

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten