Pembongkaran makam jenazah bocah laki-laki asal Boyolali di Cukilan, Semarang, Selasa (16/7/2019). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)

Solopos.com, BOYOLALI -- Aparat Polres Boyolali memeriksa orang tua bocah laki-laki berusia 6 tahun, F, yang makamnya dibongkar, Selasa (16/7/2019). Dugaan awal polisi mengarah ke mereka sebagai pelaku penganiayaan yang mengakibatkan kematian bocah tersebut.

Petugas Inafis Polres Boyolali juga melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di rumah orang tua f di Desa Tanduk, Kecamatan Ampel, Boyolali, dan mengambil sejumlah benda, termasuk pakaian F sebagai barang bukti.

Sebelumnya diberitakan apara Polres Boyolali bersama tim medis membongkar makam F di Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Selasa (16/7/2019).

Polisi mencurigai bocah itu meninggal secara tidak wajar, Kamis (11/7/2019) lalu. Berdasar informasi yang dihimpun Solopos.com dari berbagai sumber, F yang tinggal bersama ibunya, SW, 30, ayahnya, IW, 45, dan kakaknya, X, 12, meninggal dunia di dalam rumah mereka sekitar pukul 13.00 WIB.

Saat meninggal, F bersama SW, sedangkan IW tidak berada di rumah. Setelah disucikan dan dikafani, jenazah F langsung dibawa ke Cukilan, desa asal ibunya, untuk dimakamkan di sana.

Namun pada sore hari hingga malam harinya di Tanduk beredar kabar di kalangan warga bahwa pada tubuh F terdapat luka lebam. Kabar ini sampai ke aparat Polsek Ampel yang kemudian menindaklanjutinya dengan melakukan klarifikasi kepada para perawat jenazah.

Kasatreskrim Iptu Mulyanto mewakili Kapolres Boyolali AKBP Kusumo Wahyu Bintoro mengatakan berdasar klarifikasi tersebut, perawat jenazah mengakui melihat ada luka lebam di tubuh F.

Luka itu antara lain terdapat di mata sebelah kiri yakni lebam kebiruan, telinga kanan kiri kebiruan, pipi kanan bengkak lebam kebiruan, sudut bibir kanan terdapat bekas darah kering, banyak luka lebam seperti bekas cubitan, ada bekas luka, dan darah mengering di perut sebelah kiri.

“Orang-orang yang memandikan jenazah kan melihat kondisinya, katanya ada lebam-lebam pada tubuh jenazah,” ujarnya saat ditemui Solopos.com di Cukilan, Selasa.

Polisi menduga F meninggal secara tidak wajar. Oleh sebab itu, polisi langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mengautopsi jenazah.

“Kami bersama tim Dokkes Polda Jawa Tengah hari ini [Selasa, 16/7/2019] membongkar makam sekaligus mengautopsi jenazah untuk memastikan penyebab kematian F,” imbuhnya.

Hasil autopsi yang dilakukan sekitar pukul 09.15 WIB-10.45 WIB tersebut menunjukkan adanya tanda-tanda bekas kekerasan atau penganiayaan pada tubuh F sebelum meninggal.

Untuk mengetahui pelaku kekerasan terhadap F, polisi langsung membawa kedua orang tua F ke Mapolres untuk diperiksa lebih lanjut. “Setelah autopsi, mereka kami bawa ke Mapolres untuk kami mintai keterangan. Dugaan pelaku mengarah kepada mereka.”

Sementara itu, proses pembongkaran makam dan autopsi yang berlangsung tertutup dan dijaga puluhan aparat polisi ini mengundang perhatian warga sekitar. Mereka mengamati proses tersebut dari kejauhan.

Sekretaris Desa Cukilan, Ridwan, mengatakan SW dan anak-anaknya sudah lama tinggal di Ampel bersama IW. ”Ibu ini anaknya ada dua. Suaminya sudah meninggal, kemudian tinggal bersama suami yang sekarang [IW] di Tanduk, Ampel. Saya juga tidak tahu banyak mengenai bagaimana kehidupan mereka di Ampel,” ujarnya.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten

%d blogger menyukai ini: