Tutup Iklan
Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, saat menemui putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, di Loji Gandrung Solo, Rabu (18/9/2019). (Solopos-Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO -- Gibran Rakabuming Raka disarankan berpasangan dengan tokoh dari luar PDIP apabila benar-benar maju dan mendapat rekomendasi sebagai calon wali kota (cawali) Solo dari DPP PDIP.

Putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu dinilai akan lebih baik jika menggandeng figur pegiat sosial atau agama, akademisi atau politikus.

Saran tersebut disampaikan pengamat politik UNS Solo, Agus Riewanto, saat diwawancarai Solopos.com, Selasa (22/10/2019).

“Kali ini menurut saya sebaiknya cawawali pasangan Gibran bukan kader PDIP, tapi dari luar, supaya memperkuat jaringan dan legitimasi politik PDIP. Pola yang sama digunakan Jokowi selama dua kali Pilpres yang menggandeng figur dari partai politik lain,” ujar dia.

Pipa Pertamina Meledak Tertembus Paku Bumi, Operator Meninggal Dunia

Agus menilai pemilihan figur cawawali dari non-PDIP penting untuk memperluas jaringan dan menambah elektabilitas. Kemenangan dengan persentase tinggi dapat mendongkrak legitimasi Gibran sebagai cawali yang baru masuk dunia politik.

Legitimasi tersebut penting bagi Gibran untuk membuktikan tingkat dukungan atau keterpilihannya di hadapan publik. Hal itu untuk mematahkan anggapan atau tudingan dia hanya mendompleng PDIP yang merupakan parpol pemenang Pemilu 2019.

Terpisah, pegiat Purnomo Center, Farid Sunarto, menyatakan dinamika terkait perebutan rekomendasi cawali PDIP tak membuat Achmad Purnomo dan timnya terpengaruh. Mereka tetap fokus dan bersabar menunggu turunnya rekomendasi dari DPP PDIP.

Cemburu, Suami LC Karaoke di Solo Tusuk Pelanggan Istrinya

Mereka tak menyiapkan skenario cadangan apabila nanti tak mendapatkan rekomendasi dari PDIP. “Kami tetap fokus, tak ada skenario cadangan. Yang diajukan DPC kan hanya pasangan ini,” kata dia, Selasa.

Farid menilai proses menuju Pilkada Solo 2020 masih sangat panjang. Proses yang berjalan ibarat pentas pewayangan baru rapat-rapat panitia kecil. Artinya masih banyak tahapan atau proses yang akan dilalui hingga penentuan siapa pasangan cawali-cawawali.

Farid justru mengapresiasi dialektika yang muncul beberapa bulan terakhir terkait Pilkada Solo. Dari dialektika tersebut muncul berbagai ide (gagasan) untuk membangun dan memajukan Solo. Dengan begitu proses pilkada menjadi proses yang konstruktif.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten