Tutup Iklan
Mahasiswa USM bersama komunitas Bhumi Horta tengah memberikan pelatihan kepada petani teknik vertikultura di Desa Gondang, Limbangan, Kendal, Minggu (16/12/2018). (Istimewa-Mahasiswa USM)

Solopos.com, SEMARANG — Minat masyarakat Indonesia, tak terkecuali di Jawa Tengah (Jateng) untuk menggeluti industri pertanian belakangan ini menurun. Data yang diperoleh Solopos.com, ada penurunan sekitar 1,1% jumlah penurunan masyarakat Indonesia yang menggeluti bidang bercocok tanam dari 42,8 juta jiwa pada 2010 menjadi 38,7 juta jiwa di awal 2018.

Turunnya minat masyarakat pada bidang pertanian ini tak terlepas dari terbatasnya jumlah lahan yang bisa digunakan untuk bercocok tanam. Alasan ini pulalah yang membuat mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi (FTK) Ilmu Komunikasi Universitas Semarang atau yang kerap disebut USM, menggelar pelatihan berbasis teknik vertikultura kepada masyarakat di Desa Gondang, Kecamatan Limbangan, Kabupaten,Kendal, Jateng, Minggu (16/12/2018).

Bekerja sama dengan komunitas masyarakat peduli pertanian, Bhumi Horta, mahasiswa Ilmu Komunikasi USM melakukan pelatihan kepada para petani berupa teknik vertikultura dengan menggunakan paralon (Vertilon).

“Pelatihan yang dilakukan di Desa Gondang ini bertujuan untuk memperkenalkan teknik bercocok tanam modern yang tidak membutuhkan lahan pertanian serta menghemat biaya dan tentunya mudah diterapkan,” ujar salah seorang founder Bhumi Horta Semarang, Edi Gunawan, dalam keterangan resmi.

Teknik Vertilon sebenarnya hampir sama dengan teknik vertikultura pada umumnya. Hanya saja teknik ini menggunakan paralon sebagai media meletakkan tanaman.

“Kegiatan yang melibatkan taruna tani dari Desa Gondang ini sengaja dilakukan untuk meningkatkan minat petani bercocok tanam di lingkungan tempat tinggal. Apalagi, cara bertanam seperti ini bisa menjadi peluang usaha agrobisnis bagi para petani,” ujar salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi USM, Imunk.

Ketua Taruna Tani Desa Gondang, Asrotun, mengaku senang dengan adanya pelatihan teknik vertikultura di desanya. Ia berharap kegiatan semacam itu sering dilakukan untuk membantu masyarakat pedesaan.

Selain untuk membantu masyarakat pedesaan, khususnya kalangan petani, pelatihan yang dilakukan mahasiswa Ilmu Komunikasi USM ini juga merupakan tugas mata kuliah Management Public Relations. Tugas kuliah sengaja dilakukan di pedesaan untuk meningkatkan perhatian mahasiswa terhadap masyarakat dengan cara memberikan pelatihan dan mempromosikan potensi yang dimiliki desa itu, baik dari segi wisata maupun sektor lainnya.

http://semarang.solopos.com/">KLIK dan https://www.facebook.com/SemarangPos">LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten