Mahasiswa UNS Meninggal, Ketua DPRD Solo: Tinggalkan Penggojlokan Fisik

Ketua DPRD Solo Budi Prasetyo memberikan pendapatnya terkait kasus mahasiswa UNS yang meninggal dunia saat mengikuti diklat Menwa, Minggu (24/10/2021).

Kurniawan - Solopos.com
Selasa, 26 Oktober 2021 - 15:45 WIB

SOLOPOS.COM - Budi Prasetyo. (istimewa)

Solopos.com, SOLO — Ketua DPRD Solo, Budi Prasetyo, ikut memberikan komentar terkait tragedi Gilang Endi Saputra, mahasiswa UNS Solo yang meninggal dunia sat mengikuti Diklat Pra Gladi Patria Angkatan Ke-36 Resimen Mahasiswa (Menwa), Minggu (24/10/2021).

Dihubungi Solopos.com melalui telepon, Selasa (26/10/2021), politikus PDIP itu menyatakan kegiatan yang berorientasi penggojlokan fisik sudah tidak zamannya lagi dan mestinya sudah ditinggalkan. Seharusnya kegiatan kemahasiswaan diarahkan kepada penambahan wawasan dan solidaritas.

“Seperti itu [penggojlokan fisik] sebenarnya sudah tidak masanya. Kegiatan harus lebih ditekankan kepada budaya yang mengasah wawasan, solidaritas, kekompakan antarteman, kecintaan terhadap almamater, hingga pembinaan mental spiritual,” terang Budi.

Baca Juga: 18 Saksi Diperiksa Terkait Meninggalnya Mahasiswa UNS Solo, Siapa Saja?

Ihwal kasus mahasiswa UNS Solo yang meninggal tersebut, Budi mendukung langkah kepolisian mengusut kasus tersebut. Harus dipastikan memar yang terdapat di bagian wajah korban akibat kecelakaan saat mengikuti diklat atau sebuah kesengajaan dari seseorang.

“Perlu dilihat itu [memar] disengaja atau kecelakaan biasa. Harus ditelusuri. Jadi kita tidak apriori terkait dengan sistem pembelajaran di kampus. Dilihat dulu, itu karena kecelakaan biasa atau akibat proses yang dilakukan untuk rekrutmen menwa itu,” tuturnya.

Budi meyakini ada standard operating procedure (SOP) terkait pelaksanaan kegiatan organisasi kemahasiswaan di kampus. Ia berharap SOP itu dipastikan benar-benar dijalankan dalam semua kegiatan kemahasiswaan untuk mencegah terjadinya insiden memilukan.

Baca Juga: Ada 8 Syarat Mahasiswa UNS Solo Agar Bisa Jadi Anggota Menwa

Pelaksanaan SOP

“Saya kira di internal kampus itu sudah ada SOP-nya ya. Ya mestinya ditingkatkan saja untuk sistem pengawasan atau pendampingannya itu. Sebab dalam pelaksanaan kegiatan terkadang ada hal-hal yang terjadi di luar perkiraan awal pelaksana,” terangnya.

Budi juga menekankan pentingnya mematangkan rencana kegiatan organisasi kemahasiswaan. Apalagi bila kegiatan tersebut akan dilaksanakan di luar kampus. Langkah itu untuk mengantisipasi kejadian yang mengancam keselamatan.

Menurut Budi, insiden meninggalnya mahasiswa UNS Solo saat mengikuti diklat Menwa menjadi pembelajaran semua pihak. Tidak hanya bagi kalangan civitas academica UNS, melainkan semua institusi pendidikan di Solo, agar tak terulang kejadian yang sama.

Baca Juga: Diklat Menwa Makan Korban, Mahasiswa UNS Nyalakan 100 Lilin Malam Ini

Sebagaimana diberitakan, mahasiswa UNS Solo Gilang Endi Saputra meningga dunia saat mengikuti Diklat Pra Gladi Patri Angkatan Ke-36 Menwa UNS, Minggu (24/10/2021). Gilang meninggal pada hari kedua diklat yang direncanakan berlangsung selama sepekan.

Pada hari kedua itu, Diklat dilaksanakan dengan agenda rappelling di Jembatan Jurug, Solo. Saat itu Gilang sakit dan malamnya dibawa ke RSUD dr Moewardi Solo dan meninggal tak lama kemudian.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif