Dokumentasi prgram hibah dana desa yang dijalankan mahasiswa UMS di Desa Jatisobo, Kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar. (Istimewa)

Solopos.com, SOLO — Program Hibah Bina Desa (PHBD) merupakan salah satu program dari Dirjen Dikti Kemendikbud yang ditawarkan setiap tahun kepada organisasi mahasiswa baik Ikatan Organisasi Mahasiswa Sejenis (IMOS), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), maupun Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) untuk berperan serta dalam memberdayakan masyarakat.

Pada 2019 ini, terdapat 2.190 praproposal yang diajukan oleh Universitas se-Indonesia, dan hanya 352 praproposal yang dinyatakan lolos seleksi praproporsal. Dari 352 praproposal yang lolos dan mengirim proposal program penuh, terpilih 90 proposal yang dinyatakan lolos didanai berdasarkan surat dikti nomor 1820/B3.3/KM.09.01/2019 tanggal 20 mei 2019.

Salah satu proposal yang lolos adalah dari Keluarga Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Surakarta (KMTM UMS). KMTM UMS mengajukan proposal yang berjudul Optimalisasi Pemanfaatan Ubi Singkong Sebagai Nilai Tambah Jual di Desa Jatisobo dengan Metode PASSIBO (Pasar Singkong Jatisobo).

Desa Jatisobo adalah salah satu desa di Kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar yang memiliki potensi pertanian dan perekonomian dalam bentuk wisata kuliner. Sektor pertanian merupakan penopang perokonomian terbesar didaerah Jatisobo.

Seiring berkembangnya teknologi dalam meningkatkan pereknomian hasil pertanian belum dapat diimbangi dengan pembangunan serta optomalisasi dalam pengolahan hasil pertanian. Hasil pertanian yang dihasilkan masyarakat hanya dijual ke pabrik-pabrik besar yang ada di sekitar kabupaten karanganyar yang harga jualnya terbilang sangat rendah.

Padahal jika hasil pertanian tersebut dapat diolah lebih optimal dan dipasarkan dengan pemasaran yang bagus akan dapat meningkatkan pereknomian desa Jatisobo yang lebih baik dan mandiri. Berdasarkan hal tersebut, KMTM UMS hadir dengan membawa program Pasar Singkong Jatisobo (Pssibo) yang diharapkan mempu membawa masyarakat dan Desa Jatisobo memiliki perekonoiman yang mandiri.

Passibo merupakan program yang didalamnya menggunakan strategi pasar wisata dan industri kreatif. Melihat letak geografis desa Jatisobo yang strategis yaitu berada pada perbatasan tiga kabupaten sehingga memiliki potensi yang baik untuk dijadikan wisata makanan tradisional.

Pasar ini nantinya berkonsep pasar singkong yang didalamnya menjual aneka olahan tradisional dan dikemas dengan konsep pedesaan serta zaro waste dengan dekorasi tema singkong. Selain pasar tersebut, terdapat industri kreatif yang nantinya mampu mengolah singkong menjadi berbagai olahan yang bernilai jual tinggi dan menjadikannya sebagai makanan khas Jatisobo yang layak untuk dijadikan buah tangan.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten