Mahasiswa Malang Ini Temukan Metode Cegah Kecemasan Pasien Berobat ke Rumah Sakit, Seperti Apa?

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang menemukan metode untuk mengurangi kecemasan pasien untuk berobat ke rumah sakit.

SOLOPOS.COM - Sania Umazatul Amsa Mahasiswa Fikes Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menemukan metode pencegahan kecemasan berobat ke rumah sakit. (Istimewa)

Solopos.com, MALANG -- Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menemukan metode untuk mengurangi kecemasan dan ketakutan pasien untuk berobat ke rumah sakit.

Metode ini menerapkan Electronic House Call berbasis telemedicine. Mahasiswa Semester 5 Program Studi Keperawatan Fikes UMM, Sania Umazatul Amsa, adalah penemu metode itu.

Dia mengatakan gagasan ini muncul karena prihatin terhadap kecemasan dan ketakutan masyarakat atau pasien saat akan berobat ke rumah sakit. Kecemasan dan ketakutan itu dikarenakan mewabahnya Covid-19.

Bus Listrik Buatan Inka Berangkat dari Madiun ke Bali, Isi Daya 4 Kali

Menurut dia, jika kecemasan ini dibiarkan, akan memicu lebih banyak masalah kesehatan. “ Jika ini dibiarkan, maka angka kematian bisa meningkat sebab seseorang, misalnya penyakit jantung terlambat ditangani, maka pasien tersebut bisa tidak tertolong karena tidak tertangani oleh tenaga kesehatan,” ucapnya di Malang, Jumat (6/11/2020).

Padahal rumah sakit sebetulnya sudah berupaya menerapkan protokol kesehatan yang sesuai serta memisahkan pasien isolasi Covid-19 dengan umum. Pemerintah juga telah mengimbau agar tidak ada kecemasan pada diri pasien yang akan berobat ke rumah sakit.

Namun, fakta yang terjadi hingga tujuh bulan masa pandemi Covid-19 di Indonesia, masyarakat tetap tidak mau, setidaknya enggan, berobat ke rumah sakit. “Di sinilah pentingnya diterapkan Electronic House Call berbasis Telemedicine ini,” kata dia.

Gunung Merapi Siaga, Warga Tegalmulyo Klaten Gercep Bikin Dapur Umum

Manfaatkan Teknologi dan Internet

Dia menjelaskan Electronic House Call yang berbasis telemedicine merupakan metode pelayanan kesehatan kunjungan rumah yang menggunakan teknologi dan Internet. Ini bisa mengurangi kecemasan pasien untuk berubat ke rumah sakit.

Layanan ini memungkinkan untuk merekam perkembangan kesehatan pasien. Selanjutnya data medis ini berguna untuk menjaga kondisi kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Metode ini cocok digunakan pada masa pandemi. Pasien yang harus melakukan kontrol rutin ke rumah sakit setiap bulan, namun takut terpapar virus, tidak perlu datang ke rumah sakit.

Hasil Riset: 75 Persen Masyarakat Optimistis Ekonomi Menguat 6 Bulan Mendatang

Metode ini membutuhkan laptop yang terinstal software, Internet, dan monitor vital sign atau alat kesehatan yang berfungsi untuk mengawasi keadaan tanda-tanda vital pada manusia. Sebelum melakukan konsultasi melalui video call, pasien harus melakukan kontrak waktu dengan petugas kesehatan.

Pasien tidak dapat langsung melakukan video call untuk mencegah kelebihan pengguna sistem perawatan. Bila dalam keadaan darurat pasien dapat menghubungi langsung sistem pelayanan 24 jam yang langsung terhubung dengan fasilitas kesehatan terdekat.

Ketua Program Studi Keperawatan Fikes UMM, Nurlailatul Masruroh mengapresiasi temuan mahasiswanya ini. Dia menilai sistem ini sangatlah futuristik dan merupakan solusi dalam jangka panjang bagi masyarakat Indonesia untuk mencegah kecemasan pasien datang ke rumah sakit.

Warga Jogja Tuturkan Tanda-Tanda Alam Gunung Merapi akan Erupsi, Apa Itu?

“Saya kira harusnya setiap rumah sakit harus sudah memikirkan hal ini guna mengurangi dampak kecacatan dan kematian yang semakin tinggi,” ujarnya.

Dia merekomendasikan metode ini bisa diterapkan oleh pemerintah. Dengan tidak banyak pasien datang ke rumah sakit dan cukup dipantau dari rumah, kemungkinan penularan juga bisa dicegah. Ini sesuai dengan misi kampanye Ingat Pesan Ibu untuk selalu jaga jarak.

Gagasan mengatasi kecemasan pasien untuk berobat yang diusung Sania Umazatul Amsa ini memenangi kompetisi esai nasional keperawatan. Dia menjadi juara pertama di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional yang diselenggarakan Prodi Keperawatan Poltekkes Semarang awal November 2020.

Berita Terbaru

Ahli Epidemiologi: Vaksin Covid-19 Tak Bisa Gantikan Protokol Kesehatan

Solopos.com, SOLO -- Meski sudah ada vaksin Covid-19, masyarakat tetap harus disiplin terhadap protokol kesehatan, terutama bagi mereka yang...

Vaksin Pfizer Kata Bio Farma Masih On Progress

Solopos.com, JAKARTA — Juru Bicara PT Bio Farma Persero Bambang Heriyanto mengakui proses pengadaan vaksin Covid-19 dengan pihak Pfizer...

Menilik Cara Singapura dan China Atasi Pandemi

Solopos.com, SOLO--Negara Singapura dan China bisa menjadi contoh cerita sukses dalam penanganan pandemi Covid-19 meski belakangan kedua negara itu...

Hoaks Minum Minyak Kayu Bikin Hasil Swab Negatif

Solopos.com, SOLO--Sebuah unggahan di media sosial menyebutkan meminum air putih dicampur minyak kayu putih dan berkumur pakai betadine membikin...

Hasil Survei Kemenag: Tokoh Agama Punya Peran Penting dalam Program Vaksin Covid-19

Solopos.com, SOLO--Dengan ditemukannya vaksin memberi harapan baru di tengah pandemi Covid-19 bagi masyarakat. Uji klinis, uji halal, dan uji...

Catat! Ini Cara Registrasi dan Verifikasi Penerima Vaksin Covid-19

Solopos.com, JAKARTA — Calon penerima vaksin Covid-19 dalam program vaksinasi massal pemerintah diharuskan melakukan verifikasi dan registrasi seusai menerima...

Pencarian Sriwijaya Air, Basarnas Setia Tegakkan Prokes

Solopos.com, JAKARTA — Para pemangku kepentingan yang terlibat dalam upaya pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di...

Fatwa Halal Vaksin Sinovac Masih Tunggu EUA

Solopos.com, JAKARTA — Badan Pengawas Obat dan Makanan mengingatkan fatwa halal Majelis Ulama Indonesia atas vaksin Sinovac masih harus...

Ganjar Pranowo Gagas Ini Hadapi Krisis Tenaga Kesehatan

Solopos.com, JAKARTA — Tenaga kesehatan untuk perawatan pasien Covid-19 di Indonesia semakin menipis seiring semakin gencarnya serangan virus corona...

Istilah Gas dan Rem Jokowi Diprotes Faisal Basri

Solopos.com, JAKARTA — Ekonom senior dari Universitas Indonesia Faisal Basri menyarankan Presiden Joko Widodo tidak menggunakan istilah "rem" dan...