Tutup Iklan
Rapid Test Mahal, Ombudsman Jateng Sebut Jadi Komoditas Bisnis
Ilustrasi hasil rapid test. (Freepik)

Solopos.com, SEMARANG -- Ombudsman Jawa Tengah (Jateng) menilai rapid test saat ini sudah menjadi komoditas bisnis. Hal ini menyusul ditemukannya banyak rapid test di sejumlah rumah sakit di Semarang, Jateng, yang dibanderol dengan harga mahal.

Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jateng, Siti Farida, mengatakan rapid test idealnya digratiskan karena dianggap pemerintah sebagai salah satu upaya memutus rantai penularan Covid-19.

"Kalau rapid test bisa untuk memotong mata rantai penularan Covid-19, maka ketika ada potensi kerumunan di pasar dan mal harusnya dilakukan rapid test massal. Tapi, ternyata sekarang kan substansi layanannya sudah bergeser. Sekarang cuma jadi komoditas dagang, di mana ada peluang usaha dan peluang dagang maka tiba-tiba dimunculkan rapid test," ujar Farida kepada wartawan di kantornya, Semarang, Rabu (8/7/2020).

Pendaki Gunung Lawu Meninggal, Polres Karanganyar Periksa 5 Orang

Ia mengaku rapid test mandiri di Semarang selama ini hanya sebatas dilakukan di beberapa tempat tanpa patokan aturan yang jelas. Padahal di halte bus, pelabuhan, terminal dan stasiun juga memiliki tingkat kerumunan warga yang tinggi dan membutuhkan rapid test.

"Tapi kalau sekarang kan udah beda. Urgensi rapid test sudah bergeser untuk melengkapi syarat berpergian melalui pesawat terbang maupun kereta api. Harusnya negara menggratiskan atau mensubsidi layanan rapid test," tuturnya.

Farida juga mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng, dalam hal ini Dinas Kesehatan untuk mengungkap ketersediaan rapid test kit ke publik.

Batu Yoni, Batu Gudang, dan Watu Jaran Ditemukan di 3J Karanganyar

 

SE Kemenkes

Sementara itu, Asisten Bidang Komunikasi Strategis Ombudsman Jateng, Belinda Wasistiyana Dewanty, mengaku tarif rapid test mulai menurun. Penurunan terjadi di sejumlah tempat pasca-terbitnya surat edaran Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Ia mencontohkan rapid test yang sebelumnya di banderol Rp290.000 di bandara, kini turun Rp150.000. "Nah, yang awalnya kita menemukan biaya rapid sangat mahal sekitar Rp260.000-Rp450.000, hari ini turun jadi Rp150.000," ujarnya.

Meski demikian, beberapa rumah sakit masih menerapkan biaya rapid test tinggi antara Rp250.000-Rp500.000. "Ada perbedaan tarif yang sangat tajam. Ini kan jadi arahnya sudah ke bisnis. Maka harus diseragamkan," ujarnya.

Jokowi Kurban Sapi Simmental Bantul Rp87 Juta


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho