Macan tutul Gunung Lawu yang meresahkan warga Jatiyoso, Karanganyar. (Solopos-Sri Sumi Handayani)

Solopos.com, SOLO—Rencana pengembangbiakan macan itu setelah mendengarkan pendapat para ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA). Kepala BKSDA Jawa Tengah, Suharman, mengatakan ruh dasar tangkapan BKSDA adalah kembali melepasliarkan hewan itu. Kendati begitu, berbagai pertimbangan diambil agar pelepasliaran tidak memunculkan konflik di kemudian hari.

“Idealnya kalau mau dilepaskan, ya di area Gunung Lawu lagi. Cuma sampai sekarang Perum Perhutani Surakarta sebagai pengelola hutan lindung belum punya analisis pasti lokasi pelepasliaran. Apabila dilepasliarkan di salah satu lokasi, seperti apa kemungkinan yang muncul? Apakah akan turun dan mengganggu lagi atau bisa normal seperti sedia kala,” kata Suharman saat ditemui wartawan dalam acara serah terima bantuan kandang di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo, Kamis (17/1/2019).

Pihaknya juga sempat mengajukan alternatif melepasliarkan macan Lawu itu di Cagar Alam Nusakambangan Timur, Cilacap. Alasannya, di lokasi itu juga ditemukan habitat macan tutul jawa. Namun, opsi itu tidak dianjurkan karena iklim dan topografi wilayah yang berbeda. Terlebih, sudah ada habitat asli yang dikhawatirkan dapat memunculkan konflik.

“Alternatif lain adalah breeding. Sebetulnya pengelola lembaga konservasi di Jawa Barat sudah menghubungi kami, tapi yang dibutuhkan jantan. Ini kan betina, kalau jantan sudah ada pasangannya di sana, betina juga, karena itu opsi ini juga masih jadi wacana,” jelas Suharman.

Suharman mengatakan pilihan breeding bagi macan bernama latin Panthera pardus melas itu juga diambil pada tangkapan sebelumnya di Gunung Muria. Macan tutul tangkapan tersebut dititipkan di Batang Dolphin Center dan dijodohkan dengan macan tutul pejantan penghuni lembaga konservasi itu. “Sayangnya, menurut sang keeper, mereka belum mau kawin. Betinanya sudah birahi, tapi pejantannya enggak mau. Sudah dicampur dan enggak mau kawin. Cukup sulit, kami masih berusaha,” papar Suharman.

Suharman mengakui saat ini nasib macan tutul Gunung Lawu itu belum pasti. Berbagai opsi masih menjadi pembicaraan bekerja sama dengan Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI).

Direktur Utama Perusahaan Daerah TSTJ Solo, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, mengaku  berkoordinasi dengan PKBSI untuk mendapatkan pejantan yang cocok. Opsi inseminasi muncul dengan mendatangkan sperma macan tutul jawa dari Jawa Barat. Dia berupaya mendapatkan izin sehingga pelaksanaan bisa dilakukan pada Mei.

“Kami akan mendatangkan tenaga ahli dari Swedia bekerja sama dengan Kebun Binatang Gembira Loka. Satwa di Gunung Lawu kan habitatnya semakin sedikit sehingga menjadi tantangan untuk mengembangbiakkan,” kata Bimo.

Sebelumnya, Ketua Forum Rakyat Peduli Gunung Lawu, Aan Shopuanuddin, meminta macan Lawu itu dikembalikan ke habitatnya. Aan menilai menempatkan macan tutul dari Gunung Lawu di Solo Zoo secara permanen bukan langkah jitu. Sebaliknya, macan tutul yang sudah tertangkap itu mestinya dikembalikan ke habitat awal. Di samping itu, perlu dilakukan pelestarian alam di hutan Gunung Lawu agar ketersediaan pakan macan tutul di Gunung Lawu tercukupi. 

 

Avatar
Editor:
Syifaul

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten