Lupus, “serigala” yang mengendap-endap di dalam tubuh
Logo gerakan kesadaran terhadap Lupus

Nama Lupus mungkin menarik tapi ini adalah penyakit yang berbahaya. Pengidapnya mengalami bercak kemerah-merahan di pipi seperti serigala. Karena itu, penyakit ini disebut lupus yang dalam bahasa Latin berarti serigala.

Logo gerakan kesadaran terhadap Lupus
Penyakit ini terkait sistem imunitas tubuh. Antibodi tubuh tidak hanya menyerang benda asing yang membahayakan tubuh namun juga menyerang organ dalam. “Kelainan ini disebut autoimunitas,” kata dr Achmad Muzayin, dokter yang bertugas di Boyolali.

Hal ini kebalikan dari HIV/ AIDS yaitu terganggunya sistem kekebalan tubuh. Menurut data WHO, sekitar 5 juta orang di dunia menderita lupus. Di Indonesia, jumlahnya mencapai 200.000 orang. “Semoga angka ini tidak merupakan fenomena gunung es,” kata Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih dalam www.depkes.go.id. Kepedulian terhadap penyakit ini diwujudkan dengan gerakan peringatan Hari Lupus Sedunia yang jatuh setiap 10 Mei.

“Hingga kini belum diketahui, tetapi ada indikasi genetik dan lingkungan dapat mempengaruhi timbulnya lupus,”

Lupus yang digelari penyakit seribu wajah ini lebih banyak menyerang wanita pada usia produktif antara 15 tahun hingga 45 tahun. Dokter spesialis saraf Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) Yarsis, dr Rusdi Lamsudin, mengatakan secara umum ada tiga jenis penyakit lupus, yaitu Cutaneus lupus yang mempengaruhi bagian kulit. Ada ruam/radang pada kulit yang sering terpapar sinar matahari seperti leher. Fisiknya berwarna merah, timbul dan bersisik. Kedua, Systemic Lupus Erythematosus (SLE) menyerang organ tubuh seperti kulit, persendian, paru-paru, darah, pembuluh darah, jantung, ginjal, hati, otak dan syaraf. Ketiga, Drug induced lupus (DIL) timbul setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun menggunakan obat-obatan tertentu. Rusdi melanjutkan, Cutaneus lupus dapat berkembang menjadi Systemic lupus namun hal itu dapat dicegah sebelumnya.

“Hingga kini belum diketahui, tetapi ada indikasi genetik dan lingkungan dapat mempengaruhi timbulnya lupus,” kata Rusdi. Diduga, penyakit ini menurun. Orangtua mewariskan faktor tertentu kepada keturunannya sehingga rentan terhadap lupus. “Hingga kini, tidak terdapat tes genetik untuk meneliti apakah seseorang rentan terhadap lupus atau tidak.”

Seorang Odapus dapat mengidentifikasi penyakitnya sedang aktif, dengan
merasakan kembalinya gejala yang telah dialami sebelumnya. Tetapi, terkadang muncul gejala baru, seperti demam, sakit persendian, pembengkakan persendian, cepat capai, kurang nafsu makan, rambut rontok, pedih atau borok pada lubang hidung atau mulut. “Suhu tubuh di atas 38 derajat Celcius bukan karena infeksi juga merupakan tanda-tanda.”

Oleh: Dina Ananti Sawitri Setyani, Ahmad Hartanto


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho