Pemain Mambaul Hikmah Wonogiri (merah) berebut bola dengan pemain Nurul Islam Boyolali (biru) dalam laga Liga Santri Nusantara di lapangan Kottabarat,Solo, Kamis (17/9). JIBI/Solopos/ Sunaryo Haryo Bayu

LSN 2016 segera digelar.

Solopos.com, SEMARANG — Sebanyak 18 pondok pesantren mengikuti Liga Santri Nusantara (LSN) Regional II Jawa Tengah di Lapangan Arhanudse 15 Kodam IV/Diponegoro, 1-4 September 2016.

"LSN ini menggunakan sistem gugur dan ada verifikasi untuk memastikan bahwa peserta benar-benar santri pondok pesantren," kata Koordinator LSN Regional II Jawa Tengah Sukirman di Semarang, Kamis (25/8/2016).

Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan LSN Regional II Jateng dibagi menjadi tiga zona yaitu zona I meliputi Banyumas dan Pekalongan, zona II meliputi Kota Semarang, Kabupaten Kendal, Semarang, Demak, Jepara, Kudus, Grobogan, Pati, Rembang, dan Blora, sedangkan zona III meliputi Solo Raya serta Kedu.

Juara pertama dari tiap zona LSN di Jateng akan ditandingkan di tingkat nasional, dan kemudian dikerucutkan menjadi 32 tim dari seluruh Indonesia.

"Untuk tingkat nasional, pelaksanaan dipusatkan di Yogyakarta dan Solo," ujarnya usai pelaksanaan "Technical Meeting" LSN 2016 Regional II Jawa Tengah.

Pelatih sepak bola usia muda yang juga mantan pelatih Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Edy Prayitno mengungkapkan bahwa pondok pesantren memiliki banyak calon pemain sepak bola yang potensial tapi belum digarap.

"Saat mengunjungi salah satu pondok pesantren di Magelang, saya menemukan dua orang (santri) yang bakatnya melebihi PPLP, bedanya di PPLP digenjot, sedangkan di ponpes hanya asal-asalan," ujarnya.

Ia mengharapkan melalui LSN 2016 ini ada santri pemain sepak bola yang berakhlak mulia.

"Kedepannya tidak ada lagi pemain yang memukul wasit, tapi cium tangan wasit," katanya.

Kepada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, Edy mengusulkan agar pembentukan karakter para pesepak bola Indonesia dilakukan di pondok pesantren dan Akademi Militer.

"Tiga bulan pertama dimasukan ke pesantren, supaya para pemain memiliki karakter yang jujur dan berpikiran bahwa segala hal yang dilakukan dengan jujur terutama dalam sepakbola adalah ibadah, kemudian para pemain dimasukan ke akademi militer untuk membentuk karakter berjuang, disiplin, semangat tinggi, serta tidak kenal menyerah," ujarnya.

Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga Jawa Tengah Budi Santoso menyambut baik dilaksanakan LSN 2016.

"Saya berharap ini bisa bergulir hingga ke tingkat nasional, dan yang penting adalah memastikan bahwa peserta LSN benar-benar santri pondok pesantren," katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten