Muhammad Ilham Syifai/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (21/6/2019). Esai ini karya Muhammad Ilham Syifai, alumni Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah ilham.frnky@gmail.com.  

Solopos.com, SOLO -- Pencinta sepak bola di Kota Solo, juga di kawasan Soloraya, jadi bingung dan heran dengan tata kelola manajerial Persis Solo yang akhir-akhir ini cukup sering mengganti jajaran manajemen.

Sejak 2017 hingga 2019 atau dalam kurun waktu tiga tahun, Persis Solo berganti manajer tim 10 kali dengan delapan orang yang berbeda. Pergantian pada musim ini terjadi malah ketika kompetisi belum bergulir.

Persis Solo yang sering berganti-ganti manajer ini tentu memunculkan pertanyaan besar di kalangan publik pencinta sepak bola di Kota Solo. Apakah para pengurus dan jajaran manajemen benar-benar ingin mengangkat prestasi Persis ketika dilihat dari kurang baiknya tata kelola manajemen?

Apabila kita mau menengok sejarah eksistensi pengurus Persis Solo pada masa lalu, loyalitas menjadi hal penting dalam membangun semangat untuk  mengangkat tim kebanggaan masyarakat Kota Bengawan ini.

Contohnya adalah Ketua Harian Persis Solo bernama Sukarsono, seorang petinggi polisi di Kota Solo, yang mengabdikan diri untuk Persis Solo sejak 1970-an sampai 1980-an.

Jatuh bangun Persis dan kondisi Persis yang sedang terpuruk pada masa itu tidak menyurutkan minat Sukarsono untuk tetap mempertahankan Persis Solo dan mencegah jatuh dalam keterpurukan yang lebih parah.

Jika ditanya adakah pengurus Persis Solo selain Sukarsono yang memiliki loyalitas yang tinggi? Saya tegas menjawab: ada. Salah seorang di antara mereka adalah Mbah Warno. Bagi para fans Persis Solo saat ini tentu Mbah Warno adalah nama yang cukup asing.

Tukang Bal

Bagi para pemain atau mantan pengurus Persis Solo era dulu yang saat ini masih sugeng pasti ada yang mengenal dia. Mbah Warno adalah seorang ball holder atau tukang bal (bahasa familier masa kini adalah kitman) di Persis Solo sejak era kolonial penjajahan Belanda hingga tahun 1980-an.

Bukan waktu yang sebentar mengingat dedikasi Mbah Warno menjadi seorang pengurus Persis melampaui empat zaman dari era kolonial, pedudukan Jepang, masa kemerdekaan dan revolusi, hingga masa Orde Baru.

Selain menjadi tukang bal di Persis Solo, ia juga merupakan tenaga serbaguna yang setia menemani langkah Persis Solo dalam mengarungi persepakbolaan di negeri ini pada masa itu. Dalam sebuah foto pengurus Persis Solo bertahun 1953, Mbah Warno berdiri di samping Kolonel Soeharto yang kelak pada kemudian hari menjadi Presiden Republik Indonesia menggantikan Soekarno pada 1967.

Soeharto sebelum menjadi presiden memang pernah menjabat sebagai pengurus Persis Solo, tepatnya sebagai wakil ketua. Pada saat itu ketua umum terpilih Persis Solo adalah A.E. Said yang merupakan pengurus tim internal Persis Solo dari kepanduan Muhammadiyah bernama Hizbul Wathan.

Soeharto bisa menjadi pengurus Persis karena ia juga merupakan pengurus salah seorang anggota tim internal Persis Solo pada saat itu yang bernama Persatuan Pemuda Penumping atau PPP.

Dia pada tahun-tahun tersebut memang sudah berkarier di militer dan sedang berdinas di Kota Solo sebagai Komandan RI 15. Selain itu, Soeharto juga sudah menikahi Siti Hartinah yang juga merupakan salah seorang kerabat bangsawan Mangkunegaran.

Meski faktanya pernah menjadi pengurus Persis Solo, dalam buku-buku biografi Soeharto tidak pernah disebut bahwa ia pernah menjadi pengurus Persis Solo. Pengabdian Seoharto sebagai pengurus Persis Solo bisa dikatakan tidak berlangsung lama karena sebagai anggota militer ia sangat rentan dipindahtugaskan ke daerah lain.

Mungkin ini adalah salah satu alasan kelak pada kemudian hari pada tahun 1983, tim Galatama milik anaknya, Sigit Harjoyudanto, yang bernama Aseto FC, berpindah homebase dari Jakarta ke Solo karena memang keluarga Cendana memiliki keterkaitan cukup erat dengan Kota Solo.

Dedikasi Tinggi

Mbah Warno merupakan seseorang yang sangat loyal dan memiliki dedikasi tinggi untuk Persis Solo. Selain sebagai tukang bal ia juga menjadi seorang penempel poster atau plakat berisi pengumumuan pertandingan sepak bola yang akan dilaksanakan di Solo pada masa itu.

Pengumuman/pemberitahuan akan adanya pertandingan sepak bola pada masa itu belum secanggih saat ini. Kini mengumumkan jadwal pertandingan sepak bola cukup menggunakan perangkat komunikasi elektronik seperti televisi atau Internet.

Pada tahun-tahun itu selain dengan menempel poster, pengumuman atau wara-wara pertandingan lazimnya dilakukan dengan menggunakan pengeras suara yang diletakkan di mobil/truk kemudian kendaraan tersebut berkeliling kota hingga ke desa-desa menyiarkan berita bahwa akan ada pertandingan sepak bola.

Selain disebarkan melalui kendaraan yang berkeliling kota dengan pengeras suara dan menempel poster, jadwal pertandingan sepak bola yang cukup bergengsi atau bigmatch juga diumumkan melalui iklan radio atau dimuat di koran atau surat kabar.

Selain menjadi pengurus keperluan perangkat pertandingan seperti bola dan pompanya, air minum, dan keperluan-keperluan lain untuk Persis Solo baik saat menggelar pertandingan maupun latihan, Mbah Warno juga menjadi penjaga Balai Persis yang berlokasi di Jl. Gadjah Mada, Kota Solo.

Kemungkinan besar dia menjadi penjaga Balai Persis sejak Balai Persis berdiri. Sebelum tahun 1953 belum ada Balai Persisi dan Persis Solo masih menggunakan salah satu ruangan di Balai Muhammadiyah Solo untuk kantor.

Bukan Hanya Mencari Keuntungan Pribadi

Mbah Warno mengabdikan dirinya untuk mengurus Persis seak era kolonial. Bersama istrinya, Mbah Warno menempati sebuah ruangan di Balai Persis untuk ditinggali bahkan hingga keduanya berusia lanjut karena memang Mbah Warno dan istrinya tidak memiliki rumah pribadi.

Mbah Warno masih sehat saat menginjak usia 80 tahun pada 1983. Pada hari tuanya, selain menjadi penjaga Balai Persis, Mbah Warno juga menyibukkan diri menjadi penjual rokok eceran di depan Balai Persis untuk sekadar menambah uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari bersama istrinya.

Tidak diketahui pasti kapan Mbah Warno wafat dan di mana kini makamnya. Menurut penuturan salah seorang legenda Persis Solo bernama Hong Widodo, kemungkinan Mbah Warno wafat pada tahun 1980-an.

Nama Mbah Warno seolah-olah juga menghilang dan tidak banyak diketahui oleh fans dan pengurus Persis Solo pada masa kini, padahal loyalitas dan dedikasi hidupnya tidak sedikit dan tidak kecil bagi Persis Solo.

Pada era industri sepak bola modern yang menuntut profesionalisme seperti saat ini, tidak ada salahnya para pengurus atau anggota tim manajerial klub sepak bola memiliki loyalitas, daya juang, serta dedikasi yang tinggi dalam mengelola suatu klub, tidak hanya mencari keuntungan materi untuk mengisi saku pribadi.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten