Lockdown India, Warga Lebih Takut Mati Kelaparan daripada Corona
Buruh migran yang terdampak lockdown India, kembali ke kampung halaman, 27 Maret 2020. (Reuters/Adnan Abidi)

Solopos.com, NEW DELHI - Jutaan buruh harian di India mengalami kondisi memprihatinkan usai Perdana Menteri Narendra Modi mengumumkan lockdown Selasa (24/3/2020). Mereka terancam tidak mendapat penghasilan selama tiga pekan. Sebagian mungkin kehabisan makanan dalam beberapa hari mendatang.

India Lockdown, Orang Miskin Takut Mati Kelaparan

Setidaknya 90 % tenaga kerja India berada di sektor informal, berdasarkan data Organisasi Pekerja Internasional (ILO). Mereka bekerja, misalnya, sebagai petugas keamanan, pembersih, tukang becak, pedagang kaki lima, pengumpul sampah, dan pekerja rumah tangga.

Sebagian besar tidak memiliki akses ke dana pensiun, izin sakit, cuti, dan asuransi apapun. Kebanyakan tidak punya rekening bank dan mengandalkan dana tunai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Populasi Terdampak

Ada juga masalah populasi mengambang, yaitu orang-orang yang tinggal di suatu negara bagian dalam jangka waktu pendek untuk kemudian pindah dan bekerja ke negara bagian lain.

Tanggapi Kerusuhan India, Begini Kata Zakir Naik

Beberapa hari sebelum penghentian layanan dimulai paad 23 Maret, ratusan ribu pekerja migran bepergian hingga memadati kereta dari kota-kota yang terdampak wabah. Peristiwa itu meningkatkan risiko penularan ke masyarakat setempat dan para pakar khawatir India akan menghadapi tantangan berat dalam dua pekan mendatang.

Tapi, tidak semua orang mampu bepergian ke kampung halaman. Kishan Lal, yang bekerja sebagai tukang becak di Kota Allahabad, mengatakan dirinya tidak punya uang selama empat hari terakhir.

"Saya harus mendapatkan uang agar keluarga saya bisa makan. Saya mendengat pemerintah akan memberi kami uang, walau saya tidak tahu kapan dan bagaimana caranya," kata Lal.

Tak Cuma Corona, Hand Sanitizer Ini Bisa Usir Makhluk Halus

Dampak Lockdown India

Temannya, Ali Hasan, yang bekerja sebagai pembersih di sebuah toko, mengaku sudah kehabisan uang untuk membeli makanan.

"Toko sudah tutup dua hari lalu dan saya belum diupah. Saya tidak tahu kapan toko buka. Saya sangat cemas. Saya punya keluarga, bagaimana saya bisa memberi makan mereka?" tanyanya.

Ramesh Kumar, dari Distrik Banda di Negara Bagian Uttar Pradesh, punya kondisi serupa.

"Saya mendapat 600 rupee (sekitar Rp 127.000) setiap hari dan saya harus memberi makan lima orang. Kami akan kehabisan makanan dalam beberapa hari. Saya tahu risiko virus corona, tapi saya tidak bisa melihat anak saya kelaparan," ujarnya sebagaimana dilansir BBC Indonesia.

Bukan Lockdown, Ini Alasan Warga Tutup Akses Masuk Kampung Krapyak Sragen

Mohammed Sabir, penjual minuman yoghurt di Delhi, telah memperkerjakan dua orang baru-baru ini guna mengantisipasi penjualan pada musim panas.

"Sekarang saya tidak bisa membayar mereka, saya tidak punya uang. Keluarga saya menghasilkan uang dari bertani di desa. Namun panen mereka rusak tahun ini gara-gara badai, jadi mereka mengharapkan saya untuk bisa membantu.

"Saya merasa sangat tidak berdaya. Saya takut kelaparan bisa membunuh banyak orang terlebih dulu sebelum virus corona," katanya.

Sumber: Suara.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho