Lima BUMN Danai Pembangunan Sarpras di Gunung Gajah Klaten
Menteri BUMN, Rini M. Sumarno, mengecat tembok masjid Al Jihad, Dukuh Kepoh, Desa Gunung Gajah, Bayat, Klaten, Sabtu (24/3/2018). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos)

Lima BUMN mendanai pembangunan sarana dan prasarana di objek wisata Gunung Gajah, Klaten.

Solopos.com, KLATEN -- Lima badan usaha milik negara (BUMN) patungan mendanai pembangunan sejumlah sarana dan prasarana (sarpras) di Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat, Klaten, Sabtu (24/3/2018). Pembangunan sarpras itu menggunakan dana corporate social responsibility (CSR) dengan total Rp63 juta.

Kelima BUMN itu meliputi Perum Perhutani, PT Jasa Marga (Persero), PT Indah Karya (Persero), PT Virama Karya (Persero), dan PT Pindad (Persero). Mereka melakukan pembangunan sejumlah sarpras di Desa Gunung Gajah seperti pengecatan Masjid Al Jihad di Dukuh Kepoh, penyerahan karpet kepada takmir masjid masjid hingga renovasi ringan fasilitas MCK masjid yang dibangun pada 1980.

Kemudian pengecatan pagar dan gapura Kantor Desa Gunung Gajah dan SDN 1 Gunung Gajah. Terakhir, dana itu juga dialokasikan untuk pengecoran jalan sepanjang 120 meter kali tiga meter di Dukuh Girisono. Jalan itu menjadi akses menuju objek wisata Bukit Cinta dan Watu Prahu.

Kepala KPH Perum Perhutani Solo, Eka Muhamad Ruskanda, mengatakan program pembangunan sarpras itu dikemas dalam kegiatan Padat Karya Tunai (PKT) yang menjadi rangkaian peringatan HUT Bersama BUMN. Dalam PKT, setiap pekerja menerima upah dengan ketentuan untuk buruh Rp60.000 per hari, tukang Rp70.000 per hari, dan mandor Rp75.000 per hari.

"Total ada 500 warga yang terlibat dalam PKT di Gunung Gajah," kata dia, saat ditemui Solopos.com di sela-sela acara, Sabtu (24/3/2018).

Ia menjelaskan dipilihnya Gunung Gajah sebagai lokasi CSR karena wilayah itu memiliki Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) paling besar yang dinaungi Perhutani Solo dari aspek kerja sama wisata. Salah satunya pembangunan objek wisata Bukit Cinta.

"Kami ada beberapa rintisan wisata. Yang jadi percontohan di sini. Kemudian, ada lagi di Sepet, Jatisrono," tutur Eka.

Eka menambahkan dari pembangunan wisata itu ada efek berlipat yang bisa dinikmati masyarakat misalnya ada pedagang, pemuda bisa mengelola parkir, suvenir, dan lainnya. Keberadaan Bukit Cinta mendorong sejumlah desa di sekitarnya mengembangkan konsep wisata yang mirip.

"Di sekitar sini ada dua-tiga desa yang mengembangkan destinasi wisata mencontoh Gunung Gajah. Tapi investornya mereka cari sendiri. Perhutani hanya aspek legalnya," terang Eka.

Menteri BUMN, Rini M. Sumarno, saat meninjau lokasi di Gunung Gajah menyampaikan dana CSR yang digunakan menandakan BUMN itu sehat karena mampu mencetak laba. Ia memerintahkan kepada BUMN agar membantu daerah di wilayah kerjanya menggunakan dana CSR.

"Kami datang ke sini mencoba membantu hal-hal yang kami bisa bantu semaksimal mungkin. Di sini cukup bagus, kami hanya mempercantik beberapa aspek saja seperti masjid, kantor desa, dan jalan," kata Rini.

Kepala Desa Gunung Gajah, Yoyok Kartiko Cahyono, mengatakan bantuan CSR BUMN di wilayahnya berdampak langsung baik untuk infrastruktur maupun kepada masyarakat. Konsep padat karya membikin masyarakat mendapatkan penghasilan tambahan atas kerjanya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom