Libatkan 4 Provinsi, Luhut Pandjaitan Minta Pusat Karantina OTG
Menteri Koordinator (Menko) bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan . (Antara-Biro Komunikasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi)

Solopos.com, JAKARTA —  Luhut Binsar Pandjaitan selaku wakil ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang ditunjuk Presiden Joko Widodo menangani penyebaran corona di sembilan provinsi meminta pemerintah daerah menyiapkan rencana pembangun pusat karantina orang tanpa gejala atau OTG Covid-19.

Luhut Pandjaitan sehari-harinya adalah menteri koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Langkah perdananya selaku wakil ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang ditunjuk Presiden Joko Widodo menangani penyebaran corona di sembilan provinsi adalah rencana melibatkan tentara dan polisi dalam penanganan persebaran virus corona.

Namun, Rabu (16/92020), ia meminta seluruh pemda untuk menjelaskan secara detail mengenai rencana pembangunan pusat-pusat karantina untuk isolasi pasien terkonfirmasi Covid-19 tanpa gejala (orang tanpa gejala/OTG) dan bergejala ringan. "Ini penting untuk menghindari isolasi mandiri di rumah yang dapat menularkan penyakit kepada keluarga yang lain," kata Luhut Pandjaitan saat memimpin rapat koordinasi virtual.

13 Peti Mati Warga Kelas Menengah Mesir Kuno Ditemukan di Sahara

Sesuai perintah Presiden Jokowi untuk mengendalikan penularan Covid-19 di sembilan provinsi, Luhut Pandjaitan yang menjabat sebagai wakil ketua Komite Kebijakan Pengendalian Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, memimpin rapat koordinasi dengan empat kepala daerah, yakni Gubernur Sulawesi Selatan, Gubernur Kalimantan Selatan, Gubernur Bali, Gubernur Sumatra Utara. Dilibatkannya pula jajaran aparat di bawah kapolda dan pangdam terkait.

Selain Sulsel, Kalsel, Gubernur Bali, dan Sumut, Luhut juga bertanggung jawab atas pengurangan tingkat persebaran virus corona di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Papua, dan Bali. Tak jelas mengapa seluruh wilayah di Pulau Jawa, Bali, dan Papua diabaikannya terlebih dulu.

Dalam rapat koordinasi itu, Luhut Pandjaitan memantau upaya-upaya pencapaian target dan rencana operasi untuk menangani Covid-19 di empat provinsi yang termasuk penyumbang terbanyak kasus positif virus corona di Indonesia, khususnya penanganan OTG dan penyandang Covid-19 bergejala ringan.

Serial Thailand The Gifted: Graduation Trending di Tayang Perdana

"Saya ingin penerapan disiplin protokol kesehatan untuk perubahan perilaku dipertegas pelaksanaannya, lalu harus ada penurunan penambahan kasus harian, peningkatan angka kesembuhan, penurunan angka kematian, dan penurunan angka kematian per total populasi," kata Luhut Pandjaitan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.

Libatkan Kabupaten & Kota

Ia meminta masing-masing kabupaten dan kota di provinsi-provinsi itu memberikan data-data yang menunjukkan variable jumlah kasus, kesembuhan, dan tingkat kematian.

"Saya minta detail mengenai masing-masing kluster penyebaran yang diklasifikasikan menjadi beberapa sub kluster besar yaitu perkantoran, keluarga, pasar, maupun titik-titik keramaian yang lain," perintah Luhut kepada empat kepala daerah yang hadir.

Kejutkan Fans dengan Teaser Misterius, CL 2NE1 Comeback Senin!

Selain itu, Luhut juga meminta rencana operasi lapangan dari polda dan kodam untuk pengerahan anggota dalam penegakan disiplin protokol kesehatan di titik-titik keramaian.

Sebelumnya, pada Senin (14/9/2020) Presiden Joko Widodo memerintahkan Luhut untuk mengawal ketat penanganan Covid-19 di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Bali, Sumatera Utara dan Papua. Provinsi-provinsi tersebut berkontribusi terhadap 75% dari total kasus atau 68% dari total kasus yang masih aktif di Indonesia.

Dikutip dari situs corona.jakarta.go.id, jumlah kasus positif di DKI Jakarta per Rabu (16/9/2020), telah mencapai 56.953 orang dari jumlah nasional 225.030 kasus. Terkait hal ini, sekitar 77% kamar rawat inap dan ICU telah terisi oleh pasien Covid-19. Lalu, klaster terbanyak di ibu kota merupakan klaster keluarga.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom