Warga bekerja bakti menyingkirkan material longsor di dapur rumah Pujo Suwarno, warga Sapatan RT 004/RW 005, Kembang, Jatipurno, Wonogiri, Rabu (20/3/2019). (Istimewa/BPBD Wonogiri)

Solopos.com, WONOGIRI -- Dapur rumah warga di Sapatan RT 004/RW 005, Kembang, Jatipurno, Wonogiri, jebol setelah terhantam material https://soloraya.solopos.com/read/20190225/495/974110/wonogiri-waspada-longsor" title="Wonogiri Waspada Longsor ">longsor dari lereng bukit di dekatnya, Selasa (19/3/2019) pukul 15.00 WIB. 

Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa itu. Bencana itu menambah panjang daftar kejadian tanah longsor pada kurun waktu kurang dari tiga bulan ini. Informasi yang dihimpun Solopos.com dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Rabu (20/3/2019), longsor di Kembang terjadi setelah hujan cukup deras beberapa hari terakhir. 

Akibat kejadian tersebut dinding dapur berstruktur beton sepanjang lebih kurang 5 meter dengan tinggi sekitar 2,75 meter jebol. Beruntung, penghuni rumah, yakni keluarga Pujo Sumarno, saat itu tidak ada yang beraktivitas di dapur. 

Setelah kejadian itu warga bergotong royong menyingkirkan material https://soloraya.solopos.com/read/20190108/495/963826/2-kejadian-tanah-longsor-dan-1-angin-kencang-guncang-wonogiri" title="2 Kejadian Tanah Longsor dan 1 Angin Kencang Guncang Wonogiri">longsor dan puing-puing bangunan, Rabu. Kepala Pelaksana Harian BPBD Wonogiri, Bambang Haryanto, kepada Solopos.com, Rabu, mengatakan longsor terjadi beberapa kali di Jatipurno sejak Januari lalu. 

Dalam peristiwa itu tidak ada ada korban jiwa maupun luka. Hampir semua wilayah di Wonogiri rawan longsor karena terdapat bukit. Bambang mengimbau warga, terutama yang bermukim di lereng bukit atau dekat lereng bukit, selalu waspada. 

Warga harus rutin mengecek kondisi lingkungan sekitar untuk mendeteksi gejala longsor. Selain terdapat retakan atau tanah bergerak, gejala lain yang biasanya muncul sebelum longsor adalah sumber air yang tiba-tiba muncul. 

Jika ditemukan retakan tanah, warga sebaiknya mencegah agar air tak mengalir ke celah tersebut. Air yang masuk ke celah membuat struktur tanah semakin lembek sehingga meningkatkan potensi longsor.

“Sekarang ini sering terjadi hujan dengan intensitas sedang maupun lebat. Warga harus selalu waspada. Kalau hunian ada di dekat lereng, sebaiknya warga mengurangi kecuramannya,” kata Bambang.

Data yang diperoleh Solopos.com, tanah https://soloraya.solopos.com/read/20190121/495/966382/hujan-dan-longsor-rusak-52-rumah-warga-wonogiri" title="Hujan dan Longsor Rusak 52 Rumah Warga Wonogiri">longsor pada Januari tercatat enam kejadian yang mengakibatkan lima unit rumah rusak sedang dan satu unit rumah roboh. Salah satunya terjadi di Jatipurno. 

Sementara pada Februari terjadi 12 kali longsor yang mengakibatkan 14 unit rumah rusak sedang, lima unit rumah rusak ringan, dan satu ruas bahu jalan rusak. Camat Jatipurno, Suradi, bersyukur saat kejadian tidak ada anggota keluarga Pujo yang beraktivitas di dapur. 

Namun, beberapa perkakas dapur rusak. Kerugian material ditaksir Rp1 juta-Rp2 juta. Potensi bencana tanah longsor di Jatipurno cukup tinggi mengingat banyak bukit. Tak sedikit rumah warga di dekat bukit, terutama di dataran tinggi, seperti Girimulyo, Jeporo, Kembang, dan Slogoreto.

“Imbauan gencar kami laksanakan agar warga selalu waspada. Alhamdulillah semua desa sudah menjadi desa siaga bencana dan punya sukarelawan. Mereka selalu siap membantu sewaktu-waktu jika terjadi bencana,” kata Camat. 

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten