Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau penyegelan di Pulau D reklamasi Teluk Jakarta, Jakarta, Kamis (7/6/2018) lalu. (Antara - Dhemas Reviyanto)

Solopos.com, SOLO -- Aktor yang kini menjadi aktivis pemerhati lingkungan hidup Leonardo Di Caprio menyoroti kondisi Tempat Penampungan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang yang terletak di Bekasi, Jawa Barat.  Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengamini kritik aktor Titanic tersebut.

Menurut Anies, kritik dari Leonardo DiCaprio soal tumpukan sampah di Bantargebang yang menggunung sebagai hal yang lumrah. Apalagi, objek kritik sang aktor sudah menjadi rahasia publik.

"Memang iya menumpuk itu semua barang, yang sudah semua orang tahu, jadi dia tidak menemukan ’barang’ yang baru. Itu ’barang’ yang kita semua tahu," kata Anies saat ditemui di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jumat (22/3/2019), dilansir Suara.com.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengklaim Pemprov DKI Jakarta sudah memikirkan solusi dan sedang membangun tempat pengelolaan sampah atau intermediate treatment facility (ITF) di Jakarta. "Yang kami lakukan sekarang adalah membangun ITF, sudah bangun satu nih dalam proses. Insya Allah akan bangun 3 atau 4 ITF lagi. Sesudah itu terbangun, maka sampah akan diolah jadi energi," tegasnya.

Sebelumnya, melalui akun Instagramnya, @leonardodicaprio, Leo mengunggah sebuah foto tiga laki-laki sedang mencari ikan di sebuah kubangan air di area penampungan sampah asal DKI Jakarta itu.

"Beberapa pria dari Desa Cikiwul menangkap ikan di air lumpur yang sangat tercemar yang meresap dari penampungan sampah Bantar Gebang. TPST Bantar Gebang menerima limbah dari sekitar 15 juta orang yang tinggal di Jakarta. Para pemulung membutuhkan sampah untuk hidup dan masyarakat Indonesia butuh pemulung untuk mendaur ulang semua material yang dibuang," demikian tertulis di unggahan pada 19 Maret 2019 itu.

Unggahan Leonardo ini kemudian menyinggung status Indonesia sebagai penghasil sampah plastik terbesar nomor dua di dunia setelah China, dengan 187,2 juta ton pertahun dan 1 juta ton di antaranya tumpah ke laut. Penelitian terakhir, kata dia, menemukan plastik yang rusak memancarkan jejak metan dan etilen yang merupakan zat penyebab efek gas rumah kaca.

"Emisi ini terjadi ketika material plastik terpapar radiasi matahari baik saat di air maupun di udara. Namun di udara angka emisinya jauh lebih tinggi. Hasilnya menunjukkan plastik mewakili sumber gas yang relevan dengan perubahan iklim saat ini, yang diduga meningkat seiring meningkatnya produksi plastik dan penumpukannya. Polyethilene dipakai di tas belanja, zat polimer yang paling banyak diproduksi dan dibuang secara global dan paling produktif menghasilkan metana dan etilen."


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten