Lelaki yang Mencintai Kopi

Yang paling menonjol dari lelaki itu di mata para tetangganya adalah kebiasaannya nongkrong di warung dekat rumahnya, menyeruput kopi dan mengisap kretek. Hal itu dilakukan setiap keluar dari rumah sakit. Seolah hendak merayakan kemenangan karena lolos dari kematian. Kebiasaannya itu jadi pembicaraan tetangganya yang juga sering nongkrong di warung itu.

“Dia mau bunuh diri.”

“Dia gila.”

“Atau punya ‘orang dalam’ di akherat?!”

Begitu komentar orang-orang tentang kebiasaan lelaki itu. Tapi lelaki itu seolah tak peduli. Dia santai saja menikmati pahit kopi dan asap tembakau yang ia isap dengan hikmat seolah sedang beribadah. Bukankah kemenangan selalu layak dirayakan? Demikian batinnya. Bebas dari rumah sakit itu seperti bebas dari penjara. Pasien-pasien adalah narapidana. Para dokter dan perawat adalah sipirnya. Di rumah sakit banyak sekali larangan. Makan dijatah. Keluarga berkunjung ada jadwalnya. Sama seperti penjara. Seorang napi bisa keluar penjara karena masa hukumannya berakhir. Seorang pasien keluar dari rumah sakit karena dinyatakan sembuh atau mati. Jadi apa salahnya merayakan kebebasan dengan kopi? Toh, aku belum mati dan berhak atas sejumput kebahagiaan ini, demikian batinnya sambil menyeruput kopinya lagi, lagi dan, lagi.

Rasan-rasan tetangganya itu bukanlah apa-apa baginya dibandingkan dengan omelan istrinya yang seolah seperti guntur yang menyalak-nyalak dari langit mendung. Bikin gentar dan ciut nyali lelaki manapun seandainya dia tertangkap basah nongkrong di warung, menikmati kopi dan mengisap kretek. Dua barang laknat yang divonis dokter bisa membuatnya tumpas.

“Mau mati kamu ya, Kang? Kopi dan rokok, berhenti! Berhenti! Masih juga dikonsumsi sembunyi-sembunyi. Mau bikin susah keluargamu lagi? Mau bikin susah aku ya? Aku sudah tua, Pak. Tua! Masih untung kamu tidak disuntik mati sama rumah sakit. Bikin susah orang saja kerjanya.”

Setiap kali kena marah istrinya, ia memilih diam sambil pura-pura membersihkan kopiahnya yang sudah lusuh dimakan usia. Tapi istrinya sekarang sedang tidak di rumah. Sedang belanja ke pasar dan menjenguk cucunya. Kemungkinan besar pulangnya agak siang. Jadi ia bisa dengan santai menikmati kopi dan mengisap kreteknya tanpa sembunyi-sembunyi. Sambil mendengarkan cericit burung pipit dan bising lalu lalang kendaraan.

Di belakang warung ada hamparan sawah. Sedangkan di depan terbentang jalan raya yang ramai. Rumahnya tak jauh dari situ. Jarak empat rumah dari warung Mpok Ijah. Warung tempat ia biasa ngopi.

“Hati-hati, Kang Ladrak. Jangan banyak-banyak, nanti ngamar lagi,” ujar Ijah si pemilik warung memperingatkan Ladrak sambil mengelap meja warungnya.

“Belum juga habis sebatang, Mpok,” sanggah Ladrak sambil tersenyum. Mpok Ijah cuma geleng-geleng kepala.

Sebenarnya sudah delapan kali Ladrak masuk rumah sakit dalam satu tahun ini. Diagnosis dokter, Ladrak menderita Pneumotoraks atau kelainan pada jaringan paru berupa melemahnya fungsi paru, kerusakan erteri koroner hingga akhinya dinding paru paru menjadi rapuh dan mudah terjadi kebocoran. Orang awam menyebutnya paru-paru bocor. Serangannya biasanya ditandai dengan nyeri dada atau bahu yang luar biasa, sesak napas, denyut jantung menjadi cepat, serta kulit berubah warna menjadi kebiru-biruan karena kekurangan oksigen dan kemudian jika tidak tahan akan jatuh pingsan.

Pingsan. Ya, pingsan. Itulah yang dialami Ladrak tiap kali istrinya melarikannya ke rumah sakit. Hingga Ladrak harus ditangani di ICU dan dokter memasukkan pipa ke dalam rongga paru-parunya untuk mengeluarkan udara berlebih.

Kali pertama Ladrak masuk rumah sakit saat usianya tepat 69 tahun. Istri dan anak-anaknya menangis. Berpikir bahwa Ladrak akan mati. Para tetangganya mulai menggelar tahlilan di rumahnya untuk memohon keselamatan Ladrak. Sebab sudah hampir 10 hari Ladrak di ICU namun tak juga siuman. Dokter yang menanganinya seperti sudah pasrah. Saat semua alat-alat yang menancap di tubuh Ladrak hendak dilepas itulah Ladrak sadar. Terjaga. Dan kemudian kondisinya berangsur membaik. Begitu terus kejadiannya. Sampai sembilan kali. Dan yang paling sering selalu usai ngopi. Seolah-olah Ladrak dan kopi adalah genta kematian yang salah waktu berbunyi. Sejenis peristiwa salah tangkap dari malaikat Izrail. Tapi salah tangkap sampai sembilan kali dengan orang yang sama? Atau Ladrak seolah sedang dipermainkan? Entahlah.

“Ingat kata dokter, Kang. Ingat,” kata Ijah lagi sambil menanak nasi. Matahari terus meninggi. Menjelang siang. Dan Ladrak masih duduk santai di warung itu.

“Tentu, mpok. Tentu. Aku ingat betul kata dokter. Dokter hanya membantu. Tuhan yang menentukan hidup mati seseorang,” seloroh Ladrak sambil mengisap rokoknya dalam-dalam hingga dadanya sesak dan terbatuk-batuk. “Tapi soalnya, yang belum aku habis pikir, nih Mpok, kalau Tuhan yang menentukan sehat dan sakitnya seseorang, hidup dan mati seseorang, mengapa dokter yang mendapat bayaran? Kok bukan kotak amal atau takmir masjid. Yakin uang itu disampaikan ke Tuhan?”

Mpok Ijah hanya angkat bahu. Tetangga lain yang juga nongkrong di warung kopi itu Cuma saling berbisik-bisik.

“Dia gila”

“Atau punya ‘orang dalam’ di akhirat?!”

Tapi Ladrak tak peduli dengan segala bisik-bisik itu. Buat apa menanggapi gosip? Tak ada guna. Lebih baik menikmati kopi. Atau mengaji. Lagipula siapa yang gila? Kalau aku gila aku sudah gantung diri di kamar mandi atau minum Baygon. Aku cuma mau menikmati hari tua dan mensyukuri hidup kok dibilang gila. Yang gila siapa? Ladrak mengisap kreteknya lagi. Ehm...nikmatnya, batin Ladrak.

Sehat itu kaya, Pak. Kaya! Jadi turuti kata dokter. Ladrak terngiang-ngiang lagi celoteh istrinya saat memarahinya ketika memergoki tertangkap basah merokok dan ngopi. Halah, yang Mahakaya itu Tuhan. Sakit itu pun tidak selalu miskin. Buktinya bisa bayar biaya rumah sakit dan memperkaya dokter. Karena itu mending berbahagia saat sulit menghadapi kehidupan sebab di situlah makna kesejatian. Bantah Ladrak. Tapi hanya di dalam hatinya ia berani membantah istrinya.

Sebenarnya bukan tak berani. Tapi terlalu cinta. Ladrak masih ingat saat ketemu istrinya di bus dulu. Halimah yang dulu masih duduk di kelas III SMA mengedipkan sebelah matanya saat Ladrak melihatnya. Sebagai calon pegawai negeri sipil yang baru dua hari bekerja dan belum pernah pacaran, diperlakukan begitu tentu saja jantungnya berdebar. Tapi tak ada keberanian mendekatinya. Baru ketika Ladrak hendak turun dari bus dan melintasi tempat duduk halimah di bangku belakang dekat pintu bus, ia memberanikan memandang Halimah, si cewek genit itu. Dan Halimah ternyata memandangnya. Malah mengedipkan lagi sebelah matanya. Maka sambil turun dari bus, ia membalas mengedipkan mata pada Halimah. Dan karena itulah ia tersungkur ke selokan di pinggir jalan. Seragam kekinya penuh comberan. Mengingat itu Ladrak kadang tersenyum sendiri. Karena perjumpaan itulah mereka berpacaran dan akhirnya menikah. Dikaruniai dua orang anak; lekaki dan perempuan. Kalau mengingat masa-masa itu sekarang Ladrak benar-benar merasa bahagia.

Puas menghabiskan secangkir kopi dan tiga batang rokok sejak pagi, Ladrak beranjak pergi. Matahari sudah meninggi, nyaris tegak lurus dengan kepala. Udara makin panas. Angin kemarau makin santer menerbangkan debu jalanan ke warung Mpok Ijah. Saat berdiri itulah, Saipul, tetangga Ladrak yang bekerja sebagai tukang ojek berteriak dari jalan. Memanggil Ladrak. Sambil berlari tergopoh-gopoh.

“Kang Ladrak, Kang...”

“Ada apa?”

“Mpok, Halimah, Kang, Mpok Halimah, kecelakaan! Parah! Ditabrak truk tronton”

Langit tiba-tiba tampak gelap. Gelap dan berputar. Ladrak mendadak tersungkur ke jalan. Pingsan.

***

Karimbo, anak sulung Ladrak baru saja keluar dari ruang farmasi, menebus obat, ketika adik perempuannya Aminati, muncul. Keduanya kemudian berpelukan. Dan berjalan ke ruang ICU.

”Ibu meninggal?”

Karimbo mengangguk.

”Astaghfirullah,” pekik Aminati. Air matanya tak tertahankan tumpah.

Beberapa saat kemudian seorang dokter keluar dari ruang ICU tempat Ladrak terbaring tak sadarkan diri. Aminati mencegatnya dan bertanya. “Dok, bagaimana dengan bapak saya?”

“Yang mana?”

“Ladrak”

Tanpa memandang Aminati yang sesegukan, si dokter menjawab: “Paru-parunya sudah bocor parah. Sudah tak ada lagi harapan.”

Tangis Aminati makin kencang. Hingga terdengar ke ruang ICU. Saat itulah ruang ICU tampak sibuk. Dokter kembali ke ruang ICU. Ternyata Ladrak siuman. Dan mengigau: kopi, beri aku kopi!

Jauh dari rumah sakit, di warung Mpok Ijah, orang-orang masih terus membicarakan Ladrak. Mereka bergosip.

“Dia punya nyawa sebelas. Seperti kucing.”

“Halah, apa guna hidup lama tapi sakit-sakitan dan kesepian.”

***

Dan seperti biasa, dua minggu setelah keluar ICU, Ladrak kembali melakukan ritualnya; nongkrong di warung dekat rumahnya, menyeruput kopi dan mengisap kretek. Seolah hendak kembali merayakan kemenangan karena lolos dari kematian. Tapi ia merasa asing dengan warung kopi itu. Tak ada Mpok Ijah.

“Mpok Ijah ke mana, Neng?” kata Ladrak.

“Meninggal, Kang. Serangan jantung. Seminggu lalu.”

“Innalillah!” ujar Ladrak. Kemudian ia menyeruput kopi dan mengisap kreteknya lagi dan lagi.

 

Edy Firmansyah

Penyair dan prosais. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen dan antologi puisi tunggal. Karyanya berupa cerpen, puisi dan artikel tersebar di banyak media cetak maupun online, baik nasional dan lokal.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom