Legenda Dewi Sri, Lambang Kesuburan Pertanian

agi masyarakat Jawa, Sunda dan Bali tradisional, sosok Dewi Sri dikenal sebagai dewi kesuburan dalam pertanian. Dia juga dikenal dengan sosok pelindung segala macam hasil bumi, terutama bahan makanan

 Ilustrasi Dewi Sri dalam rajutan bambu di Desa Jatiluwih, Kecamatan Tabanan, Bali (Instagram/@riohelmi)

SOLOPOS.COM - Ilustrasi Dewi Sri dalam rajutan bambu di Desa Jatiluwih, Kecamatan Tabanan, Bali (Instagram/@riohelmi)

Solopos.com, MAGELANG — Bagi masyarakat Jawa, Sunda dan Bali tradisional, sosok Dewi Sri dikenal sebagai dewi kesuburan dalam pertanian. Dia juga dikenal dengan sosok pelindung segala macam hasil bumi, terutama bahan makanan, terutama padi yang merupakan makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia.

PromosiBegal Payudara Tak Hanya Bikin Sakit Secara Fisik, Tetapi Juga Psikis

Berdasarkan pantauan Solopos.com di kanal Youtube Magur Mantan Guru, Jumat (14/1/2022), Dewi Sri juga dipercaya sebagai sosok yang mengatur kehidupan, kekayaan dan kemakmuran. Di sisi lain, dia juga dipercaya sebagai pelindung dari hal-hal yang menyebabkan kemiskinan, seperti hama yang sering membuat gagal panen padi dan faktor-faktor penghalang kesuburan lainnya.

Ada dua versi legenda Dewi Sri, yaitu versi budaya Jawa dan Sunda. Legenda versi Jawa ini juga ada banyak versi. namun kisah kali ini mengambil referensi dari Serat Manikmaya, Serat Pustakaraja Budhakawa, Serat Sejarah Ageng Nungsa Jewi, dan Serat Sejarah Wiwit Nabi Adam Lan Babu Kawa Tumurun Ing Ngarcapada.

Baca juga: Misteri Nyi Blorong di Goa Karang Bolong Kebumen

Legenda Dewi Sri

Kisah Dewi Sri diawali dari sebuah pertemuan para dewa di khayangan. Saat itu, Batara Guru mencoba memegang mustika sakti milik Batara Narada yang bernama Retna Dumilah. Siapapun yang memiliki mustika itu tidak akan merasa lapar, mengantuk dan basah saat terkena air. Namun tangan Batara Guru tidak kuat memegang mustika sakti tersebut dan terlepas hingga jatuh ke bumi hingga lapis ke tujuh.

Di bumi lapis ke tujuh tersebut, tinggalah seekor naga bernama Sang Hyang Antaboga yang menelan mustika tersebut. Para dewa dari khayangan turun ke Bumi untuk mencari mustika tersebut dan sang naga mengetahuinya. Untuk menguji para dewa, sang naga lantas memasukan mustika tersebut ke dalam sebuah cupu yang susah dibuka oleh Batara Guru dan para dewa lain saat cupu tersebut diberikan oleh Sang Hyang Antaboga.

Baca juga: Misteri Gerbang Istana Ratu Kidul di Pantai Parangkusumo Jogja

Cupu dibanting oleh Batara Guru hingga hancur dan keluarlah Retna Dumilah yang berubah wujud menjadi bayi perempuan dan diberi nama Niken Tiksnawati. Saat beranjak dewasa, Niken menjadi sosok bidadari yang cantik dan membuat Batara Guru jatuh hati. Saat akan dipinang oleh Batara Guru, Niken memberikan tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu pakaian yang tidak pernah usang, makanan yang bisa mengenyangkan selamanya serta gamelan yang bernama ketopyak.

Batara Guru menyanggupinya dan mengutus anak Batara Kala, Kala Gumarang untuk mencarikan tiga persyaratan yang diminta Niken tersebut. Saat pencarian, Kala Gumarang melihat sosok cantik Dewi Sri, istri dari Dewa Wisnu yang sedang mandi di Taman Banjaran Sari. Kala Gumerang terpikat dan mengejar sang dewi hingga turun ke bumi dan masuk ke tengah hutan.

Baca Juga: Kisah Penemuan Harta Karun Indonesia Tersembunyi di Kebumen

Dewa Wisnu marah dan memanahkan anak panahnya ke Kala Gumerang hingga lemah tak berdaya. Dalam kondisi tak berdaya itu, Dewi Sri mengutuk Kala Gumerang menjadi babi hutan. Untuk melindungi diri, sang dewi menitis ke dalam Dewi Darmanastiti, Ratu Makukukan di Kerajaan Medang Kamulan, sedangkan Dewa Wisnu menitis ke Raja Makukuhan.

Mendengar kabar bahwa Kala Gumerang dikutuk menjadi babi hutan, Batara Guru geram dan meminta Niken Tiksnawati melayaninya namun ditolak hingga singkatnya, Niken meninggal dunia. Batara Guru sangat sedih saat Niken meninggal dan meminta Batara Narada untuk menguburkannya di bumi.

Setelah dikebumikan, jazad Niken Tiksnawati tumbuh berbagai macam tanaman, seperti padi, pohon pisang dan tanaman-tanaman lainnya.  Tumbuh-tumbuhan tersebut kemudian dibudidayakan ke seluruh kerajaan wilayah. Singkat cerita, Dewi Sri yang sebelumnya menitis ke Dewi Damrmastiti akhirnya keluar dan merasuki tanaman padi yang ada di wilayah kerajaan tersebut.

Baca Juga: Jemunak, Makanan Khas Berbuka Puasa di Magelang

Kala Gumerang tak tinggal diam, dia terus mencari Dewi Sri dalam wujud babi hutan meskioun Dewi Sri sudah bersatu dengan tanaman padi. Kala Gumerang memasuki area persawahan dan merusak tanaman padi disana. Dalam hal ini, Dewa Wisnu tidak tinggal diam. Seperti aksi sebelumnya, Dewa Wisnu menembakkan anak panahnya dan mengenai Kala Gumerang dalam  wujud babi dan seketika tewas.

Dari darahnya yang keluar, muncul segala macam hama yang membahayakan padi, seperti wereng, londoh, walah sangit, dan masih banyak lagi. Sedangkan arwah Kala Gumerang merasuki hewan-hewan hama lainnya, seperti tikus sawah, mentek, hingga babi hutan untuk merusak tanaman padi. Namun semuanya dapat dimusnahkan oleh Raja Makukuhan yang merupakan titisan Dewa Wisnu.

Tradisi Miwiti Umbul Dewi Sri

Karena legenda, munculah tradisi ritual Miwiti Umbul Dewi Sri yang sudah turun-temurun dilakukan warga petani. Salah satunya warga Dusun Singonalan, Desa Sriwedari, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Ritual ini dilakukan sebagai wujud meminta keselamatan dan keberkahan dari Dewi Sri yang dipercaya sebagai dewi kesuburan dan perlindungan bahan makanan.

Baca Juga: 5 Makanan Unik Khas Jawa Tengah, Namanya Bikin Geli

Ritual ini dimual dengan pengambilan air dari Sungai Tangsi yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat. Air dari Sungai tangsi itu nanitnya akan disiramkan ke beberapa sisi padi yang akan dipanen. Acara kemudian dilanjutkan dengan kirab tumpeng oleh warga setempat dan dibawa saat akan menuju lahan sawah yang akan panen.

Acara ritual ini termasuk dalam program Fasilitas Upacara tradisi Disdikbud Kabupaten Magelang. Melalui rituali ini diharapkan dapat memperkenalkan kepada khalayak ramai mengenai budaya ucapan syukur atas berkah yang diberikan melalui  tradisi ini.

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Buka Cabang di Semarang, Sahid Tour Tawarkan Paket Haji Khusus

Biro perjalanan dan wisata, Sahid Tour, memperluas jaringannya dengan membuka kantor cabang di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

Korban Ledakan di Ponpes Klambu Grobogan, Seorang Pemuda

Diketahui pemuda yang mengalami luka bernama Azka berusia 18 tahun yang merupakan anak pemilik rumah yang terjadi ledakan.

Ganjar: Literasi Keberagaman Perlu Direplikasi ke Sekolah di Jateng

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, berharap program literasi keberagaman yang diusung Solopos Institute diterapkan di seluruh sekolah di Jateng.

Duar! Ledakan Keras di Ponpes Klambu Grobogan, Satu Orang Jadi Korban

Sebuah ledakan keras terjadi di rumah dekat Ponpes Darul Masyruh, Desa Penganten, Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan.

Ganjar Beri Pujian Program Literasi Keberagaman Solopos Institute

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, memberikan apresiasi terhadap program Literasi Keberagaman Solopos Institute yang diterapkan di sekolah-sekolah di wilayahnya.

Omicron Merebak, Ganjar Imbau Warga Tidak Gelar Perayaan Imlek 2022

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, meminta warga untuk tidak menggelar perayaan Imlek 2022 karena ancaman Covid-19 varian Omicron.

Tradisi Mandi Kembang Leson Tujuh Rupa di Wonosobo, Ini Artinya...

Salah satu tradisi yang masih dilestarikan masyarakat di Wonosobo, Jawa Tengah, yaitu mandi kembang leson menggunakan kembang tujuh rupa.

Gelar Apel, Polres Grobogan Ingin Wujudkan Zero Knalpot Brong

Polres Grobogan hingga Kamis (27/1/2022) telah menindak dan memusnahkan 215 knalpot brong dengan cara dipotong kemudian dilindas.

Bupati Tak Ingin Ada Omicron di Kabupaten Grobogan

Pemkab Grobogan tetap melakukan antisipasi, namun tidak ingin ada kasus Omicron di Grobogan.

Netizen Geger! Bupati Husein Prediksi Omicron Sudah Masuk Banyumas

Bupati Banyumas Achmad Husein membuat geger netizen setelah menyebut virus SARS CoV-2 varian Omicron telah masuk Banyumas.

Tak Cuma di Semarang, Harta Pengusaha Terkaya Asia Tersebar Luas

Aset kerajaan bisnis yang dibangun pengusaha terkaya Asia dari Semarang, Jawa Tengah, Oei Tiong Ham, bukan hanya berada di Indonesia. Melainkan tersebar di berbagai negara.

Misteri Akhir Hayat Pengusaha Terkaya Asia Semarang: Warisan Disita

Akhir hayat Oei Tiong Ham si pengusaha terkaya Asia dari Semarang, Jawa Tengah, menyimpan misteri. Baik tentang penyebab kematian hingga sengketa harta warisan.

Dibuka, Penerimaan Anggota Polri dari Jalur Sarjana, Simak Caranya Lur!

Kepolisian Republik Indonesia atau Polri membuka pendaftaran siswa Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS) tahun 2022.

Triawan Munaf Kepincut Baju Adat Ganjar Pranowo, Seperti Apa Sih?

Komisaris Utama PT Aviasi Pariwisata Indonesia, Triawan Munaf, tertarik dengan baju adat yang dikenakan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo.

Kerupuk Tayamum, Makanan Legend Khas Pantura Kriuk-Kriuk Shrpp

Kerupuk/krupuk tayamum alias kerupuk pasir atau kerupuk melarat merupakan salah satu makanan khas Pantura Jawa yang melegenda.

Istana Gergaji, Warisan Pengusaha Terkaya Asia di Semarang

Istana Gergaji merupakan salah satu warisan peninggalan kerajaan bisnis pengusaha terkaya Asia, Oei Tiong Ham, di Semarang, Jawa Tengah.