Legenda Bandung Bondowoso di Gunung Sepikul Sukoharjo
Pemandangan di sekitar Gunung Sepikul, Bulu, Sukoharjo. (Solopos/Indah Septiyaning Wardhani)

Solopos.com, SUKOHARJO – Objek wisata alam Gunung Sepikul di Kecamatan Bulu, Kabupaten, Sukoharjo, Jawa Tengah, rupanya lekat dengan legenda Bandung Bondowoso. Konon dalam dongeng, objek wisata tersebut adalah bebatuan yang digunakan Bandung Bondowoso untuk membangun Candi Prambanan.

Areal persawahan di Dukuh Gunung Lor, Desa Tiyaran, Kecamatan Bulu memiliki pesona alam nan eksotis. Dua bukit bebatuan tampak menjulang tinggi di tengah hamparan areal persawahan di wilayah tersebut. Dua bukit bebatuan berbentuk seperti barang siap dipikul itulah yang membuat masyarakat sekitar menyebutnya sebagai Gunung Sepikul.

Raih 700-an Piala, Bocah 10 Tahun Asal Sragen Jadi Guru di Sekolahnya 

Dalam cerita sejarah turun temurun, Gunung Sepikul konon identik dengan legenda Bandung Bondowoso. Objek wisata itu disebut-sebut sebagai bebatuan yang digunakan Bandung Bondowoso untuk membangun Candi Prambanan.

Namun saat Bandung Bondowoso gagal membangun 1.000 candi, bebatuan tersebut ditinggalkan begitu saja. Kini pengunjung bisa menikmati keindahan alam nan elok.

"Gunung Sepikul menyimpan cerita sejarah, salah satu bebatuan yang digunakan untuk membangun 1.000 candi oleh Bandung Bondowoso," kata Bayan Brenggalan, Desa Tiyaran, Widodo, ketika dijumpai Solopos.com belum lama ini.

Karantina Rasa Camping di Telaga Madirda Karanganyar Dijamin Gak Bakal Stres

Tracking Menantang 

Menuju kawasan Gunung Sepikul, pengunjung harus tracking melewati jalan setapak hingga bebatuan. Pada musim penghujan kondisi jalan setapak semakin licin sehingga pengunjung perlu meningkatkan kewaspadaan.

Di setiap tanjakan terdapat papan petunjuk arah dan beberapa pos pemberhentian. Namun rasa letih setelah kurang lebih 20 menit berjalan menyusuri jalan setapak dan bebatuan, semuanya terbayar dengan keindahan pesona alam dari puncak gunung.

Sejak dibuka 2016 lalu, kawasan objek wisata alam yang identik dengan legenda Bandung Bondowoso itu tak pernah sepi pengunjung. Hampir setiap hari pengunjung berdatangan untuk menikmati pesona alam, terutama di hari libur. Gunung Sepikul yang berlokasi sekitar 20 kilometer (km) arah selatan Kabupaten Sukoharjo ini menyimpan eksotisme alam yang luar biasa.

Mayat di Serengan Solo Dievakuasi dengan Protap Covid-19

Pemeliharaan kawasan wisata yang erat dengan legenda Bandung Bondowoso selama ini hanya mengandalkan hasil pendapatan parkir, serta uang sukarela dari para pengunjung. Sebab warga tidak menarik biaya tiket masuk kepada pengunjung yang memasuki kawasan wisata Gunung Sepikul.

"Hanya kita sediakan kotak sukarela saja. Jadi mau kaish Rp1.000 atau berapa terserah," sambung Widodo.

Rata-rata hasil pendapatan dari parkir kendaraan pengunjung mencapai Rp200.000 per bulan. Begitu pula dengan dana sukarela dari kotak masuk wisata Gunung Sepikul sekitar Rp400.000 per bulan.

Jumlah Pengunjung Naik

Saat ini, Widodo mengatakan jumlah pengunjung terus meningkat dari tahun ke tahun. Setiap hari rata-rata jumlah pengunjung mencapai 30-an orang. Namun pada hari libur jumlah pengunjung bisa meningkat dua kali lipat.

“Pengujung ini datang tidak hanya dari Sukoharjo saja, tapi luar daerah seperti Wonogiri, Karanganyar bahkan dari daerah Jawa Timuran,” kata dia.

Gunung Sepikul memiliki potensi wisata yang bisa diandalkan bagi Desa Tiyaran. Pengembangan kawasan wisata pun terus dilakukan Pemerintah Desa (Pemdes) Tiyaran.

Makin Ngehits, Ini Bayaran Mbah Minto Sekali Ngevlog

Hal ini berdampak positif bagi pertumbuhan perekonomian warga setempat. Tak sedikit warga yang kini membangun warung makan, toko kelontong hingga mengelola parkir.

“Sejauh ini memang belum ada pemasukan ke desa, tapi warga sudah merasakan dampak positif dari pengembangan Gunung Sepikul,” kata Kepala Desa Tiyaran Sunardi.

Namun demikian, Sunardi mengakui pengembangan wisata Gunung Sepikul terganjal status lahan milik perseorangan.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho