LEBARAN 2015 : Tol Cipali Layak Dilewati Pemudik, Diskon Tarif 25%
Sejumlah kendaraan melintasi Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) di Subang, Jawa Barat, Selasa (16/6/2015). Jalan tol terpanjang se-Indonesia dengan jarak 116, 75 kilometer tersebut telah dibuka untuk umum dan diharapkan mampu mengurangi kemacetan di jalur pantura pada saat mudik lebaran. (JIBI/Solopos/Antara/Prasetyo Utomo)

Lebaran 2015 menjadi sejarah bagi penggunaan tol Cipali yang diharapkan mampu mengurangi beban jalur pantura.

Solopos.com, JAKARTA -- Setelah menjajal langsung Jalan Tol Cikopo-Palimanan, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan memastikan jalan bebas hambatan yang dioperasikan Lintas Marga Sedaya ini sudah layak dilalui kendaraan saat mudik Lebaran 2015.

Menteri Perhubungan mencatat kekurangan yang patut ditindaklanjuti adalah kurangnya tanda hati-hati atau tanda bagi pengemudi untuk mempertahankan supaya tidak melebihi kecepatan yang diizinkan.

“Tandanya mungkin belum dipasang. Kalau tidak sempat, nanti lebaran pasang spanduk yang besar,” ujarnya saat meninjau Gerbang Tol Cikopo, Senin (29/6/2015).

Mantan Dirut PT KAI itu juga menyarankan agar Dishub Jawa Barat bekerja sama dengan Korlantas Polri untuk menurunkan mobil patroli di jalan tol baru ini. Hal itu terutama dilakukan pada malam hingga pagi, pada periode mudik.

Selain itu, dirinya juga menghimbau agar pihak-pihak terkait melakukan analisa di titik-titik yang pernah terjadi kecelakaan guna mendapat solusi yang terbaik.

Sejak diresmikan pada 13 Juni 2015 lalu, Polda Jawa Barat mencatat setidaknya 30 kecelakaan dalam kurun 10 hari operasional tol ini. Bahkan, sejumlah pihak berwenang mencatat korban tewas dan luka-luka akibat kecelakaan yang umumnya disebabkan oleh faktor kelelahan pengemudi.

Direktur Utama Lintas Marga Sedaya Hudaya Arryanto mengatakan kondisi prasarana dan sarana di jalan tidak ada masalah. “Sudah bagus secara geometrik jalan, serta rambu lengkap. Tapi ini kan memang jalannya mulus dan lurus, jadi jangan lupa teman-teman pengguna tetap waspada,” ungkapnya saat menemani Menhub di Tol Cipali.

Sejauh ini, Lintas Marga Sedaya mencatat jumlah kecelakaan didominasi oleh kecelakaan tinggal yang indikasi faktor penyebabnya antara lain, kelalaian, kelelahan dan pecah ban. Hudaya menghimbau pemudik di Tol Cipali untuk mengimbangi kesiapan fisik dan kendaraan mengingat karakter jalan yang didominasi jalan lurus.

Ketika ditanya perlunya uji kelayakan atau audit teknis, Ignasius Jonan menegaskan hal tersebut sepenuhnya merupakan wewenang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang lebih memahami mengenai hal ini. “Saya kurang paham kalau jalan tol itu perlu diuji teknik apanya. Itu nanti di PU. Tanya PU saja,” katanya.

Saat uji coba Tol Cikopo-Palimanan (Cipali), Jonan mengunjungi salah satu rest area atau tempat peristirahatan di pinggi jalan tol. Melihat penyelesaian yang belum 100%, dia berharap pada Lebaran H-7 pengelola dapat menyelesaikan fasilitas dasar dari delapan area peristirahatan di dua jalur Tol Cipali ini.

Dia menyarankan kepada pengelola agar mereka memasang tanda yang menginformasikan bahwa fasilitas toilet dan masjid sudah bisa berjalan agar orang yang berhenti tidak ragu-ragu. “POM bensin memang belum dan makanan juga belum, tapi yang penting toilet dan masjid sudah ada,” ujarnya.

Mengenai penerangan, Jonan menilai Lintas Marga Sedaya sudah memenuhi regulasi yang ditetapkan yakni memasang lampu jalan di simpang susun dan gerbang keluar masuk tol.

Diskon Tarif

Menhub mengapresiasi pemberian diskon sebesar 25% dari Lintas Marga Sedaya bagi pengguna jalan Tol Cipali selama periode mudik H-10 hingga H+5. “Tadi saya tanya pengelola. Pengelolanya mengatakan dalam operasi lebaran nanti akan diberikan diskon 25%,” jelasnya.

Dirut Lintas Marga Sedaya membenarkan adanya diskon tersebut. Menurutnya, diskon 25% ini akan berlaku bagi semua Golongan Kendaraan yang melintas selama periode yang sudah ditetapkan, 7 Juli-22 Juli 2015.

Tidak berhenti sampai di sini, Jonan berharap operator Tol Cipali bisa memberikan diskon setelah lebaran bagi kendaraan niaga seperti truk mengingat tarif tertinggi Gol V mencapai Rp288.000. “Saran saya ada program untuk menarik truk itu. Mungkin dikasih diskon bulan pertama, kedua berapa, bulan ketiga, sampai ketertarikan itu menjadi permanen,” imbuhnya.

Jika tidak dilakukan, Jonan mengkhawatirkan banyak truk yang tidak memanfaatkan Tol Cipali, dan memilih masuk di Jalur Pantura sehingga tujuan untuk mengurangi beban Pantura tidak bisa tercapai dengan maksimal.

Hudaya mengatakan perusahaan harus melihat pola penggunaan kendaraan niaga di tol ini terlebih dahulu. Namun, dirinya tak menampik adanya lonjakan truk dalam trafik lalu lintas di Tol Cipali.

“Kalau kita lihat pada malam hari komposisinya truk besarnya hingga 30% dari komposisi lalu lintas keseluruhan saat ini,” jelasnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom