LEBARAN 2015 : Inilah 3 Skema dan 4 Jalur Alternatif Urai Kemacetan di Jateng
Kemacetan Jakarta saat Hari Kenaikan Isa Almasih, Kamis (14/5/2015). (JIBI/Solopos/Antara/Reno Esnir)

Lebaran 2015 dilakukan berbagai persiapan mudik. Salah satunya antisipasi macet di Jateng.

Solopos.com, SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan tiga pilihan rekayasa lalu lintas dan empat alternatif jalur guna menangani dampak pengoperasian Tol Cikampek-Palimanan pada masa Lebaran 2015.

Kepala Bidang Angkutan Darat, Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Jateng, Untung Sirinanto, mengatakan pengoperasian ruas tol yang menyambung rangkaian tol di Pulau Jawa, yakni dari Merak, Banten, hingga Pejagan, Jateng, tersebut niscaya memengaruhi pola pergerakan lalin pada arus mudik di pulau Jawa.

Pergeseran titik awal sebaran arus lalin selama Lebaran 2015 dinilai akan berpindah dari Cikopo atau pintu tol Cikampek di Jawa Barat ke Brebes atau pintu tol Pejagan di Jateng. Karena itu, dia menuturkan pihaknya telah menyiapkan sejumlah usulan manajemen dan rekayasa lalin.

“Tentu saja ketika Cipali dibuka, exit toll-nya di Pejagan. Makanya kami siapkan plan B,” ujarnya di sela-sela seminar Pelaksanaan Angkutan Lebaran 2015, Selasa (16/6/2015).

Untung menuturkan hasil koordinasi pemprov dengan pemerintah kabupaten/kota terdampak, aparat kepolisian dan Kementerian Perhubungan menghasilkan sekurangnya tiga alternatif manajemen dan rekayasa lalin untuk menghadapi lonjakan arus kendaraan di exit toll Pejagan.

Rekayasa Lalu Lintas

Pertama, jelasnya, pemecahan arus dari pintu tol Pejagan melalui jalur alternatif, yakni ke utara dan selatan Jateng. Data Dishubkominfo menyajikan setidaknya ada empat pilihan jalur alternatif. Dua alternatif jalur pengalihan arus yang mengarah ke pantai utara Jawa, yakni Pejagan-Ketanggungan-Slawi-Tegal dan Pejagan Ketanggungan-Prupuk-Slawi Kramat.

Sedangkan, dua lainnya yang akan mengarah ke selatan Jateng, yakni Pejagan Ketanggungan-Bumiayu-Purwokerto dan sebuah jalur alternatif untuk memecah kepadatan di pantura, Pemalang-Randudongkal-Purbalingga-Banjarnegara.

“Dan ketika [peningkatan arus] datang saat bersamaan, ada dua pilihan, ke kanan atau ke kiri, ke pantura atau ke selatan,” ujarnya.

Ketika kepadatan di sejumlah jalur alternatif juga terus meningkat, Untung mengatakan pihaknya akan mengambil langkah rekayasa lalin melalui pengalihan arus mudik ke jalur utama pantura melalui pintu tol di Cikampek (Tol Cipali) dan Cirebon (Tol Palimanan-Kanci).Pada saat yang sama, jelasnya, akses masuk tol Kanci-Palimanan akan ditutup sementara untuk memberikan jeda waktu bagi persebaran arus mudik di Jateng.

Dia menuturkan pihaknya dan aparat kepolisian akan terus memantau langsung kondisi riil dan berkoordinasi untuk menerapkan langkah tersebut.

“Ketika itu padat semua maka tol yang di Kanci akan ditutup, pemudik harus keluar di Cirebon dan menggunakan fasilitas yang ada di pantura,” ujarnya.

Jalur Alternatif

Sementara itu, Dishubkominfo sebenarnya juga menyiapkan alternatif rekayasa lalin dengan pemanfaatan Tol Pejagan-Pemalang. Meskipun jaluranya masih berupa agrerat atau perkerasan tanah, dua dari empat seksi pengerjaan ruas Tol tersebut rencananya akan dioperasionalkan secara darurat selama Lebaran 2015.

Namun, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menuturkan hingga akhir pekan lalu rencana itu masih terkendala penyediaan lahan yang menyisakan sekitar 0,5%. Kendati begitu, jelasnya, pemprov terus berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mendorong progres penyediaan lahan tersebut.

Wakil Bidang Riset dan Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia Djoko Setijowarno mengatakan reakayasa lalin dan penyediaan jalur alternatif menjadi pilihan realistis guna mengantisipasi kepadatan arus pemudik di Pejagan. Menurutnya, skema buka-tutup pintu tol di Kanci akan menjadi pilihan yang tepat untuk memberi jeda bagi persebaran arus lalin di Jateng.

“Buka-tutup tol di Kanci tidak terelakkan. Balikkan arus ke pantura lagi,” ujarnya.

Adapun, data Dishubkominfo Jateng memperkirakan peningkatan jumlah penumpang mobil pribadi yang masuk dan melintasi Jateng selama Lebaran 2015 diperkirakan meningkat sebesar 7,8% atau menjadi 2,20 juta penumpang dari tahun sebelumnya 2,04 juta penumpang denganjumlah kendaraan mencapai 341.368 unit.

Lonjakan penumpang dengan sepeda motor juga diperkirakan meningkat sebesar 5,8%, yakni dari 1,79 juta penumpang pada 2014 menjadi 1,90 juta pada tahun ini. Pada 2014, julah sepeda motor yang masuk dan melalui Jateng mencapai 899.545 unit.

Jateng Tiga Skema dan Empat Alternatif Jalur

SEMARANG—Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan tiga pilihan rekayasa lalu lintas dan empat alternatif jalur guna menangani dampak pengoperasian Tol Cikampek-Palimanan pada masa Lebaran 2015.

Kepala Bidang Angkutan Darat, Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Jateng, Untung Sirinanto, mengatakan pengoperasian ruas tol yang menyambung rangkaian tol di Pulau Jawa, yakni dari Merak, Banten, hingga Pejagan, Jateng, tersebut niscaya memengaruhi pola pergerakan lalin pada arus mudik di pulau Jawa.

Pergeseran titik awal sebaran arus lalin selama Lebaran 2015 dinilai akan berpindah dari Cikopo atau pintu tol Cikampek di Jawa Barat ke Brebes atau pintu tol Pejagan di Jateng. Karena itu, dia menuturkan pihaknya telah menyiapkan sejumlah usulan manajemen dan rekayasa lalin.

Tentu saja ketika Cipali dibuka, exit toll-nya di Pejagan. Makanya kami siapkan plan B,” ujarnya di sela-sela seminar Pelaksanaan Angkutan Lebaran 2015, Selasa (16/6).

Untung menuturkan hasil koordinasi pemprov dengan pemerintah kabupaten/kota terdampak, aparat kepolisian dan Kementerian Perhubungan menghasilkan sekurangnya tiga alternatif manajemen dan rekayasa lalin untuk menghadapi lonjakan arus kendaraan di exit toll Pejagan.

Pertama, jelasnya, pemecahan arus dari pintu tol Pejagan melalui jalur alternatif, yakni ke utara dan selatan Jateng. Data Dishubkominfo menyajikan setidaknya ada empat pilihan jalur alternatif. Dua alternatif jalur pengalihan arus yang mengarah ke pantai utara Jawa, yakni Pejagan-Ketanggungan-Slawi-Tegal dan Pejagan Ketanggungan-Prupuk-Slawi Kramat.

Sedangkan, dua lainnya yang akan mengarah ke selatan Jateng, yakni Pejagan Ketanggungan-Bumiayu-Purwokerto dan sebuah jalur alternatif untuk memecah kepadatan di pantura, Pemalang-Randudongkal-Purbalingga-Banjarnegara.

“Dan ketika [peningkatan arus] datang saat bersamaan, ada dua pilihan, ke kanan atau ke kiri, ke pantura atau ke selatan,” ujarnya.

Ketika kepadatan di sejumlah jalur alternatif juga terus meningkat, Untung mengatakan pihaknya akan mengambil langkah rekayasa lalin melalui pengalihan arus mudik ke jalur utama pantura melalui pintu tol di Cikampek (Tol Cipali) dan Cirebon (Tol Palimanan-Kanci).Pada saat yang sama, jelasnya, akses masuk tol Kanci-Palimanan akan ditutup sementara untuk memberikan jeda waktu bagi persebaran arus mudik di Jateng.

Dia menuturkan pihaknya dan aparat kepolisian akan terus memantau langsung kondisi riil dan berkoordinasi untuk menerapkan langkah tersebut.

“Ketika itu padat semua maka tol yang di Kanci akan ditutup, pemudik harus keluar di Cirebon dan menggunakan fasilitas yang ada di pantura,” ujarnya.

Sementara itu, Dishubkominfo sebenarnya juga menyiapkan alternatif rekayasa lalin dengan pemanfaatan Tol Pejagan-Pemalang. Meskipun jaluranya masih berupa agrerat atau perkerasan tanah, dua dari empat seksi pengerjaan ruas Tol tersebut rencananya akan dioperasionalkan secara darurat selama Lebaran 2015.

Namun, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menuturkan hingga akhir pekan lalu rencana itu masih terkendala penyediaan lahan yang menyisakan sekitar 0,5%. Kendati begitu, jelasnya, pemprov terus berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mendorong progres penyediaan lahan tersebut.

Wakil Bidang Riset dan Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia Djoko Setijowarno mengatakan reakayasa lalin dan penyediaan jalur alternatif menjadi pilihan realistis guna mengantisipasi kepadatan arus pemudik di Pejagan. Menurutnya, skema buka-tutup pintu tol di Kanci akan menjadi pilihan yang tepat untuk memberi jeda bagi persebaran arus lalin di Jateng.

“Buka-tutup tol di Kanci tidak terelakkan. Balikkan arus ke pantura lagi,” ujarnya.

Adapun, data Dishubkominfo Jateng memperkirakan peningkatan jumlah penumpang mobil pribadi yang masuk dan melintasi Jateng selama Lebaran 2015 diperkirakan meningkat sebesar 7,8% atau menjadi 2,20 juta penumpang dari tahun sebelumnya 2,04 juta penumpang denganjumlah kendaraan mencapai 341.368 unit.

Lonjakan penumpang dengan sepeda motor juga diperkirakan meningkat sebesar 5,8%, yakni dari 1,79 juta penumpang pada 2014 menjadi 1,90 juta pada tahun ini. Pada 2014, julah sepeda motor yang masuk dan melalui Jateng mencapai 899.545 unit.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom