Tutup Iklan
Tangkapan layar rilis Kominfo yang menyertakan capture kicauan di akun Veronica Koman.

Solopos.com, JAKARTA -- Rilis Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang menuding bahwa kicauan pengacara dan aktivis hak asasi manusia (HAM) https://news.solopos.com/read/20190820/496/1013294/veronica-koman-diperlakukan-rasis-kali-ini-orang-papua-benar-benar-marah" target="_blank" rel="noopener">Veronica Koman di akun Twitter adalah hoaks dikecam banyak pihak. Terakhir, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers menegaskan kicauan Veronica tersebut bukan hoaks seperti klaim Kominfo.

Pada Sabtu (17/8/2019) lalu, muncul unggahan di akun Twitter Veronica Koman yang menyebutkan 2 pengantar makanan dan minuman untuk 15 warga Papua yang terperangkap di asrama ditendang, dipukul, ditarik, dan ditangkap pada pukul 02.00 WIB.

"17/8/19 Surabaya, Java. 2 pengantar makan minum ke 15 orang Papua yang terperangkap malah ditendang, dipukul, ditarik, dan ditangkap pada jam 2 pagi. Two good samaritan Indonesian students delivered food and water at 2 am to the trapped West Papuans, were assaulted and arrested," bunyi kicauan tersebut.

Namun pada Senin (19/8/2019), beredar rilis dari Kementerian Kominfo melalui situs resmi https://www.kominfo.go.id yang intinya menyatakan informasi tentang penculikan pengantar makanan dan minuman di https://news.solopos.com/read/20190820/496/1013311/spanduk-penolakan-tamu-muncul-di-asrama-mahasiswa-papua" target="_blank" rel="noopener">Asrama Papua Surabaya adalah hoaks. Rilis tersebut berjudul [HOAKS] Polres Surabaya Menculik Dua Orang Pengantar Makanan untuk Mahasiswa Papua.

Dalam rilis tersebut juga disertakan screen capture unggahan Veronica Koman dengan disertai label cap “DISINFORMASI”. Padahal, kicauan Veronica tersebut sama sekali tidak menyebutkan kata "penculikan" seperti tercantum dalam rilis Kominfo.

Menanggapi pernyataan Kominfo tersebut, Veronica pun membantahnya. "Twit saya tidak menyebutkan bahwa 2 pengantar makan tsb diculik, namun ditangkap. Saya bicara berdasarkan definisi KUHAP. Bahkan 2 orang tsb menandatangani BAP, apa itu namanya bukan ditangkap?" kicaunya pada Senin lalu.

LBH Pers juga menegaskan bahwa unggahan Veronica Koman sama sekali tidak menyebut adanya “penculikan” terhadap 2 orang pengantar makanan dan minuman di Asrama Papua, Surabaya. Dalam postingan Veronica tersebut menggunakan diksi “penangkapan” terhadap kedua pengantar makanan dan minuman.

"Penggunaan istilah 'penangkapan' merupakan terminologi resmi yang digunakan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana [KUHAP]. Apabila merujuk pada kedua diksi antara Penangkapan dan Penculikan secara jelas mengandung definisi yang berbeda. Penangkapan merupakan bentuk upaya paksa yang menjadi wewenang kepolisian yang diberikan oleh KUHAP. Sedangkan Penculikan merupakan tindakan kejahatan," kata Direktur Eksekutif LBH Pers Ade Wahyudin dalam rilis yang diterima Solopos.com, Rabu (21/8/2019).

Atas dasar itu, LBH Pers menyatakan rilis Kominfo tersebut merupakan bentuk kekeliruan. Dengan demikian, kata Ade, dapat disimpulkan bahwa postingan Veronica Koman sama sekali tidak menyebutkan adanya penculikan sehingga postingan tersebut sama sekali bukanlah hoaks. Terminologi "penangkapan" dan "penculian" mengandung definisi berbeda.

"Rilis Kominfo tertanggal 19 Agustus 2019 yang berjudul [HOAKS] Polres Surabaya Menculik Dua Orang Pengantar Makanan untuk Mahasiswa Papua yang menyertakan screen capture postingan Veronica Koman dengan cap 'DISINFORMASI' adalah keliru. Rilis tersebut seolah-olah menganggap postingan Veronica Koman mengabarkan informasi penculikan. Hal tersebut secara jelas merupakan kekeliruan. Berdasarkan penjelasan diatas dan poin 1, Veronica secara jelas tidak pernah menyebarkan informasi penculikan dalam akun medsosnya," lanjut Ade.

Dengan adanya munculnya rilis Kominfo tersebut, LBH Pers meminta Kominfo untuk melakukan ralat secara resmi dan menyampaikan permintaan maaf kepada Veronica Koman.

"Kekeliruan pelabelan ini adalah kekeliruan yang sangat fatal dan berpotensi menimbulkan persoalan hukum. Selain itu juga yang kami khawatirkan adalah Lembaga yang diharapkan sebagai pemberi informasi yang akurat malah justru sebalikanya menyebarkan disinformasi. Oleh karenanya pihak kementrian wajib melakukan evaluasi atas kerja https://news.solopos.com/read/20190820/496/1013324/mafindo-banyak-foto-video-kerusuhan-papua-sulit-diverifikasi-kebenarannya" target="_blank" rel="noopener">cek fakta agar peristiwa ini tidak terulang kembali."https://twitter.com/VeronicaKoman/status/1162618507260878849?ref_src=twsrc%5Etfw">

https://img.solopos.com/upload/img/veronica%20koman.jpg" width="539" height="607" alt="" />

Avatar
Editor:
Adib M Asfar

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten