Logo BBM Enterprise (Google Play Store)

Solopos.com, SOLO – Kabar rencana penghentian operasi aplikasi Blackberry Messenger (-layanan-blackberry-messenger-berhenti-beroperasi">BBM) cukup mengejutkan. Keputusan itu dinilai sangat mendadak karena dikabarkan sebulan sebelum tenggat waktu terakhir.

Pengumuman tersebut disampaikan langsung PT Elang Mahkota Teknologi (Emtek) yang mengelola aplikasi BBM. Siapa sangka, keputusan tersebut membuat bos Blackberry kecewa. Namun, pihak Blackberry memahami dan menerima keputusan tersebutr dengan lapang dada.

"Kami menghormati keputusan Emtek. Kami kecewa platform ini tidak berkembang seperti yang diharapkan," terang Chief Marketing Officer Blackberry, Mark Wilson, seperti dikutip dari Crack Berry, Jumat (19/4/2019).

Meski demikian, Blackberry telah membuat platform pesan baru yang diberi nama -layanan-blackberry-messenger-berhenti-beroperasi">BBM Enterprise (BBMe). Aplikasi ini bisa diunduh di Google Play Store maupun Apple Apps Store. Layanan ini menawarkan berbagai fitur yang mirip dengan BBM. Mulai dari obrolan grup, pesan suara, panggilan suara dan video, hingga pesan kedaluwarsa.

Secara umum, tidak ada perbedaan yang signifikan antara -layanan-blackberry-messenger-berhenti-beroperasi">BBM dan BBMe. Aplikasi BBMe berfokus pada pribasi pengguna. Kali ini, Blackberry mengklaim tidak memonetisasi data. Layanan ini tidak meminta nomor telepon, menyarankan kontak, dan tidak mau tahu dari mana pengguna mengirim pesan atau apapun yang dibagikan.

Dengan kata lain, pengguna hanya butuh e-mail untuk mendaftar BBMe. Seusai layanan BBM dihentikan pada 31 Mei 2019, layanan BBMe akan tersedia gratis selama setahun ke depan. Setelahnya, pengguna dikenakan biaya berlangganan sebesar USD2,49 atau Rp35.000 per enam bulan.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten