Persis Solo (istimewa)

Solopos.com, SOLO - Persis Solo akan menggunakan skema 4-3-3 untuk meredam agresivitas Persik Kediri pada laga celebration game di Stadion Brawijaya, Kediri, Minggu (8/12/2019) malam WIB. Laskar Sambernyawa akan berusaha meningkatkan kolektivitas permainan memanfaatkan pemain yang tersedia.

Persik jelas bukan tim abal-abal. Mereka keluar sebagai juara Liga 2 Indonesia musim 2019 dan berhak promosi ke Liga 1 Indonesia musim depan. Persis pantas waspada agar tidak menjadi bulan-bulanan tim tuan rumah demi menjaga marwah sebagai salah satu tim legendaris di Indonesia.

Persis sudah bertemu Persik sebanyak dua kali di babak penyisihan grup timur Liga 2 2019. Pada pertemuan pertama di Stadion Wilis, Kota Madiun, 6 Juli 2019, kedua tim bermain sama kuat 1-1. Sementara pada pertemuan kedua di Stadion Brawijaya, 6 September 2019, Persis menelan kekalahan tipis 0-1.

Peta kekuatan tentu telah berubah. Persik semakin solid karena para pemain masih bergabung bersama mereka. Sedangkan Persis dalam situasi compang-camping karena para pemain incaran mereka belum datang bergabung dalam latihan.

Sejauh ini, Persis baru menetapkan 12 pemain untuk musim depan. Satu pemain, Andreantono Oriza, terpaksa tak bisa membela klubnya pada laga kontra Persik karena izin. Pelatih Persis, Salahudin, mengatakan sudah mantap menggunakan skema 4-3-3 di laga kontra tim berjuluk Macan Putih.

Menurutnya, para pemain telah siap. “Mudah-mudahan apa yang dilatih bisa jalan,” ujarnya saat berbincang dengan wartawan seusai sesi latihan pagi di Lapangan Dibal, Ngemplak, Boyolali, Sabtu (7/12/2019).

Ia mengatakan tak bisa menuntut apa-apa kepada pemain pada laga merayakan keberhasilan Persik promosi ke Liga 1 itu. Menurutnya, laga itu lebih penting untuk memberi kesempatan kepada pemain yang tersedia.

“Kalau kami tuntut, belum sampai ke situ. Kami belum kasih [latihan] fisik dan taktik. Kekurangan jelas ada. Tapi Setelah masuk program baru kami ada penekanan ke pemain kalau mereka salah. Target kami cuma ya sejauh mana latihannya. Harus menang gini2-gini enggak. Pemain 11 mau diberikan apa?” papar eks pelatih Barito Putera itu.

Ia menilai meski laga itu bersifat refereshing, timnya harus tetap bekerja keras. Ia meminta pemain menomor satukan kolektivitas tim karena lawan yang mereka hadapi memiliki kerja sama tim yang bagus serta kemampuan individu pemain yang mumpuni.

“Kami harus kerja keras dan kolektivitas tim harus bagus. Pemain organisasi harus bagus. Artinya semuanya harus kerja. Saat naik [menyerang] kita sama-sama, bertahan sama-sama,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten