Larangan Bus ke Malioboro Diprotes
Ilustrasi/dok
Ilustrasi/dok

JOGJA—Sejumlah perwakilan manajemen hotel di sekitar Malioboro memprotes larangan masuk bus pariwisata ke daerah ini karena okupansi hotel turun hingga 50%.

Hari ini (31/1), sejumlah perwakilan manajemen hotel di seputar Malioboro mengadukan persoalan tersebut ke DPRD Kota Jogja. Marketing Manager Hotel Grage Jogja, salah satu perwakilan hotel di Malioboro, Suharno menceritakan, larangan masuk bus pariwisata oleh Kepolisian Kota Jogja sedianya sudah terjadi sejak 2012, namun saat itu tak begitu diterapkan dengan ketat. Menginjak 2013, bus pariwisata sama sekali tak boleh masuk ke Malioboro dan sekitarnya seperti Jalan Pasar Kembang dan Sosrowijayan.

“Awalnya 2012 nggak ketat, kadang boleh kadang nggak. Sekarang sudah nggak boleh sama sekali,” terang Suharno kepada wartawan seusai audiensi bersama Komisi C DPRD Kota.

Suharno mengaku sudah berkali-kali bus pariwisata yang mengangkut tamu hotelnya ditilang polisi. Kalau sudah demikian, pihak hotel yang harus mengurus tilang di pengadilan dengan membayar denda sneilai Rp150.000. Aturan itu menurutnya rancu, sebab di sisi lain otoritas Lalu Lintas Kepolisian Kota Jogja membolehkan bus pariwisata masuk ke Malioboro namun harus ada surat izin yang diurus ke Polres.

“Kami memilih tidak mengurus surat izin, jadi kami parkir di luar Malioboro. Biasanya kalau mengurus surat izin seperti itu justru akan dimanfaatkan oknum-oknum tertentu (seperti pungutan liar),” pungkasnya.

Lantaran tak boleh masuk ke Malioboro, para wisatawan harus berjalan kaki cukup jauh. Paling dekat bila bus parkir di Abu Bakar Ali atau di depan gedung Bank Indonesia (BI), bila tidak mereka harus berjalan kaki dari area parkir Ngabean ke Malioboro.
Menurut dia, tak sedikit wisatawan yang kapok berkunjung ke Jogja gara-gara aturan di atas. Akibatnya, okupansi hotel di sekitar Malioboro turun hingga 50%.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho