(Laporan Khusus) Solo bukan lagi kota bersumbu pendek
TERBAKAR HABIS -- Aparat keamanan berjaga-jaga dengan latar belakang gedung utama Balaikota Solo yang terbakar dalam kerusuhan 20 Oktober 1999. (JIBI/SOLOPOS/dok)

(Solopos.com) -Hari ini 12 tahun yang lalu, tepatnya 20 Oktober 1999, terjadi kerusuhan di Kota Solo. Kota yang belum lagi pulih sejak kerusuhan setahun sebelumnya saat rezim Orde Baru runtuh kembali terguncang. Seperti apa memori pada masa itu dan bagaimana pula Solo sekarang dan yang akan datang?

TERBAKAR HABIS -- Aparat keamanan berjaga-jaga dengan latar belakang gedung utama Balaikota Solo yang terbakar dalam kerusuhan 20 Oktober 1999. (JIBI/SOLOPOS/dok)

Hari itu, Teguh, seorang pegawai negeri sipil (PNS) Pemkot Solo sedang lembur di kantornya. Hari beranjak sore dan kemudian suara teriakan-teriakan menggema di sekitar Balaikota. Dalam sekejap pusat pemerintahan Kota Bengawan dilalap api. Itulah memori Teguh, 12 tahun silam. Memori kerusuhan 20 Oktober 1999 yang menciptakan kengerian bagi Teguh yang kala itu bertugas di Bagian Keuangan.

Ketika Balaikota dibakar, sebagian PNS Pemkot Solo memang telah pulang. Namun sebagian lainnya masih berada di kantor. ”Saya masih ingat, waktu itu saya mendengar suara orang ramai lalu saya keluar. Ketika melihat api yang menyala-nyala membakar bangunan, saya langsung lari ke tempat parkir dan mengambil motor saya. Setelah itu saya membawa motor saya ke gudang arsip dan sembunyi di sana sampai situasi aman,” tutur Teguh, yang saat ini bertugas di Dinas Komunikasi dan Informatika kepada Espos.

Ada empat bangunan utama di jantung pemerintahan Kota Solo yang terbakar dalam peristiwa itu, yaitu pendapa, gedung DPRD di sebelah utara pendapa, ruang kerja Walikota dan kantor Bagian Humas serta Bagian Kesejahteraan Rakyat di sebelah selatan pendapa, serta ruang-ruang ketua fraksi dan ruang paripurna di belakang pendapa (sekarang Balai Tawangarum dan ruang kerja Walikota, Wakil Walikota dan Sekda).

Pembakaran Balaikota itu menyebabkan ribuan lembar arsip dan dokumen penting pun ikut lebur menjadi abu. Teguh mengatakan suasana saat itu begitu mencekam sehingga menimbulkan trauma. Butuh waktu kurang lebih sebulan baginya untuk bisa melupakan peristiwa itu. ”Itu benar-benar peristiwa yang takkan pernah saya lupakan dan tak ingin saya alami lagi. Semoga tidak ada lagi kejadian semacam itu,” imbuhnya.

Selain Balaikota sejumlah bangunan lainnya juga dirusak dan dibakar di antaranya Kantor Pembantu Gubernur Jateng, Kantor DPD II Golkar dan BCA Gladak. Kejadian itu menyebabkan satu orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.
Sayangnya, tidak ada catatan resmi dari Pemkot mengenai berapa jumlah maupun arsip dan dokumen apa saja yang terbakar itu.”Pencatatan dan administrasi aset baru dilakukan pada 2004. Jadi mengenai dokumen, arsip dan aset tahun-tahun sebelumnya kami tidak punya,” ungkap Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA), Budi Yulistianto.

Kerusuhan 20 Oktober 1999 menjadi salah satu catatan kelam masa lalu Kota Bengawan. Sebutan kota sumbu pendek pun sering melekat bagi Solo. Sosiolog UNS, Drajat Tri Kartono, mengatakan hal terpenting yang harus dilakukan Pemkot adalah menjalankan kebijakan ketahanan sosial secara sistematis.

”Harus dikembangkan program-program pemberdayaan ketahanan sosial. Selama pemicu konflik dari luar dan ketahanan sosial belum kuat, kemungkinan terjadinya amuk massa tetap ada,” ujar dia.

Budayawan Jlitheng Suparman, mengatakan pemerintah harus paham betul apa dan siapa sumbu pendek itu. ”Harus mengelola agar yang pendek itu menjadi panjang. Pemerintah harus paham dimensi-dimensi yang menjadi variabel sumbu pendek lalu melakukan antisipasi,” tegas Jlitheng.

Nada optimistis Solo bukan lagi kota sumbu pendek didengungkan Ketua DPRD Kota Solo, YF Sukasno. Menurut Sukasno, masyarakat Solo saat ini sudah semakin dewasa dalam menyikapi sejumlah persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat.

”Saat ini suasana Kota Solo semakin kondusif, semakin nyaman dan didorong semakin dewasanya masyarakat dalam menyikapi berbagai persoalan yang muncul tanpa terprovokasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” ungkapnya. Sukasno berharap suasana kondusif tersebut akan terus dipertahankan. Bila ada persoalan yang muncul, diharapkan bisa dibicarakan melalui sebuah musyawarah yang bisa menghasilkan solusi terbaik atas sebuah permasalahan.

Suharsih, Septhia Ryanthie, Kurniawan


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho