Laporan CJP: Jurnalis Sering Jadi Target Pembunuhan
Ilustrasi jurnalis (Youtube)

Solopos.com, NEW YORK – Kasus pembunuhan terhadap jurnalis meningkat hampir dua kali lipat sepanjang 2018. Jurnalis di seluruh negara berada dalam kondisi berbahaya karena sering menjadi pembunuhan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam laporan terbaru Committee to Protect Journalists (CPJ) yang dirilis Desember 2018.

Menurut laporan tersebut, sebanyak 34 dari 53 jurnalis terbunuh saat menjalankan tugas sepanjang 2018. Pembunuhan tersebut dilakukan dengan salah satu alasannya berupa pembalasan dendam. Biasanya, jurnalis yang dibunuh memberikan laporan yang tidak baik atas oknum tertentu yang membuat nyawa mereka terancam.

"Jumlah jurnalis yang menjadi target pembunuhan sebagai pembalasan dendam meningkat drastis pada 2018. Jumlah kasus pembunuhan terhadap jurnalis meningkat hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya," demikian penjelasan yang tertulis dalam laporan terbaru CJP seperti dikutip dari The Guardian, Jumat (21/12/2018).

Organisasi yang bermarkas di New York, Amerika Serikat, menemukan fakta 34 wartawan meninggal dibunuh sejak awal 2018 hingga 14 Desember 2018. Jumlah ini meningkat dari laporan tahun 2017 yang mencatat ada 47 kasus pembunuhan terhadap jurnalis. Meski demikian, menurut laporan CJP, jumlah jurnalis yang terbunuh saat bertugas di wilayah konflik mengalami penurunan sejak 2011.

Laporan tahunan yang dipublikasikan Rabu (19/12/2018) tersebut mencatat pembunuhan terhadap Jamal Khashoggi sebagai yang paling buruk. Kematian Jamal Khashoggi pada 2 Oktober 2018 menjadi bukti kejamnya rezim Arab Saudi. Seperti diketahui, Jamal Khashoggi dibunuh saat mengurus dokumen pernikahan di gedung Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul, Turki.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom