Lalu Lintas Perempatan Tirtonadi Solo Kacau! 
Kasi Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Dishub Solo Mudo Prayitno bersama warga mengurai kekacauan lalu lintas di perempatan Tirtonadi, Selasa (25/9/2018) siang. (Solopos-Irawan Sapto Adhi)

Solopos.com, SOLO --  Kondisi arus lalu lintas di perempatan Tirtonadi begitu kacau pada Selasa (25/9/2018) sekitar pukul 10.50 WIB.  Kendaraan dari arah Jl. Tagore (selatan), Jembatan Tirtonadi (utara), maupun Taman Tirtonadi (barat) sama-sama tak mau mengindahkan petunjuk lampu alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) sehingga menumpuk di tengah perempatan

Sikap para pengendara dari tiga ruas jalan itu tentu pada akhirnya menghambat laju para pengendara yang datang dari arah perempatan Gilingan (timur) menuju ke barat dan utara.

Banyak pengendara tidak lagi mengindahkan petunjuk traffic light di perempatan Tirtonadi disinyalir karena ada proyek Penggantian Jembatan Tirtonadi. Pelaksanaan proyek dari Kementerian PUPR tersebut berdampak pada hilangnya markah atau garis batas berhenti di persimpangan ruas Jl. A. Yani dan Jembatan Tirtonadi. 

Kebanyakan pengendara yang kebingungan mengambil posisi berhenti akhirnya memilih maju terus tanpa memedulikan lagi lampu APILL yang menyala merah.

Sementara pengendara di Jl. Tagore tidak diketahui secara pasti alasan mereka nekat menerobos lampu merah di perempatan Tirtonadi. Mereka disinyalir melakukan tindakan melawan aturan tersebut karena terpancing sikap ceroboh para pengendara dari arah barat maupun utara. 

Perilaku tak peduli pada petunjuk lampu APILL itu pada akhirnya diikuti juga oleh sebagian pengendara di Jl. A. Yani dari arah timur. Siang itu, kekacauan arus lalu lintas di perempatan Tirtonadi coba diuraikan oleh empat orang warga.

Keempat warga yang turun mengatur lalu lintas di perempatan Tirtonadi jelas bukan personel Supeltas, Dinas Perhubungan (Dishub) Solo, maupun Satlantas Polresta Surakarta. Mereka hanya mengenakan pakaian biasa. 

Kehadiran empat orang warga tersebut cukup berhasil mengurangi kekacauan arus lalu lintas di perempatan Tirtonadi. Mereka mampu saling bekerja sama membuka-tutup arus lalu lintas di perempatan Tirtonadi sehingga beberapa kali tak terjadi penumpukan kendaraan di tengah perempatan. 

Keempat warga itu bekerja dengan menerima sumbangan dari pengendara secara sukarela. Saat dimintai tanggapan, Kasi Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Dishub Solo, Mudo Prayitno, menyadari kondisi arus lalu lintas di perempatan Tirtonadi padat selama dilaksanakan proyek penggantian Jembatan Tirtonadi. 

Dia menyebut kekacauan arus lalu lintas di lokasi tersebut bisa terjadi karena markah berhenti di ruas Jl. A. Yani (barat) dan Jembatan Tirtonadi hilang gara-gara terdampak pembangunan jembatan. 

Para pengendara menjadi tidak punya patokan untuk berhenti. Banyak di antara mereka pada akhirnya nekat maju terus atau tidak lagi memperhatikan lampu APILL. 

Meski demikian, Dishub tidak akan membuat markah sementara mengingat medan di lapangan tidak memungkinkan. Sebagai solusinya, Dishub bakal memasang rambu pentunjuk batas berhenti di perempatan khususnya di ruas Jl. A. Yani (barat) dan Jembatan Tirtonadi. 

Selain itu, Dishub juga akan mengubah fase perubahan lampu APILL di perempatan Tirtonadi menjadi empat fase  dari sebelumnya tiga fase. Artinya, lampu merah di perempatan Tirtonadi nanti akan digilir mulai dari utara, timur, selatan, dan barat. 

Hal itu berbeda dari sebelumnya atau kondisi sekarang di mana fase perubahan petunjuk APILL di ruas Jl. Tagore dan Jembatan Tirtonadi masih sama.

Mudo mengatakan Dishub selama ini telah menerjunkan personel untuk mengurai kekacauan arus lalu lintas di perempatan Titonadi. Namun, dia mengakui personel dikerahkan hanya pada jam puncak arus lalu lintas sore hari. 

Mudo sangat berharap kepada para pengendara untuk bisa tetap patuh terhadap petunjuk lampu APILL. Dia pun mengapresiasi tindakan sejumlah warga yang mencoba membantu mengurai kekacauan arus lalu lintas di perempatan Tirtonadi. 

Keselamatan

Mudo menilai aksi warga itu cukup membantu mengurai kemacaten arus lalu lintas di wilayah Kelurahan Gilingan tersebut. Namun, dia menyebut kehadiran warga di tengah jalan tentu berisiko terhadap keselamatan diri mereka sendiri. 

Keberadaan mereka juga bisa merugikan orang lain ketika tidak tepat dalam mengatur lalu lintas. Namun setelah diberi pengarahan dari Dishub, warga tersebut tetap ingin turun ke jalan membantu mengurai kemacetan.

Kekacauan arus lalu lintas di perempatan Tirtonadi ini terjadi juga karena ada perbedaan elevasi antara badan jembatan dengan badan Jl. A. Yani sehingga cukup menyulitkan laju para pengendara. 

"Namun, sementara kami maksimalkan dulu kondisi yang ada. Nanti kami ubah fase lampu APILL dari tiga fase menjadi empat fase. Kami juga segera akan memasang rambu stop line untuk memastikan lokasi kendaraan berhenti di perempatan,” jelas Mudo saat ditemui Solopos.com di sela-sela meninjau perempatan Tirtonadi.

Mudo menyampaikan kekacauan arus lalu lintas di perempatan Tirtonadi juga dipicu semakin tingginya volume kendaraan yang lewat. Dia menduga kian banyak kendaraan yang melintas di perempatan Tirtonadi karena menghindari kemacetan di sejumlah jalan yang terdampak proyek fisik, seperti Jl. Letjen Suprapto dan Kretek Abang. 

Avatar
Editor:
Suharsih


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya








Kolom