Tutup Iklan
Laku Badar Giyanti, 2 Pria Jalan Kaki Puluhan Km Menuju Titik Nol Kilometer Klaten
Agung Bakar (kanan) dan Iwan Purwoko (kiri) bertemu di titik nol kilometer Klaten di Bareng, Klaten Tengah, Klaten, Selasa (28/7/2020). (Solopos.com-Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN -- Dua warga Klaten, Agung Bakar serta Iwan Purwoko, melakukan perjalanan spiritual laku Badar Giyanti dengan berjalan kaki dari Jogja ke Klaten serta dari arah Solo, tepatnya Kartasura Sukoharjo ke Klaten.

Laku Badar Giyanti yakni sebuah upaya membadarkan Perjanjian Giyanti yang sudah terbangun sejak tahun 1755. Laku Badar Giyanti ini dilakukan bertepatan dengan HUT ke-216 Klaten.

Latar belakang digelarnya Laku Badar Giyanti, berdasarkan informasi yang diperoleh solopos.com, mengingat munculnya Perjanjian Giyanti tahun 1755 dinilai telah membelah Bumi Mataram. Sejak saat itu, Bumi Jogja dan Bumi Solo dianggap tak lagi bersatu.

Bukan di RS, Inilah Pasien Covid-19 Pertama di Klaten yang Isolasi di Rumah

Situasi dan kondisi seperti itu telah mengusik Agung Bakar dan Iwan Purwoko hingga keduanya melakukan laku Badar Giyanti.

Badar Giyanti dikandung maksud ingin mengembalikan Bumi Mataram kembali nyawiji. Solo dan Jogja kembali nyawiji secara spiritual. Nyawiji sebagai penerus Bumi Mataram dan Bumi Nusantara.

Badar Giyanti diawali dengan laku jalan kaki menuju titik nol kilometer di Klaten yang berada di pinggir Jl. Pemuda Klaten. Lokasi titik nolo kilometer tepatnya di Kampung Kanjengan, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klaten Tengah.

Kisah di Balik Penemuan Harta Karun di Jogonalan Klaten, Warga Lihat Cahaya Misterius

Titik nol kilometer Klaten diyakini berjarak 30 kilometer (km) ke Jogja dan 35 kilometer ke Solo.

Agung Bakar yang berdomisili di Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten, mengambil start dari Keraton Kartasura, Sukoharjo, menempuh perjalanan panjang menuju ke titik nol kilometer Klaten.

Perjalanan dimulai Senin (27/7/2020) pukul 19.30 WIB. Agung Bakar sempat berhenti beberapa kali di Jalan Solo-Jogja sebelum akhirnya tiba di titik nol kilometer Klaten, Selasa (28/7/2020) pukul 06.08 WIB. Di kesempatan itu, Agung Bakar membawa kain berwarna merah.

Keutuhan dan Kemajuan Negeri

Sementara Iwan Purwoko yang berdomisili di Nglinggi, Klaten Selatan, Klaten, mengawali laku jalan kaki dari makam raja Jawa di Kota Gede, Jogja, Senin (27/7/2020) pukul 20.00 WIB hingga sampai di titik nol kilometer Klaten, Selasa (28/7/2020) pukul 09.07 WIB. Hampir sama dengan Agung Bakar, Iwan Purwoko juga membawa kain namun berwarna putih.

Agung Bakar dan Iwan Purwoko saling bertemu di titik nol kilometer Klaten. Pertemuan keduanya diharapkan menandai berakhirnya jiwa-jiwa yang gelisah dengan munculnya Perjanjian Giyanti 1755.

Pendapatan Desa Cokro Klaten Cuma Rp7 Juta per Tahun, Kades: Kami Termiskin!

Pertemuan itu diharapkan menjadi simbol nyawijinya Bumi Mataram untuk keutuhan dan kemajuan negeri. Selanjutnya, kain merah dan putih yang dibawa Agung Bakar dan Iwan Purwoko dijahit oleh Marta agar menjadi satu, yakni menjadi Sang Saka Merah Putih.

"Perasaan saya lega setelah melakukan aksi jalan kaki untuk Badar Giyanti ini. Saya hanya berharap rakyat Mataram yang satu, padu, dan terus maju. Dapat menyongsong harapan dan peradaban baru. Masyarakat yang adil makmur gemah ripah loh jinawi," kata Agung Bakar, saat ditemui Solopos.com, di dekat titik nol kilometer Klaten di Bareng, Klaten Tengah, Selasa.

Begitu tiba di titik nol kilometer Klaten, Iwan Purwoko tak banyak berbicara. Iwan Purwoko sempat meneteskan air mata saat berada di titik nol kilometer Klaten.

Nusantara Cafe Hadirkan Nuansa Bali di Pinggir Rawa Jombor Klaten

Sepanjang perjalanan dari Jogja-titik nol Kilometer Klaten, Iwan Purwoko juga sempat beristirahat, seperti di Janti, Bandara, Kalasan, Prambanan, Kemudo, dan Tegalmas.

"Kaki kiri saya sampai berair [mlenthung]. Soalnya, saat perjalanan dari Kota Gede sampai bandara di Jogja enggak pakai sandal," kata Iwan.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho