Lahir Tahun 1970-an, Begini Sejarah Berdirinya MTA hingga Miliki Banyak Jemaah
Setelah menjaga dan mengatur lalu lintas jalannya Salat Iduladha MTA, para satgas MTA menjalankan ibadah Salat Iduladha belakangan di halaman parkir Gelora Manahan, Banjarsari, Solo, Sabtu (4/10/2014). (Tri Rahayu/JJIBI/Solopos)

Solopos.com, SOLO -- Kabar duka meninggalnya Pimpinan Majelis Tafsir Al-Quran atau MTA Ahmad Sukina, Kamis (25/2/2021), menyisakan duka mendalam bagi jemaah MTA yang tersebar di Indonesia sekaligus mengajak publik mengingat lagi sejarah MTA.

Sekretaris Ahmad Sukina, Adil Prasetyo, saat dimintai konfirmasi Solopos.com, Kamis, membenarkan kabar wafatnya Ustaz Ahmad Sukina. "[Wafat] Dini hari tadi pukul 03.47 WIB," urainya lewat pesan Whatsapp.

MTA memang dikenal sebagai yayasan dakwah islamiyah yang memiliki banyak jemaah. Pengajuan rutin MTA yang digelar di Kantor Pusat MTA di depan Pura Mangkunegaran Solo setiap Ahad selalu penuh sesak.

Baca juga: Pemakaman Pimpinan MTA Ahmad Sukina Dibanjiri Para Pelayat

Yayasan yang berpusat di Solo ini ternyata memiliki sejarah panjang, MTA lahir pada era 1970-an. Saat itu, dibandingkan gerakan-gerakan dakwah lain yang lebih dulu berkembang, MTA terbilang kecil. Namun, lambat laun gerakan ini menjadi sorotan publik semenjak gerakan dakwah ini memperoleh banyak anggota dan simpatisan.

Dikutip dari website MTA, sejak awal berdiri gerakan ini bergerak di bidang dakwah islamiyah, sosial, dan pendidikan. MTA didirikan oleh almarhum Al Ustaz Abdullah Thufail Saputra di Solo pada 19 September 1972.

Secara resmi MTA didaftarkan sebagai badan hukum dalam bentuk yayasan dengan akta notaris R. Soegondo Notodisoerjo Notaris di Solo dengan Nomor 23 tahun 1974.

Baca juga: Bruk! Reklame di Plumbon Sukoharjo Ambruk Timpa Ibu dan Anak Balita

Mubalig dan Pedagang

Pendiri MTA, Ustaz Abdullah, merupakan mubalig yang juga pedagang. Berkat aktivitasnya sebagai pedagang, Ustaz Abdullah mendapat kesempatan untuk berkeliling hampir ke seluruh Indonesia dan mengawali sejarah MTA.

Pengalama keliling Indonesia ini membuka matanya bagaimana kondisi umat Islam di Indonesia. Umat Islam Indonesia dianggap tertinggal karena kurang memahami Alquran.

“Umat Islam Indonesia hanya akan dapat melakukan emansipasi apabila umat Islam Indonesia mau kembali ke Alquran,” jelas ulasan tersebut seperti dikutip Solopos.com, Kamis (25/2/2021).

Baca juga: Bantu Nakes Lacak Kontak Erat, 177 Bhabinkamtibmas Ikuti Pelatihan 3T

Atas dasar itu, Ustaz Abdullah mendirikan MTA sebagai rintisan dan mengajak umat Islam kembali kepada Alquran. Lambat laun, sejarah MTA pun terukir.

Lewat gerakan dahwah ini, Ustaz Abdullah menyelenggarakan kegiatan dakwah dalam bentuk pengajian rutin mempelajari tafsir Alquran yang bersumber dari kitab–kitab tafsir Alguran karya mufassir–mufassir (orang yang mengartikan makna ayat Alquran).

Selain itu, jemaah MTA mempelajari hadis Nabi Muhammad SAW yang bersumber dari kitab-kitab hadis. MTA juga menyelenggarakan kegiatan di bidang pendidikan, baik formal maupun nonformal. Tak ketinggalan, MTA pun menyelenggarakan kegiatan sosial kemanusiaan, seperti donor darah, evakuasi korban bencana, serta bakti sosial lainnya.



Berita Terkini Lainnya








Kolom