Tutup Iklan

Lahan Tak Jadi Digusur BPSMP Sangiran, Dua Warga Bukuran Malah Protes

Dua warga Desa Bukuran memprotes Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran karena lahannya tak jadi dgusur. Mereka mengaku sudah lama mengikuti proses pembebasan lahan.

 Suasana diskusi antara perwakilan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran dengan dua keluarga pemilik lahan yang protes mengenai tahapan pembebasan lahan di Kantor BPSMP Sangiran, Kecamatan Kalijambe, Sragen, Senin (25/10/2021). (Istimewa)

SOLOPOS.COM - Suasana diskusi antara perwakilan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran dengan dua keluarga pemilik lahan yang protes mengenai tahapan pembebasan lahan di Kantor BPSMP Sangiran, Kecamatan Kalijambe, Sragen, Senin (25/10/2021). (Istimewa)

Solopos.com, SRAGEN — Belasan warga Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Sragen, mendatangi kantor Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran di Kalijambe, Senin (25/10/2021). Mereka datang untuk memprotes keputusan BPSMP Sangiran tidak jadi menggusur lahan milik dua warga Desa Bukuran, yakni Slamet dan Sutarno.

Sedianya, lahan milik Slamet dan Sutarno itu masuk dalam daftar lahan yang akan dibebaskan alias digusur BPSMP Sangiran untuk kepentingan pelestarian bentang lahan dan pemanfaatan fasilitas penunjang Museum Purbakala Sangiran. Namun setelah diproses selama sekitar dua tahun, lahan kedua warga itu tak jadi digusur.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, belasan orang datang ke BPSMPS sejak pukul 09.00 WIB. Mereka adalah keluarga atau keluarga dari dua pemilik lahan, Slamet dan Sutarno. Kepala Desa Bukuran pun turut hadir mendampingi warga tersebut. Diskusi antara warga dengan BPSMP Sangiran berlangsung alot. Hingga pukul 11.00 WIB belum selesai.

Baca Juga: 360 Turis Kunjungi Museum Sangiran di Hari Pertama Buka

Salah satu perwakilan warga, Warsono, menjelaskan BPSMP Sangiran semula melakukan sosialisasi mengenai penggusuran lahan di Desa Bukuran. Ada sejumlah pemilik lahan yang terdampak dan mengurus administrasi sejak sekitar akhir 2018 sampai 2019.

“Penggusuran [pembebasan lahan] sudah sampai tahapan administrasi, termasuk sertifikat. Katanya untuk kepentingan museum pada 2020. Karena pandemi ditunda sampai tahun ini,” jelasnya.

Dia mengatakan warga terdampak penggusuran diminta menunggu. Tetapi dua pemilik lahan yakni Slamet dan Sutarno, diundang salah satu pegawai melalui pesan WhatsApp untuk mengembalikan sertifikat yang sudah dikumpulkan sejak 2019 pada Selasa pekan lalu.

“Termasuk adik saya itu kecewa berat, kenapa sudah melalui proses panjang pada akhirnya jadi korban [tidak jadi digusur], ” ungkapnya.

Baca Juga: Masuk Museum Sangiran dan Gunung Kemukus Tak Perlu PeduliLindungi Lho

Warsono mengklaim ada pemilik lahan lain yang diproses ke tahapan berikutnya dalam program pembebasan lahan itu. Karena lahannya tak jadi digusur seperti warga lain, keluarga Slamet dan Sutarno pun datang ke kantor BPSMP Sangiran untuk menyampaikan protes.

Sementara itu, Berdasarkan salinan rekapitulasi kelengkapan berkas lahan yang ditanda tangani Pejabat Pembuat Komitmen dari BPSMP Sangiran, Dody Wiranto, ada lima bidang lahan yang terdampak penggusuran di Desa Bukuran.

Kemudian ada tiga bidang lahan di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe; satu lahan di Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Sragen; dan empat lahan di Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar.

6 Bidang Batal Digusur

Anggota Tim Pembebasan Lahan, Haryono, menjelaskan ada enam bidang lahan yang sudah terverifikasi sejak 2019 tetapi tidak diproses karena administrasi belum lengkap.

Baca Juga: Museum Sangiran Masih Tutup, Ratusan Turis Lokal Kecele

“Sekarang prosedur baru, beberapa tahapan berubah, dan administrasinya bertambah. Kami sejak awal tahun sudah berusaha meminta konsultasi kepada BPN [Badan Pertanahan Negara], appraisal, Bappeda, dan dinas permukiman untuk konsultasi tapi memang yang tadi belum lengkap administrasinya,” kata Haryono.

Prosedur baru yang dimaksud adalah Peraturan Pemerintah No.19/2021 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum.

Haryono mengatakan dari dua pemilik lahan, hanya Slamet yang belum menerima keputusan lahannya tak jadi digusur. Sedangkan Sutarno, menurut dia, mau menerima setelah berdialog. BPSMP Sangiran telah menyampaikan semua prosedur kepada pemilik lahan sejak awal tahapan.

Baca Juga: Desa Krikilan Sragen Canangkan Gerakan Sarapan di Lapak Tetangga

Lebih jauh, Haryono memastikan tidak ada pembebasan lahan lagi pada 2022. “Tetapi mungkin 2023 kami bisa mengajukan anggaran dan disetujui maka lahan milik pak Sutarno dan Pak Slamet untuk lahan prioritas untuk kami bebaskan. Melihat nanti ketersediaan anggarannya,” jelasnya.


Berita Terkait

Berita Terkini

Aksi Pencuri Bebek di Jenengan Boyolali Terekam Kamera CCTV

Aksi warga Polanharjo, Klaten, AS, 38, mencuri bebek milik Priyadi, 42, warga Dukuh Jenengan RT 003/RW 001, Desa Jenengan, Kecamatan Sawit, Boyolali, Senin sekitar pukul 02.30 WIB, terekam kamera CCTV.

Pemkab Karanganyar akan Galang Dana untuk Korban Erupsi Semeru

Pemkab Karanganyar akan galang dana untuk korban erupsi Gunung Semeru. Penggelangan dana dimulai dari kalangan ASN Pemkab.

Pakai Kalung Bandul Rajamala, Wali Kota Solo Gibran Tuai Pujian

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka menuai pujian dari kalangan pencinta sejarah gara-gara tampil dengan mengenakan kalung berbandul replika Rajamala.

Polsek Miri Sragen akan Siagakan Lagi Posko Penanganan Covid-19

Polsek Miri memperkirakan banyak warga Miri yang nekat mudik pada akhir tahun ini berkaca pada pengalaman Idulfitri lalu.

Sragen PPKM Level 3, Pemeriksaan Vaksinasi dan Swab Test Digencarkan

Pelaku perjalanan yang terkonfirmasi positif Covid-19 akan langsung dibawa ke tempat isolasi terpadu di Tehcnopark atau Kragilan Sragen.

3.065 Guru Honorer di Sragen Berebut 807 Formasi PPPK

Pada seleksi PPPK tahap I di Sragen hanya terisi 782 lowongan, sehingga digelar seleksi tahap II untuk mengisi 807 lowongan yang tersisa.

Solo Hari Ini: 6 Desember 2014, Berpulangnya Sang Pengusaha Sukses

Tujuh tahun lalu, tepatnya pada 6 Desember 2014, seorang pengusaha sukses asal Solo berpulang. Dia adalah Komisaris PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food, Priyo Hadi Sutanto, yang mengembuskan napas pada usia 64 tahun.

Semester Genap Dimulai 20 Desember, Siswa Karanganyar Tak Libur Nataru

Disdikbud Karanganyar memastikan pembelajaran siswa untuk semester genap dimulai 20 Desember 2021. Sistem pembelajarannya akan dilakukan secara daring alias pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Wahana Baru Wisata Batu Putih Bayat Klaten Ditarik Lagi ke Gudang

Saat ini rata-rata pengunjung Wisata Batu Putih per hari hanya 50 orang.

Jembatan Terpanjang se-Jateng untuk Mendukung Agropolitan Miri Sragen

Kehadiran jembatan penghubung dua desa terpencil di Kecamatan Miri, Sragen, bakal memudahkan mobilitas warganya yang selama ini harus melintasi wilayah Boyolali untuk bisa ke Sragen kota.

Waktu Pembangunan Fisik Jembatan Terpanjang se-Jateng Belum Pasti

Besarnya anggaran pembangunan jembatan terpanjang se-Jatenng membuat Pemkab Sragen harus mencari dukungan anggaran ke pemerintah pusat dan provinsi.

Sragen Bakal Punya Jembatan Terpanjang di Jateng, Kini Pembebasan Lahan

Pemkab Sragen akan membangun jembatan terpanjang di Jawa Tengah penghubung dua desa terpencil di Kecamatan Miri. Tahun ini baru memasuki tahap pembebasan lahan.

Ada MCK Kuno Era Mangkunagoro VII di Kestalan Solo, Begini Sejarahnya

Ponten atau MCK kuno di pinggir Kali Pepe, Kestalan, Solo, yang merupakan peninggalan era Mangkunagoro VII terlihat megah dengan arsitektur gaya Eropa.

119 ODHA Karanganyar Putus Pengobatan

Dinkes Karanganyar menyebut orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang pengobatannya belum tuntas sangat berisiko menularkan virus kepada orang lain.

LPQ Al-Amin Denokan Sukoharjo Kenalkan Lingkungan Anak lewat Outbound

Kegitan ini untuk mengenal lingkungan sekitar, meningkatkan interaksi sesama santri, dan membangun hubungan antara pendidik dan santri.