Tutup Iklan
Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di dalam gerbong kereta MRT di Jakarta, Sabtu (13/7/2019). (Antara-Wahyu Putro A)

Solopos.com, JAKARTA -- Isu keberadaan lahan Prabowo Subianto di lokasi ibu kota baru RI di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara diakui oleh Partai Gerindra. Partai pimpinan Prabowo itu mengatakan Sang Ketua Umum bersedia menyerahkan lahan miliknya di Kalimantan Timur guna membangun ibu kota baru jika memang untuk merupakan kepentingan rakyat.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Edhy Prabowo. Terkait hal itu, Edhy pun meminta agar lahan milik Prabowo di lokasi yang direncanakan menjadi ibu kota baru tersebut tak perlu dipersoalkan.

"Saya pikir kita tidak perlu berpolemik tentang itu. Bicara apapun Pak Prabowo sudah menyampaikan kepada publik, kepada kita semua, kepada seluruh rakyat Indonesia, mana kala diperlukan untuk kepentingan negara, beliau akan siap untuk memberikan apapun yang beliau miliki," kata Edhy di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (27/8/2019).

"Itu yang selama ini kita lakukan dan beliau sudah buktikan selama dari muda sampai sekarang mengabdikan untuk negara," sambungnya.

Selain Prabowo, diketahui adik kandungnya Hashim Djojohadikusomo juga tercacat memiliki lahan di antara dua lokasi pemindahan ibu kota yakni Kabupaten Kutai Kertanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara. Namun, Edhy mengaku belum tahu persis di mana lokasinya.

"Ada sebagian, kita tidak tahu detailnya di mana-mana. Peta lokasinya belum tahu Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara. Memang ada lahan kita di Penajam Paser Utara tetapi tidak tahu eksplisit spesifiknya di mana," kata Edhy dilansir Suara.com.

Sebelumnya, dalam sebuah tulisan berjudul Ibu Kota Baru yang dirilis di laman disway.id, Selasa (27/8/2019), Dahlan Iskan mengungkapkan sejarah kawasan itu. Dulunya, kata dia, kawasan itu adalah hutan yang ditebangi untuk diambil kayu-kayunya secara gelondongan.

"Ketika kawasan itu masih hutan pernah disebut sebagai kawasan emas hijau. Kayunya menghasilkan dolar tidak henti-hentinya. Kayu-kayu besar ditebang. Diekspor dalam bentuk gelondongan. Lewat teluk itu," tulis Dahlan.

Menurutnya, semula HPH kawasan itu diberikan kepada perusahaan asal Amerika Serikat, yaitu International Timber Corporation Indonesia (ITCI) yang berpusat di Oregon. Dahlan tahu karena pada dekade 1970-an dia sempat tinggal di Kaltim dan mengawali karier sebagai wartawan di sana.

"Tentu sudah tidak ada lagi hutan itu di sana. Juga tidak ada lagi ITCI. Pemilik perusahaan itu sudah bukan orang Amerika lagi. Sudah berganti orang Indonesia. Namanya Prabowo Subianto," tulis Dahlan menyebut nama Prabowo.

Avatar
Editor:
Adib M Asfar

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten