Kebakaran Hutan Merbabu wilayah Thekelan Kabupaten Semarang, Minggu (14/10/2018) sore. (Semarangpos.com-Rempala Boyolali)

Solopos.com, SEMARANG — Upaya pemadaman api yang membakar hutan di lereng Gunung Merbabu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng), kembali terkendala, Kamis (18/10/2018). Helikopter pengangkut air atau water bombing milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tak mampu melakukan pemadaman secara maksimal karena terkendala cuaca.

Kepala Balai Nasional Taman Gunung (BNTG) Merbabu, Edy Sutiyarto, mengatakan helikopter water bombing sebenarnya sudah melakukan pemadaman sebanyak satu kali pada Kamis pagi. Namun, karena cuaca di Gunung Merbabu tiba-tiba berkabut akhirnya proses pemadaman pun dihentikan.

“Tadi helikopternya juga sudah melakukan pengecekan sebanyak dua kali. Tapi, karena masih berkabut akhirnya ditunda,” ujar Edy saat dihubungi Solopos.com, Kamis.

Edy menyebutkan hingga siang tadi api yang membakar kawasan lereng Gunung Merbabu masih belum padam. Pantauannya, kepulan asap masih terlihat di kawasan Gedong-Batur dan Ngaduman-Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang, Heru Subroto, mengatakan meski helikopter water bombing tak bekerja secara optimal, pihaknya tetap melakukan pemadaman secara manual dengan bantuan para sukarelawan dan warga agar api tak meluas.

Total ada sekitar 300 personel dari instansi TNI, Polri, SAR, BPBD, dan sukarelawan yang melakukan penyekatan agar api tak meluas ke permukiman warga. Mereka melakukan pemadaman dengan menggunakan peralatan seperti sabit, parang, dan lainnya, untuk membabat ranting atau pohon agar tak terbakar.

“Ini kita masih menunggu cuaca membaik lagi. Kalau memungkinkan kita akan water bombing lagi. Tapi kalau tidak, ya dilanjut besok,” ujar Heru.

Kebakaran yang melanda hutan di lereng Gunung Merbabu di wilayah Kabupaten Semarang ini kali pertama diketahui Minggu (14/10/2018). Hingga saat ini, api tersebut belum juga padam dan menghanguskan lahan sekitar 400 hektare.

Meski demikian, baik BTNG Merbabu maupun BPBD Kabupaten Semarang belum bisa menaksir kerugian yang disebabkan kebakaran tersebut. “Kalau di kawasan konservasi kami sangat hati-hati terkait dengan taksiran kerugian, karena banyak yang jadi pertimbangan. Bukan hanya dari tegakannya [pohon yang terbakar] saja,” terang Edy.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten