Ilustrasi menghitung uang. (JIBI/Solopos/Dok.)

Kurs rupiah sudah melemah sebelum ada perang mata uang (currency war). Tak ada alasan mengikuti langkah Tiongkok mendevaluasi yuan.

Solopos.com, JAKARTA -- Nilai tukar atau kurs rupiah kian tertekan dolar AS, Rabu (12/8/2015). Pada 12.00 WIB, nilai tukar rupiah berada di level Rp13.824 per dolar Amerika Serikat, melemah dari pembukaan Rp13.689 per dolar AS. Sinyal perang mata uang (currency war) kian sulit dielakkan.

Level rupiah tersebut merupakan yang terendah dalam 17 tahun terakhir setelah sempat menyentuh level 15.000 pada 1998 lalu. Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah menjadi 13.758 per dolar AS dari perdagangan sebelumnya yang berada di level 13.541/dolar AS.

Langkah bank sentral China, yaitu People's Bank of China (POBC), yang sengaja melemahkan mata uang (devaluasi) yuan terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada lemahnya sejumlah mata uang. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara, mengatakan tak ada perang mata uang atau currency war terkait langkah pemerintah Tiongkok melalukan devaluasi yuan.

"Currency war itu menurut analisis perusahaan luar negeri. Jangan pakai istilah currency war deh. Melakukan depresiasi 1,9% karena saya selalu bilang bahwa seluruh mata uang melemah terhadap dolar AS. Dolar AS menguat terhadap seluruh mata uang," ujarnya di Jakarta, Selasa (11/8/2015) malam.

Saat ini, hanya ada dua mata uang yang tidak melemah terhadap dolar AS yakni pertama Franc dari Swiss dan Poundsterling Inggris. Mata uang yuan yang hanya mengalami sedikit pelemahan ini telah membuat barang produksi Tiongkok untuk ekspor menjadi mahal sehingga kalah dengan saingannya.

Langkah untuk melemahkan mata uang yuan dilakukan pemerintah Tiongkok untuk mempertahankan kinerja ekspornya, yang menurun drastis sebesar 8,3% (y-o-y) pada Juli 2015, atau merupakan penurunan terbesar dalam 4 bulan terakhir.

"Yuan hanya melemah sedikit sekitar 2,5% dan terkontrol. Saingan dagang Tiongkok seperti Korea dan Jepang melemahnya lebih dalam. Jepang dalam 2,5 tahun melemah lebih dari 25%, dan Korea tahun ini sudah melemah 6% bahkan lebih. Mata uang di Eropa melemah 9% hingga 12%," kata Mirza.

Terlebih lagi, saat ini pertumbuhan ekonomi China dalam tahap proses pemulihan sehingga untuk mendorong ekspor tersebut pemerintah China melebarkan currency band Yuan hanya sebesar 1,9%. Keputusan tersebut membuat sejumlah mata uang dunia seperti rupiah terdepresiasi semakin dalam.

"China lalu mengumumkan ini bahwa currency band agak dibesarkan sebesar 1,9% sehingga ada market sentiment [sentiman pasar] bahwa kemudian mata uang di negara-negara sekitarnya juga melemah," ucapnya.

Mirza menilai untuk meningkatkan daya saing ekspor Indonesia, tidak perlu ikut-ikutan melemahkan mata uang rupiah seperti yang dilakukan pemerintah China. Pasalnya, sejak awal tahun hingga Minggu I Agustus 2015, nilai tukar rupiah melemah sebesar 9,8% (y-t-d). Namun, apabila dilihat sejak 2013, rupiah sudah melemah sekitar 30%.

"Rupiah sebagai mata uang sudah undervalue di bawah 100. Jadi kebijakan depresiasi tidak perlu diikuti oleh Indonesia," tutur Mirza. Dia menegaskan kondisi pelemahan mata uang saat ini bukan merupakan perang mata uang. Sebab, perang mata uang hanya dipakai para spekulan untuk melakukan spekulasi.

"Tidak perlu khawatir ada pelemahan mata uang ini. Kami akan selalu menjaga stabilitas nilai rupiah di pasar keuangan," ujar Mirza.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten