Kurangi Plastik, Warga Boyolali Diimbau Bungkus Daging Kurban Pakai Besek

Masyarakat Boyolali diimbau mengggunakan besek (wadah dari anyaman bambu) untuk membungkus daging kurban yang akan dibagikan kepada warga sekitar.

Kurangi Plastik, Warga Boyolali Diimbau Bungkus Daging Kurban Pakai Besek

SOLOPOS.COM - Sejumlah perempuan di Desa Pentur, Simo, Boyolali, menganyam besek, Jumat (9/9/2019). (Solopos/Nadia Luftiana Mawarni)

Solopos.com, BOYOLALI — Masyarakat Boyolali diimbau mengggunakan besek (wadah dari anyaman bambu) untuk membungkus daging kurban yang akan dibagikan kepada warga sekitar.

Hal itu untuk mengurangi penggunaan plastik saat perayaan Iduladha yang pada ujungnya akan membuat sampah plastik menumpuk dan membahayakan lingkungan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali Masruri mengatakan imbauan tersebut juga ditujukan bagi warga saat memperingati perayaan HUT ke-74 RI.

“Kami mohon perhatian, dalam rangka pelaksanaan pemotongan dan pembagian hewan kurban kami imbau agar menggunakan wadah berbahan organik atau yang mudah terurai dalam tanah, misalnya besek bambu, daun jati, daun pisang dan sebagainya. Dalam rangka HUT RI kami juga mengimbau masyarakat ikut mengendalikan sampah,” ujarnya, Jumat (9/8/2019).

Imbauan tersebut juga disampaikan tertulis melalui surat edaran (SE) yang ditandatanganinya 1 Agustus 2019 lalu. SE tersebut ditujukan kepada kepala organisasi kepala daerah (OPD), camat, dan kades/lurah se-Boyolali, dan kepala sekolah.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Boyolali Ratri S. Survivalina mengatakan selain penggunaan plastik yang berlebihan akan menimbulkan masalah sampah, masyarakat juga diimbau berhati-hati dalam memilih plastik untuk membungkus daging kurban/makanan.

“Karena beberapa jenis plastik tertentu bahan kimianya bisa bermigrasi ke makanan. Apalagi plastik daur ulang,” ujarnya.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, kantong plastik yang digunakan sebagai wadah makanan berpotensi mengganggu kesehatan manusia karena racun pada kantong plastik bisa berpindah ke makanan.

Kantong plastik (dan jenis plastik lainnya) sulit terurai di tanah karena rantai karbonnya yang panjang, sehingga sulit diurai oleh mikroorganisme. Kantong plastik akan terurai ratusan hingga ribuan tahun kemudian.

Kantong plastik yang diklaim ramah lingkungan pun akan terurai lama dan tetap akan menjadi sampah. Terlebih lagi karena sifatnya yang cepat terurai menjadi mikro plastik akan lebih mudah untuk mencemari lingkungan.

Berita Terkait

Berita Terkini

Pasien Covid-19 Kini Lebih Cepat Meninggal, Ini Penyebabnya

Pasien sering terlambat dibawa ke rumah sakit hingga berujung meninggal dunia.

Serapan Anggaran Penanganan Covid-19 Plupuh dan Miri Sragen Rendah, Kenapa Ya?

Anggaran penanganan Covid-19 di dua kecamatan Sragen yakni Miri dan Plupuh, masih rendah, kurang dari 30 persen hingga awal Agustus ini.

Waduh, Tingkat Keterisian Bed RS Rujukan Covid-19 Klaten Masih Tinggi Lur!

Tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) RS rujukan Covid-19 Kabupaten Klaten hingga awal pekan ini masih tinggi.

Kena Prank Keluarga Akidi Tio, Kapolda Sumsel Memilih Berpikir Positif

Ada atau tidaknya dana Rp2 triliun tidak menyurutkan ikhtiar Polda Sumsel menanggulangi Covid-19.

Pasien Positif Corona Tanpa Gejala Sukoharjo Didorong Isolasi di 2 Tempat Ini

Pasien positif terpapar virus corona tanpa gejala atau bergejala ringan di Kabupaten Sukoharjo didorong menjalani isolasi di tempat khusus.

Ahli IPB: Harimau Tak Bisa Tularkan Corona ke Manusia

Kejadian penyakit pada hewan di berbagai belahan dunia sangat identik, yakni hewan tersebut tertular dari pemiliknya.

Pelayanan Kantor Kecamatan Jebres Solo Buka Lagi setelah Tutup karena 10 Pegawai Positif Corona

Pelayanan kantor Kecamatan Jebres, Solo, sudah kembali dibuka setelah sempat tutup beberapa hari karena sejumah pegawai terpapar Covid-19.

Kasus Covid-19 Tambah 22.404, Jateng Penyumbang Terbanyak

Dari kasus Covid-19 di Indonesia sebanyak 22.404 hari ini, Jateng berkontribusi 3.218.

Lima Makanan dan Minuman Ini Mampu Atasi Dehidrasi

Jangan abaikan rasa haus apalagi di musim kemarau, karena itu salah satu sinyal bahwa tubuh Anda sedang mengalami dehidrasi.

12 Daerah di Jawa-Bali Naik ke PPKM Level 4, Ini Daftarnya

Sebanyak 12 daerah naik ke PPKM Level 4, sembilan daerah turun ke PPKM Level 3, dan satu daerah turun ke PPKM Level 2.

Ada Buruh Kena PHK Belum Dapat Pesangon, FKSPN Karanganyar Mengadu ke DPRD 

FKSPN Karanganyar mengadu ke DPRD tentang masalah buruh berupa pesangon setelah kena PHK dan tali asih buruh meninggal yang belum dibayarkan.

Kelabui Petugas, Seorang Napi Lapas Madiun Kabur

Seorang narapidana atau napi Lapas Klas I Madiun bernama Peprianto kabur dari penjara dengan cara pura-pura ke kamar kecil untuk kencing.