Wakil Bupati Madiun, Hari Wuryanto (kanan), menerima suvenir dari Wakil Bupati Badung saat berkunjung di Pemkab Badung, Kamis (31/10/2019). (Abdul Jalil/Madiunpos.com)

Solopos.com, BADUNG -- Jumlah wisatawan mancanegara di Kabupaten Badung, Bali, pada 2019 diprediksi tidak sesuai target. Hal ini karena ada berbagai peristiwa gejolak politik, keamanan, hingga aksi demonstrasi di berbagai wilayah di Indonesia.

Menurunnya jumlah wisatawan asing ini membuat target pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Badung tahun ini menurun. Target PAD Kabupaten Badung tahun 2019 ini mencapai Rp5,3 triliun, tetapi diprediksi hanya terealisasi Rp4,9 triliun.

Hal itu diungkapkan Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa, saat menerima kunjungan dari Pemerintah Kabupaten Madiun bersama wartawan Kabupaten Madiun di ruang rapat Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung, Kamis (31/10/2019) siang.

Suiasa menyampaikan tahun ini target kunjungan wisatawan asing di Pulau Bali sebanyak 9 juta orang. Dari jumlah itu, Kabupaten Badung ditarget menarik 6 juta wisatawan asing. Namun, sampai saat ini baru sekitar 5 juta wisawatan asing yang berkunjung ke Badung.

"Enam juta orang itu hanya untuk target wisatawan asing. Kalau untuk wisatawan nusantara itu ditarget sampai 15 juta orang," kata dia.

Dia menyampaikan naik turunnya kunjungan wisatawan asing di Badung sangat dipengaruhi kondisi keamanan dan aktivitas politik secara nasional. Saat situasi keamanan negara sedang kacau dan aksi demonstrasi yang secara masif terjadi secara nasional akan berpengaruh pada kunjungan wisatawan asing.

Apalagi saat ada peristiwa terorisme, kata dia, meski kejadian itu tidak terjadi di Bali. Tetapi dampak terhadap kunjungan wisatawan sangat dirasakan sekali.

"Kejadian dan kondisi di luar Bali itu sangat berpengaruh. Seperti kondisi gejolak politik, keamanan itu sangat berpengaruh. Seperti demo di Jakarta. Teroris di mana pun itu sangat berpengaruh. Karena wisatawan asing ini sangat rentan terhadap isu-isu ini," jelasnya.

Selain persoalan keamanan negara, isu yang berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan asing di Bali yakni isu kesehatan dan bencana alam.

Saat isu-isu tersebut muncul dan terdengar oleh pemerintah negara lainnya, maka pemerintah tersebut bakal mengeluarkan travel warning bagi warganya.

"Apalagi negara seperti Tiongkok dan Jepang yang masyarakatnya sangat tergantung pada pemerintahnya. Saat pemerintah melarang, warganya ya akan mematuhi," jelas Wabup Badung.

Langkah yang diambil Pemkab Badung untuk menjaga tingkat kunjungan wisatawan asing ini dengan beragam cara. Pertama, Pemkab Badung membangun komunikasi dengan pemerintah negara yang menjadi target kunjungan wisatawan asing melalui kedutaan besarnya. Dia menyampaikan kalau memang isu atau peristiwa yang terjadi benar harus disampaikan dampaknya ke Bali hingga cakupan peristiwa itu.

Kedua, Pemkab memanfaatkan kemajuan teknologi informasi stakeholder pariwisata untuk mendapatkan klarifikasi dari sebuah peristiwa yang terjadi. Ketiga, pemkab melakukan promosi secara langsung ke negara-negara yang menjadi prioritas seperti Inggris, Tiongkok, dan lainnya.

Suiasa menyampaikan setiap tahun pihaknya melakukan promosi langsung minimal di empat negara. Salah satu negara yang rutin dikunjungi yakni Tiongkok. Ini karena melihat potensi pengunjung di negara itu yang cukup besar.

"Penduduk Tiongkok itu ada 1 miliar lebih. Kalau kita dapat 1% saja, sudah berapa juta orang bisa berkunjung ke sini," kata dia.

Selama ini, pihaknya melihat potensi pasar dari negara-negara yang berkunjung ke Badung. Saat ada negara yang tingkat kunjungannya turun, pemkab langsung menggenjot pasar di negara itu.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten